Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menerbitkan peringatan mengenai potensi lonjakan ancaman kejahatan siber yang memanfaatkan antusiasme masyarakat menjelang Piala Dunia 2026.
Para peretas terdeteksi mulai menyebarkan ratusan situs palsu yang meniru identitas Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA).
>>> Xiaomi Luncurkan Smart Band 10 Pro dan Perangkat Audio Baru Ekosistem HyperOS
Aksi ilegal tersebut dilakukan demi mengeruk keuntungan finansial dan data pribadi korban.
Turnamen akbar ini dijadwalkan berlangsung mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Modus Penipuan dan Target
Pihak berwenang mendeteksi pembuatan domain tiruan yang menyasar para calon penonton.
"Aktor ancaman siber tersebut meluncurkan domain tiruan untuk mengelabui calon penonton melalui penjualan tiket palsu, paket perjalanan fiktif, hingga portal lowongan kerja bodong seperti jobs-fifa[.
]com," tulis laporan FBI.
Otoritas keamanan AS mengidentifikasi modus operandi penipuan ini mengandalkan teknik typosquatting.
Pelaku mengubah ejaan minor pada alamat situs seperti fiffa[. ]com yang sering kali luput dari perhatian pengguna.
>>> Ramalan Zodiak Cancer, Leo, dan Virgo 29 Mei 2026: Keuangan hingga Asmara
Pelaku juga kerap memanfaatkan domain tingkat atas alternatif seperti . org, .
xyz, . live, hingga .
sale untuk meyakinkan korban.
Melalui situs-situs penyesat ini, pelaku mengumpulkan beragam data sensitif pengunjung.
Data yang dikumpulkan mulai dari nama lengkap, alamat fisik, email, nomor telepon, hingga detail kartu kredit.
Informasi berharga tersebut nantinya berpotensi disalahgunakan untuk aksi pencurian identitas, pembuatan akun keuangan ilegal, maupun skema penipuan perbankan lainnya.
Skala kampanye digital berbahaya ini turut divalidasi oleh laporan perusahaan keamanan siber Group-IB dan Bitdefender.
>>> Amazon Akuisisi Globalstar USD11,6 Miliar, Ambil Alih Saham Apple
Peneliti Group-IB berhasil membongkar operasi siber bertajuk 'Ghost Stadium' yang diduga digerakkan oleh aktor ancaman asal China dengan mengendalikan lebih dari 300 situs kloningan untuk melancarkan fraud tiket premium.
Sementara itu, Bitdefender memantau pergerakan masif iklan penipuan merchandise, platform streaming ilegal, hingga penjualan stiker koleksi palsu di berbagai negara sejak Februari lalu.
Ilan-iklan tersebut tersebar melalui platform Google Search, iklan Facebook, Telegram, dan WhatsApp.
Guna menghindari risiko kerugian materiil, FBI membagikan sejumlah langkah preventif.
Langkah tersebut seperti memasukkan alamat resmi fifa.
com secara manual pada bilah pencarian peramban dan menyimpan tautan resmi FIFA yang terverifikasi untuk akses di kemudian hari.
Masyarakat juga diimbau menghindari mengeklik tautan mencurigakan yang dikirimkan melalui pesan instan atau iklan sponsor serta tidak menginput data finansial sebelum memastikan orisinalitas situs.
>>> Little Mix Siapkan Reuni Formasi Tiga Anggota Usai Hiatus
Masyarakat yang telanjur menjadi korban diimbau segera melaporkan detail insiden, riwayat transaksi, beserta alamat domain palsu yang digunakan ke Internet Crime Complaint Center (IC3) milik FBI agar platform penipuan dapat segera ditindak.