Raksasa investasi Berkshire Hathaway mengambil langkah tidak biasa di tengah tren bursa saham Wall Street yang umumnya mengapresiasi perusahaan pemberani.
Duet investor legendaris Warren Buffett dan penerusnya, Greg Abel, justru memilih menimbun kas dalam jumlah fantastis.
>>> Polres Temanggung Selidiki Kematian Satu Keluarga Saat Berkemah di Kledung
Perusahaan tersebut menimbun uang tunai dan surat utang jangka pendek Amerika Serikat atau Treasury bills mendekati US$ 397 miliar atau setara Rp 6.400 triliun.
Gunung dana segar ini menjadi indikator kuat tingginya harga saham saat ini sekaligus bentuk kewaspadaan tim investasi dalam membaca siklus pasar.
Berkshire terpantau aktif memangkas kepemilikan saham mereka saat pasar saham sedang mengalami euforia akibat tren kecerdasan buatan (AI) dan lonjakan sektor teknologi.
Kepemilikan saham di korporasi besar seperti Apple serta Bank of America terus dikurangi secara bertahap.
Langkah pengetatan ini diambil Buffett dan Abel yang lebih mengutamakan fleksibilitas likuiditas.
Mereka enggan memaksakan diri mengejar keuntungan di tengah kondisi pasar saham yang sudah dinilai terlalu mahal atau overvalued.
Daya Tarik Surat Utang Pemerintah Amerika Serikat
Memegang uang tunai kini kembali menjadi strategi yang menguntungkan bagi korporasi besar.
Kebijakan ini didukung oleh tingkat imbal hasil atau yield obligasi jangka pendek pemerintah Amerika Serikat yang masih bertahan stabil pada kisaran 4% hingga 5%.
>>> PT Samindo Resources Tbk Bagikan Dividen Tunai US$ 8 Juta
Melalui instrumen Treasury bills tersebut, Berkshire mampu mendulang pendapatan dalam jumlah besar yang stabil dengan risiko minimal.
Pilihan investasi ini memberikan ruang bagi manajemen untuk tetap sabar menunggu momentum yang tepat tanpa terpapar fluktuasi tajam bursa saham.
Strategi menahan diri ini bukan pertama kalinya diterapkan oleh Warren Buffett.
Pendiri Berkshire ini telah melewati berbagai siklus pasar dan sukses berkat kesabarannya menghadapi gelombang spekulasi masa lalu, termasuk gelembung dot-com pada tahun 2000 dan krisis properti subprime mortgage pada 2008.
Antusiasme pasar terhadap sektor AI saat ini memicu dejavu yang mirip dengan situasi krisis masa lalu.
Di sisi lain, dengan valuasi Berkshire yang kini mendekati US$ 1 triliun, mereka membutuhkan kesepakatan bisnis bernilai raksasa untuk bisa menggerakkan roda keuntungan perusahaan secara signifikan.
Spekulasi pasar mengenai apakah Greg Abel akan langsung membelanjakan kas jumbo tersebut setelah mengambil alih peran CEO kini terjawab.
>>> Depresiasi Rupiah Tekan Arus Kas Pelaku Usaha Nasional
Strategi pengelolaan Abel pada kuartal pertama kinerjanya terbukti sangat identik dengan gaya investasi Buffett.
Berkshire tetap konsisten menjual lebih banyak saham dibandingkan dengan jumlah yang mereka beli.
Selain itu, aksi pembelian kembali saham atau buyback internal perusahaan juga tetap ditekan seminimal mungkin oleh manajemen baru.
Sikap ekstra hati-hati yang ditunjukkan Berkshire ini tidak luput dari kritik para pelaku pasar modal.
Banyak pihak menilai perusahaan telah melewatkan keuntungan masif atau opportunity cost dari reli hebat indeks S&P 500 serta saham teknologi sepanjang tahun 2024 hingga 2025.
Namun, rekam jejak sejarah mencatat bahwa Buffett selalu berhasil melakukan kesepakatan investasi terbaiknya saat pasar sedang dilanda kepanikan hebat.
Ketika krisis finansial global terjadi, Berkshire hadir menjadi penyelamat likuiditas bagi perusahaan besar yang nyaris kolaps dan menghasilkan keuntungan jangka panjang yang luar biasa.
Tumpukan dana segar senilai US$ 397 miliar ini berfungsi sebagai tombol jeda di tengah optimisme buta pasar modal.
>>> Toyota Luncurkan Hilux Generasi Terbaru dengan Desain Cyber SUMO
Berkshire kini telah bersiap dengan amunisi likuiditas melimpah untuk memborong saham berkualitas dengan harga diskon saat badai volatilitas kembali menerjang.