Mengasuh anak dengan sensitivitas tinggi seringkali menguras energi orang tua. Fenomena anak yang sangat perasa kini banyak dibahas dalam edukasi pola asuh di media sosial.
Kepribadian sangat perasa membuat anak rentan menangis tiba-tiba, mudah tersinggung, hingga tidak nyaman pada situasi tertentu. Orang tua perlu mengenali karakteristik ini untuk memberikan dukungan emosional yang tepat.
>>> Bioskop Cinema XXI di Malang Ubah Jam Tayang Sejumlah Film
Menurut psikolog klinis Dr. Becky Kennedy, anak yang sangat perasa memiliki emosi jauh lebih intens dibandingkan teman seusianya.
Mereka cenderung melibatkan perasaan mendalam saat merespons sesuatu.
"Anak dengan karakteristik ini akan merasakan sesuatu secara mendalam dan sering bereaksi secara intens terhadap suatu situasi.
Tak jarang, respons mereka terlihat berlebihan bagi orang-orang di sekitarnya," kata Dr. Becky.
Dr. Becky menambahkan bahwa anak tersebut kerap mengandalkan naluri dalam membaca situasi lingkungan. Kepekaan tinggi ini memengaruhi cara mereka mengekspresikan diri dan mengelola emosi sehari-hari.
"Anak juga sangat peka dengan lingkungan sekitar dan sering memperhatikan hal-hal yang sering diabaikan orang lain. Kepekaan ini bukanlah kekurangan, melainkan cara yang berbeda dalam mengenal dunia," tuturnya.
Kondisi sensitif ini membuat anak mudah menyerap suasana di sekitarnya. Akibatnya, mereka sering menunjukkan reaksi tidak biasa terhadap hal-hal yang dianggap sepele oleh orang lain.
>>> Warga Bogor Jaga Sapi Kurban Prabowo dan Sewa Jagal Profesional
Dr. Becky menegaskan bahwa sifat sangat perasa tidak bisa disamakan dengan gangguan perkembangan saraf seperti ADHD atau ASD.
Orang tua perlu memahami ciri-cirinya agar tidak salah dalam memahami kondisi anak.
Ciri-Ciri Anak Sangat Perasa
Pertama, anak memiliki emosi yang jauh lebih intens. Mereka mudah merasa gembira, sedih, atau marah dalam waktu cepat.
Kedua, mereka sangat sensitif terhadap lingkungan sekitar. Hal ini membuat mereka mudah kewalahan oleh banyaknya emosi yang terserap.
Ketiga, anak sering memunculkan rasa takut ditinggalkan. Luapan emosi berlebih membuat mereka sulit berpikir jernih.
Keempat, ketergantungan tinggi pada pengasuh yang dianggap mampu memberikan rasa aman.
Kelima, anak sangat sulit menerima perubahan dan cenderung cemas saat menghadapi situasi baru.
>>> Michael Olise Picu Kontroversi Usai Abaikan Ronaldo dan Tak Tahu Pemain Terbaik Brasil
Keenam, mereka kerap memberikan reaksi berlebihan atau meledakkan emosi yang selama ini terpendam.
Terakhir, anak memiliki tingkat kesadaran diri yang terlalu cepat. Mereka sering berpikir berlebihan terhadap respons orang lain, merenung terlalu dalam, hingga menyalahkan kemampuan diri sendiri.
Metode Menghadapi Anak Sensitif
Dr. Becky membagikan beberapa metode yang bisa diterapkan orang tua. Langkah pertama adalah memanfaatkan komunikasi non-verbal yang menyenangkan untuk mengurangi tekanan saat emosi anak memuncak.
Kedua, orang tua disarankan menghindari topik pembicaraan yang membuat anak tertekan. Percakapan sebaiknya diarahkan dengan pembawaan santai dan terbuka agar anak merasa aman.
Ketiga, berikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosinya. Jangan memaksakan mereka bercerita sebelum siap, cukup pastikan orang tua selalu hadir mendampingi.
Keempat, lakukan validasi terhadap emosi anak dengan memahami dan mengakui perasaan mereka. Orang tua dilarang langsung menyanggah atau menentang agar anak tidak merasa diabaikan.
Kelima, tunjukkan dukungan yang konsisten dalam segala situasi, baik saat anak senang maupun saat menghadapi masa sulit.
>>> Presiden Prabowo Kunjungi Prancis, Diaspora Harap Perkuat Bisnis dan Pendidikan
Keenam, normalisasi perasaan anak agar mereka paham bahwa emosi tersebut adalah bagian unik dari diri mereka.