Film terbaru sutradara prolifik Herman Yau, We're Nothing at All, merupakan drama Hong Kong ambisius yang terasa seperti gabungan canggung dari karya-karya sebelumnya.
Film ini dibuka dengan ledakan bus pada hari Valentine yang tragis, mengungkap jalinan kehidupan para korban.
>>> SolarSquare Negosiasikan Pendanaan Baru, Valuasi Bisa Capai $500 Juta
Investigasi dipimpin oleh Lung, ahli forensik yang diperankan Patrick Tam, yang mengumpulkan petunjuk melalui pemeriksaan jenazah dan rekaman CCTV.
Kilas balik memperkenalkan pasangan kekasih Fai dan Ike, diperankan oleh bintang pop Anson Kong dan Ansonbean, yang keintimannya digambarkan dalam nuansa emas hangat.
Kontras visual antara kilas balik hangat dan lingkungan prosedural yang steril menciptakan perpaduan menarik namun justru membuat narasi terasa tegang dan disorientasi tonal.
>>> Upstart Holdings Tunjuk Tim Wennes sebagai Anggota Dewan Direksi
Komentar Sosial dan Pengembangan Karakter
Yau menyelipkan komentar politik halus ke dalam kerangka mainstream, termasuk adegan singkat seorang pria marah pada pidato pejabat pemerintah yang menggemakan protes Hong Kong 2019-2020.
Namun, film ini gagal dalam penggambaran karakter gay. Kehidupan queer direduksi menjadi stereotip sederhana: pekerja seks mulia, korban trauma, dan remaja bunuh diri.
>>> Video Motor BTS Jungkook Raih 23,7 Juta Tontonan dalam Sembilan Jam
Karakter-karakter ini tidak memiliki kehidupan batin yang autentik, hanya berfungsi sebagai kanvas kosong untuk gejolak sosial.
Akibatnya, upaya film untuk menyoroti diskriminasi yang berlangsung terasa tidak peka.
We're Nothing at All paling cocok untuk penggemar setia filmografi Herman Yau yang penasaran dengan eksperimen naratifnya.
>>> Pria 66 Tahun Hadapi Kebangkrutan Setelah AI Hapus Pendapatan Bisnis IT
Namun, karena penulisan karakter yang tipis dan perubahan tonal yang mengganggu, film ini sulit direkomendasikan sebagai drama yang kohesif atau berdampak.