Seorang pembaca menceritakan pengalamannya dengan teman baru di kantor yang kerap bercerita tentang kejadian dramatis, termasuk dugaan kanker.
Ia merasa harus percaya, namun instingnya mengatakan cerita itu berlebihan.
>>> Ikatan Tak Terduga: Persahabatan Sejati Lahir Saat Paling Dibutuhkan
Ia pernah mengalami situasi serupa di masa lalu ketika seorang teman universitas berbohong tentang kanker. Pengalaman itu meninggalkan luka dan membuatnya sulit mempercayai orang lain.
Perspektif Psikolog
Psikolog dan psikoanalis Prof Alessandra Lemma menilai masalah utama bukanlah apakah teman itu berbohong, melainkan posisi emosional yang dialami pembaca.
Lemma mengatakan pembaca tidak melihat teman barunya secara netral, tetapi melalui bayang-bayang hubungan sebelumnya.
>>> Kevin O'Leary Dorong Pengesahan Clarity Act untuk Adopsi Kripto
Lemma juga mencatat bahwa pembaca tampak terjebak di antara dua posisi kaku: percaya sepenuhnya atau menjadi orang yang kejam.
Ketidakpastian terasa sulit ditoleransi.
Pembaca merasa harus memutuskan secara moral sebelum bisa tenang. Namun, Lemma menekankan bahwa tidak perlu memutuskan secara definitif.
>>> Hidup dengan Nasihat Tak Sempurna dari Ayah yang Telah Tiada
Menanggapi dengan Bijak
Lemma menyarankan untuk tidak menjadi detektif. Cukup berikan respons simpati manusiawi seperti "Kedengarannya berat" tanpa harus memutuskan kebenaran setiap detail.
Penting untuk memiliki batasan. Lemma menyarankan untuk menoleransi ketidakpastian, tidak mudah percaya maupun menghukum.
Pertanyaan yang lebih berguna adalah: mengapa saya merasa terdorong untuk memutuskan?
>>> Body Neutrality: Menggeser Fokus dari Penampilan ke Fungsi Tubuh
Kebenaran mungkin terletak pada penderitaan yang ditunjukkan oleh kebohongan itu, bukan pada detail faktanya.
