⌂ Home › News › Madani Film Festival 2026 Usung Rimpang, Cholil Mahmud hingga Mambesak
News

Madani Film Festival 2026 Usung Rimpang, Cholil Mahmud hingga Mambesak

Suasana Madani Film Festival 2026 bertema Rimpang
Madani Film Festival 2026 Usung Rimpang, Cholil Mahmud hingga Mambesak
A A Text Size16px

Madani Film Festival 2026 kembali digelar dengan tema RIMPANG.

Festival ini tidak sekadar menjadi ruang pemutaran film, tetapi juga titik temu film, musik, sastra, dan pertunjukan seni.

Konsep tersebut dirancang agar festival menjadi wadah interaktif bagi berbagai ekspresi seni dan pergerakan komunitas.

Vokalis dan musisi Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, dipercaya sebagai co-programmer tahun ini. Ia menyebut rangkaian program disusun dari semangat warga dalam bertahan hidup dan berkarya.

Menurut Cholil, keterlibatan itu menjadi pengalaman bermakna bagi dirinya dan grup musiknya.

"Kami merasa terhormat terlibat sebagai co-programmer, karena tema RIMPANG memiliki kedekatan dengan album keempat kami dan semangat berkarya," katanya dalam konferensi pers di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin, 5 Oktober 2026.

Ia menambahkan bahwa setelah berdiskusi, mereka merasa mampu menjadi co-programmer di bidang yang dipahami sekaligus memperkaya program festival.

Filosofi rimpang menggambarkan jejaring akar kecil yang terus tumbuh, saling terhubung, dan melahirkan gerakan baru melalui daya upaya masyarakat bawah.

Semangat solidaritas itu diterjemahkan secara visual dan audio melalui kurasi film serta pertunjukan yang berkaitan dengan musik, kebudayaan, dan daya tahan hidup komunitas.

Kurasi program dirancang untuk memperkaya sudut pandang penonton. Pemirsa diajak menyaksikan persilangan narasi sinematik, keanekaragaman nada, dan kisah nyata keberlangsungan hidup warga di berbagai daerah.

"Kami mencoba melihat gejala warga yang bertahan hidup, melawan keadaan, lalu menemukan cara baru mengembangkan karya mereka sendiri," ucap Cholil.

Mambesak dan Film Muman Minggil

Salah satu sajian utama festival adalah pemutaran film Muman Minggil. Film ini memotret perjalanan Mambesak, kolektif musik asal Papua yang tumbuh sejak dekade 1980-an.

Berawal dari pertemuan rutin dan proses rekaman sederhana, Mambesak konsisten menyiarkan karya melalui stasiun radio lokal hingga membangun basis pendengar yang loyal.

Kisah sejarah dan perjuangan Mambesak dinilai penting untuk digaungkan ke khalayak lebih luas.

Melalui lagu dan musik, kolektif itu merawat identitas, bahasa, serta tradisi Papua agar tidak tergerus zaman.

Penayangan film juga diperkuat aksi panggung seniman Papua yang akan membawakan kembali lagu-lagu warisan Mambesak secara langsung.

"Kami berharap Muman Minggil memperkenalkan Mambesak lebih luas, sekaligus mengajak teman-teman Papua menghayati kembali lagu-lagu mereka dalam festival," ujarnya.

Ia menyebut ingin menghadirkan musik yang berangkat dari karya Imam Besar, kemudian diolah kembali untuk diputar pada 8 Oktober.

Rangkaian acara co-programming yang dikurasi Cholil bersama tim dijadwalkan berlangsung 8 hingga 10 Oktober.

Penonton dapat menikmati pembacaan novel dan cerita pendek, pemutaran film selektif, hingga panggung musik eksperimental.

Pada 9 Oktober, festival menyoroti karya sinema berlatar budaya Sunda serta pemutaran film eksperimental bertema noise.

Hal ini mempertegas komitmen Madani Film Festival dalam merayakan keberagaman dan kolaborasi lintas disiplin.

About the Author
Anna Suleta

Anna Suleta

🔗 Related Post
📰 Latest Updates