Pemilihan media filter dalam sistem pengolahan air tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat harga, ukuran tabung, atau tampilan fisik air.
Ada sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan agar proses filtrasi berjalan sesuai kebutuhan.
Sistem pengolahan air digunakan di berbagai sektor, mulai dari rumah tangga, fasilitas komersial, hingga industri.
Filtrasi menjadi salah satu tahapan umum dengan memanfaatkan media seperti pasir silika, karbon aktif, zeolit, dan material lainnya.
Tim Teknis PT Sibara Bestari Indonesia, Agus Ruswandi, menekankan bahwa pemilihan media filter sebaiknya dimulai dari pemahaman kondisi air yang akan diolah.
"Yang perlu dilihat terlebih dahulu adalah kondisi air dan parameter yang ingin ditangani. Dari situ baru dapat ditentukan proses serta media yang sesuai," ujar Agus dalam keterangan tertulis.
Kondisi Air Jadi Dasar Utama
Menurut Agus, kondisi air secara visual belum cukup untuk menentukan jenis media yang tepat. Air yang tampak jernih belum tentu memiliki karakteristik sama dengan sumber air lainnya.
Begitu pula air yang terlihat keruh dapat disebabkan oleh parameter yang berbeda.
Beberapa parameter seperti kekeruhan, warna, bau, serta kandungan besi dan mangan dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan metode pengolahan.
"Air yang terlihat sama secara visual belum tentu mempunyai parameter yang sama. Karena itu, keputusan memilih media sebaiknya tidak hanya berdasarkan kondisi yang terlihat oleh mata," kata Agus.
Dengan demikian, karakteristik air, parameter yang hendak ditangani, fungsi media, hingga desain sistem menjadi faktor yang saling terkait.
Pemilihan media filter pun perlu dilakukan secara cermat, bukan sekadar mengandalkan penilaian visual atau harga.

