⌂ Home News Pakar Pendidikan Kritik Instruksi Prabowo Wajibkan Bahasa Prancis di Sekolah
News

Pakar Pendidikan Kritik Instruksi Prabowo Wajibkan Bahasa Prancis di Sekolah

Pakar pendidikan mengkritik instruksi Presiden Prabowo mewajibkan bahasa Prancis di sekolah
Pakar pendidikan mengkritik instruksi Presiden Prabowo mewajibkan bahasa Prancis di sekolah
A A Text Size16px

Instruksi Presiden Prabowo Subianto yang mewajibkan pengajaran bahasa Prancis di seluruh jenjang sekolah mendapat kritik dari pakar pendidikan.

Kebijakan itu dinilai belum mendesak di tengah banyaknya persoalan mendasar kurikulum nasional.

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, Ubaid Matraji, menyoroti kebijakan tersebut. Ia mendorong pemerintah memprioritaskan pembenahan literasi dan numerasi siswa yang masih rendah serta perbaikan infrastruktur sekolah.

"Di saat rapor literasi dan numerasi siswa kita masih merah, serta ribuan sekolah rusak belum diperbaiki, instruksi untuk mewajibkan atau memprioritaskan Bahasa Prancis terkesan seperti kebijakan yang kehilangan arah dan tidak menginjak bumi," kata Ubaid.

Ubaid menambahkan bahwa kurikulum nasional saat ini lebih membutuhkan penguatan pada materi membaca, matematika dasar, dan sains. Ia juga mempertanyakan relevansi penambahan bahasa asing baru di kawasan Asia-Pasifik.

"Menjejalkan bahasa asing baru yang secara geopolitik dan ekonomi global hari ini bukan merupakan lingua franca utama di kawasan Asia-Pasifik adalah langkah yang melompati urgensi nasional," ujarnya.

Tanggapan Pakar Lain

Pakar pendidikan Ina Liem menilai penguasaan bahasa asing secara umum positif untuk membuka peluang global. Namun, ia mengingatkan dampak buruk wacana yang tidak terealisasi terhadap kepercayaan publik.

"Ketika sebuah pernyataan disampaikan oleh Presiden, publik menganggap itu arah kebijakan negara.

Kalau berulang kali muncul wacana yang tidak realistis untuk dieksekusi, lama-lama kepercayaan publik bisa berkurang," kata Ina.

Ina menyebut tantangan utama pendidikan Indonesia meliputi kekurangan guru di daerah, ketimpangan kualitas, dan kemampuan bahasa Inggris yang masih lemah.

Ia menyarankan bahasa asing dijadikan mata pelajaran pilihan, bukan kewajiban nasional.

"Bahasa Prancis, Bahasa Jerman, Bahasa Jepang, Bahasa Mandarin, Bahasa Arab, atau bahasa asing lainnya sebaiknya diperluas sebagai pilihan, bukan menjadi kewajiban nasional," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo mengumumkan instruksi tersebut di sela pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Hubungan kerja sama pertahanan, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang sudah berjalan baik menjadi alasan perluasan ke bidang pendidikan.

"Sekarang saya sudah menginstruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Prancis, melihat perkembangan dunia ke depan," ujar Prabowo.

About the Author
📰 Latest Updates