Menteri Agama Nasaruddin Umar akhirnya buka suara terkait polemik penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pengadaan hewan kurban Presiden Prabowo Subianto.
Sebanyak 1.000 lebih hewan kurban disalurkan pada Kamis (28/5/2026). Langkah ini memicu perhatian publik dan pertanyaan soal akuntabilitas.
Menag Nasaruddin tidak memberikan pernyataan gamblang mengenai polemik anggaran tersebut. Namun, ia menegaskan esensi utama ibadah kurban adalah menghadirkan kebahagiaan dan menjamin kecukupan pangan masyarakat.
"Iya, jadi saya kira kemarin kita juga sudah jelaskan bahwa Bapak Presiden itu juga sudah kita terima hewan kurbannya di Istiqlal.
Ya, kalau Bapak Presiden mau memberikan ke tempat lain itu enggak ada masalah," ujar Nasaruddin di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Pemerintah menilai penyisihan anggaran ini merupakan bagian dari program intervensi ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan. Sasaran utamanya adalah wilayah yang membutuhkan.
"Kurban itu bukan hanya untuk umat Islam loh, ya. Tetapi siapa pun yang kelaparan, siapa pun yang membutuhkan," pungkas Nasaruddin.
Penyaluran hewan kurban oleh kepala negara melalui bantuan presiden sebenarnya merupakan tradisi tahunan di Indonesia. Ini menjadi bentuk bantuan sosial keagamaan dari pemerintah untuk masyarakat di berbagai daerah.
