Artificial intelligence (AI) mempercepat penipuan keuangan dengan menurunkan hambatan teknis bagi pelaku kejahatan. Hal ini diungkap dalam laporan Visa Spring 2026 Biannual Threats Report.
Perusahaan jasa keuangan itu mengidentifikasi hampir $1 miliar aktivitas scam pada semester kedua 2025. Pelaku kejahatan kini memanfaatkan sistem otomatis untuk mengeksploitasi kerentanan manusia.
Modus Penipuan Berbasis AI
Paul Fabara, chief risk and client services officer di Visa, mengatakan ancaman berkembang lebih cepat dari sebelumnya.
Teknologi AI mengubah penipuan modern melalui kloning suara, video deepfake, dan kampanye phishing yang sangat personal.
“Kloning suara menjadi perkembangan yang sangat mengkhawatirkan.
Penjahat dapat meniru suara seseorang hanya dengan sampel audio pendek, membuat panggilan scam lebih meyakinkan dan emosional,” ujar Fabara.
Alat otomatis memungkinkan penjahat mengubah skala operasi dengan cepat. Kampanye phishing tradisional yang luas kini bisa diarahkan secara lokal.
“Kami juga melihat peningkatan penggunaan video deepfake, interaksi palsu layanan pelanggan, dan kampanye phishing yang memanfaatkan data publik untuk membangun kepercayaan,” tambah Fabara.
Michael Jabbara, SVP of payment ecosystem risk and control di Visa, menyatakan adopsi AI secara fundamental menurunkan hambatan masuk bagi penipu.
“Apa yang dulu membutuhkan keterampilan teknis mendalam kini bisa dilakukan dengan sebuah perintah,” katanya.
