⌂ Beranda News Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Mulai Bergerak ke Tren Positif

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Mulai Bergerak ke Tren Positif

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Mulai Bergerak ke Tren Positif
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan tren positif
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah secara perlahan mulai bergerak ke tren positif.

Hal ini didorong oleh kombinasi meredanya tekanan ekonomi global dan upaya pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan nilai tukar.

>>> Investor Asing Lepas Saham BUMI Rp 335,5 Miliar saat IHSG Melonjak

Pada perdagangan Senin sore (15/6/2026), rupiah ditutup menguat tajam 151 poin terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke level Rp17.708.

Sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp17.860.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan penguatan rupiah tidak bisa dilihat sebagai hasil tunggal prospek damai AS–Iran.

Prospek damai memang menjadi katalis besar karena pasar memangkas premi risiko geopolitik, menurunkan harga minyak, dan meningkatkan minat terhadap aset berisiko di Asia.

Indonesia memperoleh manfaat lebih besar karena rupiah sangat sensitif terhadap harga minyak, kebutuhan valas impor energi, dan persepsi risiko eksternal.

Namun, faktor domestik juga berperan kuat.

>>> Harga Emas Digital 16 Juni 2026 Bergerak Variatif, Dipicu Pasar Global

Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) ke 5,5%, memperkuat operasi stabilisasi rupiah, dan menjaga daya tarik instrumen rupiah.

Pemerintah juga menjaga pasar Surat Berharga Negara (SBN) melalui narasi stabilisasi obligasi.

“Penguatan rupiah lebih tepat dibaca sebagai hasil gabungan antara penurunan risiko geopolitik, koreksi harga minyak, stabilisasi BI, perbaikan pasar obligasi, dan bargain hunting saham domestik,” ujar Syafruddin pada Selasa (16/6/2026).

Dengan pergerakan rupiah saat ini, BI tidak perlu menaikkan suku bunga secara otomatis dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan ini.

Rupiah sudah menguat, Non-Deliverable Forward (NDF) jangka pendek membaik, volatilitas mulai turun, yield SBN 10 tahun turun ke bawah 7%, dan harga minyak terkoreksi tajam.

>>> Argentina Hadapi Aljazair pada Laga Pembuka Piala Dunia 2026

“Kondisi ini memberi ruang bagi BI untuk menahan BI Rate di 5,5% sambil mempertahankan komunikasi yang tegas,” kata Syafruddin.

Jika BI menaikkan suku bunga tambahan terlalu cepat, dampak negatif akan terasa pada pertumbuhan kredit, konsumsi, dan ekspektasi pertumbuhan.

Namun, BI juga tidak boleh memberi sinyal longgar karena masih ada kemungkinan rupiah melemah hingga Rp18 ribu per dolar AS.

Nilai premi risiko investasi (credit default swap) belum kembali ke zona rendah, dan harga emas masih naik sebagai tanda pasar global tetap mencari perlindungan.

Pilihan paling logis adalah menahan suku bunga dengan bias stabilisasi yang kuat.

BI harus memastikan kesiapan intervensi valas, menjaga daya tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), mengelola likuiditas, dan membuka opsi kenaikan lanjutan hanya jika rupiah kembali menembus 17.900–18.000 per dolar AS atau harga minyak melonjak tajam.

>>> PT Niramas Utama Tbk Tawarkan Saham IPO Maksimal Rp1.120

“Dengan strategi itu, BI menjaga kredibilitas tanpa membebani ekonomi secara berlebihan,” terang Syafruddin.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru