Perusahaan investasi global BlackRock mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 1 persen dari total karyawannya di seluruh dunia.
Kebijakan ini berdampak pada pengurangan sekitar 200 orang pekerja.
>>> AS Tawarkan Dana Rekonstruksi Rp 5 Kuadriliun kepada Iran
Langkah pemangkasan tersebut merupakan bagian dari strategi penyelarasan rutin yang diterapkan oleh CEO BlackRock, Larry Fink. Manajemen menyebut keputusan ini sebagai disiplin biasa dari organisasi yang terus berkembang.
PHK Ketiga dalam 18 Bulan
Pemberhentian tenaga kerja ini tercatat sebagai keputusan efisiensi ketiga yang diambil manajemen dalam kurun waktu 18 bulan terakhir.
Sebelumnya, BlackRock juga melakukan dua gelombang PHK besar pada tahun 2025, masing-masing mengeliminasi sekitar 1 persen dari total pegawai.
>>> Hyperice Buka Experience Center Pertama di Indonesia untuk Pemulihan Pelari
Kendati tengah melakukan pengurangan staf, perusahaan manajer aset ini telah menuntaskan beberapa agenda akuisisi.
Pihak korporasi bahkan kembali membuka lowongan untuk sejumlah posisi strategis, seperti manajer investasi, bagian operasional, dan sektor teknologi.
Ekspansi juga menyasar divisi pembiayaan perusahaan swasta, menyusul pembelian HPS Investment Partners senilai US$ 12 miliar pada tahun lalu.
>>> Badan Gizi Nasional Larang Pegawai Pengambil Kebijakan Miliki Dapur MBG
Akuisisi tersebut menjadi transaksi terbesar yang pernah dilakukan perusahaan di sektor kredit swasta.
Manajemen BlackRock menegaskan tetap melakukan evaluasi berkala terhadap struktur pegawai di semua lini operasi. Langkah peninjauan internal ini bertujuan untuk mempertahankan kualitas layanan optimal bagi klien.
Sebagai informasi, BlackRock kembali menggulirkan program PHK pada tahun 2023 setelah sempat membekukan kebijakan tersebut selama pandemi.
>>> Harga Emas di Pegadaian Melonjak Serempak pada 16 Juni 2026
Perusahaan dengan nilai aset kelolaan mencapai US$ 14 triliun ini terus menyesuaikan organisasi seiring pertumbuhan bisnis.
