⌂ Beranda News Mengenal Enuresis: Kondisi Anak Usia Lima Tahun yang Masih Mengompol

Mengenal Enuresis: Kondisi Anak Usia Lima Tahun yang Masih Mengompol

Mengenal Enuresis: Kondisi Anak Usia Lima Tahun yang Masih Mengompol
Anak tidur dengan kasur basah akibat enuresis
A A Ukuran Teks16px

Kemampuan menahan buang air kecil saat tidur malam umumnya dimiliki anak sejak usia dua atau tiga tahun.

Namun, sebagian anak tetap tidak bisa mengontrol kandung kemih meski sudah berusia lima tahun.

>>> Harga Emas Antam 16 Juni 2026 Kokoh di Rp 2.729.000, Berpotensi Tembus Rp 3 Juta

Batas usia maksimal seorang anak dianggap mampu mengendalikan keinginan berkemih di malam hari adalah lima tahun.

Jika kebiasaan mengompol terus berlanjut melewati usia ini, anak dikategorikan mengalami masalah kesehatan tertentu.

Kondisi anak yang masih mengompol spontan saat tidur di usia lima tahun ke atas disebut enuresis.

Istilah medis ini merujuk pada ketidakmampuan tidak disadari untuk menahan kencing pada waktu tidur malam.

Jenis dan Penyebab Enuresis

Gangguan enuresis nokturnal ini dikelompokkan menjadi dua jenis utama oleh para ahli medis. Kedua jenis tersebut adalah monosymptomatic dan non-monosymptomatic.

Pada tipe monosymptomatic, anak hanya mengompol saat terlelap dan tidak pernah mengompol saat terjaga. Sebaliknya, jenis non-monosymptomatic ditandai dengan mengompol saat terjaga atau disertai keluhan saluran kemih lainnya.

Munculnya gangguan ini dipicu oleh beberapa faktor biologis dan psikologis yang bervariasi pada setiap anak.

Dikutip dari Health Link British Columbia, salah satu pemicunya adalah keterlambatan perkembangan sistem saraf.

Sistem saraf yang belum matang membuat anak kesulitan mengenali sinyal kandung kemih yang sudah penuh.

>>> Pemerintah Kumpulkan Rp23,5 Triliun dari Pajak Ekstensifikasi per Mei 2026

Selain itu, ukuran kandung kemih yang relatif kecil juga membuat daya tampung urine menjadi sangat terbatas.

Faktor hormon turut memengaruhi terjadinya gangguan tidur ini pada anak-anak. Tubuh idealnya memproduksi hormon antidiuretik lebih banyak pada malam hari untuk menekan produksi urine di ginjal.

Sebagian anak tidak memproduksi hormon antidiuretik dalam jumlah yang cukup saat malam hari. Akibatnya, volume urine tetap tinggi selama mereka tertidur lelap.

Kondisi tidur yang terlalu nyenyak juga membuat anak gagal terbangun meski kandung kemihnya sudah penuh.

Di samping masalah fisik, tekanan emosional dan stres sosial seperti kehadiran saudara baru bisa memicu kebiasaan ini.

Gejala enuresis yang patut diwaspadai adalah frekuensi mengompol yang terlampau sering. Masalah ini dinilai intens jika terjadi hampir setiap malam dalam kurun waktu satu minggu.

"Perlu diwaspadai juga ketika anak mengalami enuresis non-monosymptomatic.

Jadi, anak tidak hanya mengalami masalah mengompol, namun juga masalah berkemih di siang hari," ungkap dr. Irfan kepada HaiBunda beberapa waktu lalu.

Penanganan dan Pencegahan

Metode penanganan medis untuk mengatasi enuresis disesuaikan dengan faktor utama penyebabnya. Berdasarkan data Cleveland Clinic, pengobatan bisa berupa terapi perilaku menggunakan alarm khusus tidur.

Dokter juga dapat merekomendasikan obat pencegah produksi urine malam hari atau mengatasi penyakit dasar yang memicu ngompol.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru