PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) membidik potensi pasar dari segmen lanjut usia (lansia) yang diperkirakan mencapai Rp 500 triliun hingga Rp 700 triliun pada tahun 2045.
Lonjakan ini dipicu oleh pergeseran demografi menuju era Indonesia Emas 2045.
>>> Justin Hubner dan Jennifer Coppen Resmi Menikah di Bali
Jumlah populasi lansia di Indonesia diproyeksikan melonjak hingga 20% dari total penduduk pada 2045, naik signifikan dibandingkan proporsi 12% pada 2026.
Strategi Silver Economy Blueprint
Untuk menangkap peluang tersebut, Kimia Farma menerapkan strategi Silver Economy Blueprint melalui pembangunan ekosistem Healthy Ageing yang terintegrasi.
Direktur Komersial Kimia Farma, Hanadi Setiarto, menjelaskan bahwa kelompok lansia saat ini menyerap sekitar 30% hingga 40% dari total anggaran belanja kesehatan nasional.
Nilai tersebut setara dengan Rp 190 triliun hingga Rp 260 triliun per tahun.
Tingkat konsumsi layanan kesehatan kelompok lansia mencapai 3 hingga 5 kali lipat lebih tinggi daripada kelompok usia lainnya.
Sekitar 70% kondisi kesehatan lansia didominasi oleh penyakit kronis.
>>> Bigetron by Vitality Cetak Sejarah Usai Juarai MPL ID S17
KAEF memperkirakan pasar produk obat-obatan farmasi mampu menguasai 30% dari total peluang bisnis silver economy.
Korporasi kemudian mengarahkan fokus bisnis pada penyediaan layanan pencegahan serta rehabilitatif. Layanan integratif ini diproyeksikan menguasai 70% dari nilai pasar masa depan.
Ekosistem kesehatan ini menyasar sektor Home Care & Long-Term Care sebesar 20%, Chronic Care Management 20%, Wellness & Preventive 15%, dan layanan diagnostik 15%.
Operasional layanan Preventive & Personalized Care dikelola oleh PT Kimia Farma Diagnostika (KFD).
Bentuk pelayanan langsung untuk pasien lansia disediakan melalui program homecare yang mencakup Home Lab, Home Pharmacy, dan Home Nurse.
>>> Prancis Waspadai Rekor Buruk Lawan Tim Afrika Jelang Hadapi Senegal
Sistem ini dioptimalkan untuk manajemen perawatan penyakit kronis jangka panjang, terutama diabetes dan hipertensi.
“Tidak ada sistem kesehatan yang mampu menghadapi ageing population tanpa kolaborasi lintas sektor.
Kimia Farma tidak hanya menyediakan produk dan layanan kesehatan, tetapi juga membangun infrastruktur nasional untuk mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045,” kata Hanadi dalam keterangan tertulis, Selasa (16/6/2026).
Meski potensinya besar, pembangunan ekosistem Healthy Ageing masih menghadapi hambatan. Sistem pelayanan home care belum terintegrasi dengan baik dan sistem pembiayaan preventif masih terbatas.
Indonesia juga mengalami kelangkaan tenaga caregiver serta pekerja medis spesialis geriatri. Selain itu, lansia di luar kota besar menghadapi kendala akses ke fasilitas kesehatan khusus.
Menyikapi hambatan tersebut, perusahaan merancang skema kerja sama public-private partnership yang melibatkan komunitas lansia.
>>> Fisioterapis Prancis Christophe Dormoy Siapkan Senegal Hadapi Prancis di Piala Dunia 2026
Strategi ini dioptimalkan lewat pemanfaatan jaringan apotek nasional, klinik, serta laboratorium milik korporasi sebagai pusat layanan preventive care dan rehabilitasi.