Nilai tukar rupiah membuka perdagangan di luar negeri dengan posisi stagnan pada level Rp17.712 per dolar AS.
Pergerakan ini mencerminkan sikap wait and see para pelaku pasar menjelang keputusan bank sentral global pada pekan ini.
>>> Arab Saudi Tahan Imbang Uruguay di Piala Dunia 2026
Stabilitas rupiah terjadi saat harga minyak dunia naik tipis 0,5 persen ke angka US$83,59 per barel pada sesi Selasa (16/6/2026) pukul 07:45 WIB.
Kondisi tersebut berlangsung setelah tekanan pasar mereda akibat berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah.
Meredanya tekanan dolar AS dan tenangnya harga minyak menjadi perkembangan positif bagi pasar. Namun, situasi tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengubah sentimen secara signifikan.
Para pelaku pasar merespons positif langkah pemerintah Indonesia yang akan melakukan penyesuaian anggaran pada program prioritas.
Program tersebut mencakup Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Komunikasi intensif mengenai penyesuaian anggaran ini dibaca oleh investor sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah tetap mempertimbangkan disiplin fiskal.
Di sisi lain, kebijakan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi juga disambut baik oleh pasar.
Langkah menaikkan harga BBM non-subsidi diambil setelah harga minyak dunia melampaui asumsi dasar APBN 2026.
Sebelumnya, keputusan menahan harga BBM sempat memicu kekhawatiran karena berpotensi menggerus ruang fiskal negara.
>>> DPR Dorong Ditjen Pajak Perkuat Aturan Pajak Perusahaan Digital Global
Menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, berbagai kebijakan pemerintah tersebut berpotensi membawa rupiah melanjutkan penguatan menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS pada pekan depan.
"Pasar mulai melihat bahwa otoritas ekonomi Indonesia bersedia mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memulihkan kepercayaan investor," kata Fakhrul.
Dampak dari kepercayaan investor ini diperkirakan baru akan tercermin pada sesi perdagangan esok hari (17/6/2026).
Hal ini terjadi karena pasar keuangan domestik sedang libur memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah.
Pengaruh Kebijakan Moneter Global
Kendati ada optimisme domestik, proyeksi penguatan rupiah menuju Rp17.500 per dolar AS tetap bergantung pada faktor eksternal.
Arah kebijakan moneter global dan keberlanjutan sentimen risiko internasional akan menjadi penentu utama.
Sikap The Fed mengenai prospek suku bunga acuan hingga akhir tahun menjadi faktor krusial.
Kebijakan bank sentral AS tersebut akan mendikte pergerakan dolar AS dan aliran modal ke pasar negara berkembang.
>>> Bursa Saham Asia Menguat Tipis Imbas Kesepakatan Selat Hormuz
Dinamika Mata Uang Asia
Pada skala kawasan, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama bergerak stagnan di level 99,66. Situasi ini membuat pergerakan mata uang di Asia bervariasi.
Yen Jepang memimpin penguatan bersama won Korea Selatan, dolar Singapura, baht Thailand, dan yuan offshore. Sebaliknya, mata uang ringgit Malaysia tercatat melemah terbatas sebesar 0,03 persen.
Ketenangan di pasar kawasan mengindikasikan bahwa investor mulai mengalihkan fokus dari risiko geopolitik ke kebijakan moneter.
Kesepakatan antara AS dan Iran yang membuka kembali Selat Hormuz terbukti ampuh meredakan ketegangan energi.
Meski begitu, pelaku pasar cenderung menahan diri sebelum ada kejelasan suku bunga dari sejumlah bank sentral utama.
Bank sentral tersebut meliputi Bank Indonesia, Bank of Japan, Reserve Bank of Australia, dan Federal Reserve.
Ekonom memproyeksikan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5–3,75 persen pada pertemuan pertama di bawah Gubernur Kevin Warsh.
Pasar swap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase sebelum Desember berada di bawah 80 persen.
Sementara itu, Bank Indonesia diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada Kamis (18/6/2026).
>>> Jadwal KRL Jogja-Solo 16 Juni 2026: Rute dan Tarif Rp 8.000
Di sisi lain, Bank of Japan diperkirakan mengerek suku bunga ke level 1,25 persen menyusul proyeksi kenaikan inflasi Mei menjadi 1,6 persen.