Populasi orangutan Tapanuli yang sudah kritis semakin terancam setelah bencana banjir dan tanah longsor melanda Sumatra pada akhir 2025.
Siklon Tropis Senyar menjadi pemicu utama bencana yang menewaskan puluhan individu spesies endemik tersebut.
>>> EA Sports Rilis Kode Redeem FC Mobile 15 Juni 2026, Klaim Hadiah Gratis
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology mencatat sekitar 58 ekor orangutan Tapanuli mati akibat tanah longsor yang dipicu banjir.
Jumlah itu setara dengan 11 persen populasi di lokasi terdampak atau 7 persen dari total populasi di habitat alami.
Data kematian tersebut tergolong konservatif karena belum memasukkan kerusakan kanopi hutan akibat hujan terus-menerus serta penurunan ketersediaan pangan.
Saat ini, populasi orangutan Tapanuli di alam bebas diperkirakan kurang dari 800 ekor.
>>> Penjualan Mobil Nasional Mei 2026 Tumbuh 14 Persen secara Tahunan
Berdasarkan kategori IUCN Red List, satwa ini berstatus terancam kritis atau critically endangered. Hasil studi menunjukkan curah hujan ekstrem berdampak langsung pada kelangsungan hidup orangutan.
Para pakar sebelumnya mendeteksi penurunan perjumpaan dengan orangutan Tapanuli pascabadai, yang memperkuat dugaan bahwa satwa tersebut hanyut terbawa banjir dan longsor.
Ancaman Kepunahan Modern
Profesor Sergei Vich, ahli primatologi di Liverpool John Moore University dan salah satu penulis studi, menyatakan bahwa Siklon Tropis Senyar merupakan kejadian anomali.
>>> IHSG 15 Juni 2026 Melesat 3,67% Ditopang Saham Big Cap
Namun, perubahan iklim akibat aktivitas manusia berperan besar dalam memicu kepunahan jika populasi terus merosot lebih dari 1 persen per tahun.
"Jika terjadi peristiwa di mana sekitar 58 individu terbunuh dari 580, itu sekitar 10 sampai 11% dari populasi di sana dan 7% dari total populasi spesies tersebut," ujar Vich.
"Tingkat kematian itu jauh melampaui kemampuan hewan-hewan ini untuk bertahan. Jadi ini adalah peristiwa yang sangat besar."
Kerusakan lingkungan akibat siklon memperlihatkan kerentanan orangutan Tapanuli, spesies kera besar yang baru diidentifikasi pada 2017. Para ilmuwan mendesak kolaborasi internasional untuk menyelamatkan habitat yang tersisa.
>>> Bursa Saham Asia Melonjak Imbas Kesepakatan Damai AS-Iran
"Melalui penguatan perlindungan domestik, perencanaan responsif iklim, serta bantuan keuangan dan teknis global, kita masih dapat mencegah kepunahan modern pertama dari spesies kera besar," tulis tim peneliti.