Pasar keuangan global mendapat katalis positif dari kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kesepakatan ini berpotensi mengurangi risiko gangguan pasokan energi serta mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
>>> Pantai Gading Kalahkan Ekuador 1-0 di Piala Dunia 2026
Redanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memicu penurunan harga minyak mentah dunia.
Harga minyak Brent turun ke level USD83,8 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) ke kisaran USD80,8 per barel.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menilai kesepakatan tersebut secara signifikan mengurangi risiko geopolitik.
Konflik selama lebih dari tiga bulan sempat mengganggu pasar energi global dan membatasi arus perdagangan di Selat Hormuz.
"Perkembangan ini akan disambut positif oleh pasar keuangan karena mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan premi risiko geopolitik," ujar Jessica Tasijawa.
>>> Anak Buruh Serabutan Kediri Raih Golden Ticket ITS Berkat Inovasi Minuman Probiotik
Penurunan ketegangan tersebut berpotensi menekan inflasi global dan mengurangi beban fiskal negara net importir minyak seperti Indonesia.
Langkah BI Jaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia (BI) masih agresif menjaga stabilitas nilai tukar lewat instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Pada lelang Jumat lalu, BI menyerap dana Rp36 triliun.
Total penyerapan mingguan melonjak 70 persen mencapai Rp51 triliun yang menjadi angka tertinggi sejauh ini.
BI juga menawarkan imbal hasil kompetitif sebesar 7,3 persen untuk tenor enam bulan, 7,4 persen untuk tenor sembilan bulan, dan 7,6 persen untuk tenor 12 bulan.
>>> Harga Emas Antam 15 Juni 2026 Naik Rp18.000, Buyback Melonjak Rp46.000
Tenor 12 bulan mendominasi hasil lelang dengan nilai Rp30 triliun atau sekitar 83 persen dari total nominal yang dimenangkan.
"BI masih mengandalkan SRBI untuk menarik aliran dana asing, menjaga stabilitas rupiah, dan secara bertahap mengurangi intervensi langsung di pasar surat berharga negara," jelas Jessica Tasijawa.
Hingga Jumat lalu, mata uang rupiah menguat 0,02 persen secara month-to-date (MTD) ke level Rp17.870 per dolar AS.
Penguatan ini didorong oleh pelemahan indeks dolar AS (DXY) ke level 99,7 serta respons positif pasar terhadap langkah BI menaikkan suku bunga secara off-cycle dan menggelar lelang SRBI dua kali sepekan.
Dampak positif ini juga berimbas ke pasar obligasi dengan penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun menjadi 7,42 persen dan tenor dua tahun ke level 7,28 persen.
>>> Yael Falcon Pimpin Laga Swedia Kontra Tunisia di Piala Dunia 2026
Namun, spread obligasi pemerintah Indonesia dan US Treasury tetap tinggi, yakni 297,4 basis poin untuk tenor 10 tahun dan 323 basis poin untuk tenor dua tahun, sehingga instrumen pendapatan tetap tenor pendek dinilai masih prospektif.