Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) kembali mencatatkan kenaikan pada awal pekan ini.
Berdasarkan data dari Bloomberg Technoz, harga emas Antam pada Senin (15/6/2026) dipatok di level Rp 2.729.000 per gram.
>>> Andreas Hugo Pareira Desak Pemerintah Respons Aspirasi Demonstrasi
Angka tersebut menunjukkan penguatan sebesar Rp 18.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Kenaikan yang lebih signifikan terjadi pada harga pembelian kembali atau buyback.
Antam menetapkan harga buyback di Rp 2.500.000 per gram, naik Rp 46.000 dari hari sebelumnya.
Faktor Pendorong Kenaikan
Pergerakan harga emas domestik sejalan dengan lonjakan harga emas dunia pagi ini.
Emas di pasar spot bertengger di US$ 4.299,73 per troy ons pada pukul 08:25 WIB, melonjak 1,84% dari penutupan akhir pekan.
>>> Yamaha Rilis MX King 150 Prima Pramac Livery Edisi Terbatas 2.000 Unit
Lonjakan ini dipicu oleh sentimen positif terkait rencana penandatanganan kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kedua negara dikabarkan akan meneken perjanjian pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz di sela-sela konferensi G7 pekan ini.
Pertemuan G7 dijadwalkan berlangsung di Evian, Prancis pada 15-17 Juni. Penandatanganan kesepakatan AS-Iran kemungkinan besar dilaksanakan di Jenewa, Swiss.
Seorang petinggi G7 menyebutkan bahwa pejabat senior Iran telah memberikan sinyal positif tercapainya kesepakatan.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance dan Utusan Khusus Steve Wifkoff akan hadir mewakili dirinya.
>>> IHSG Ditutup Melonjak ke Level 6.007, Ditopang Saham AMMN dan BBCA
Perjanjian damai interim ini bakal memperpanjang masa gencatan senjata selama dua bulan sekaligus melanjutkan negosiasi program nuklir Iran.
Selain membuka kembali Selat Hormuz, kesepakatan ini mewajibkan AS mencabut blokade pelabuhan Iran.
Kabar damai di Timur Tengah ini langsung merontokkan harga minyak dunia.
Minyak jenis brent merosot 4,25% ke level US$ 83,61 per barel pada pukul 08:27 WIB.
Penurunan harga minyak dinilai bisa meredam ancaman inflasi tinggi global. Situasi ini memberikan ruang bagi bank sentral dunia untuk menahan suku bunga acuan.
>>> Hindari 7 Kalimat yang Bisa Menyakiti Perasaan Anak
Kondisi tersebut menguntungkan bagi emas, mengingat statusnya sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil yang kerap kurang menarik saat suku bunga tinggi.