⌂ Beranda News Cuaca Panas Ekstrem Ancam Piala Dunia 2026, Pemain dan Suporter Terancam

Cuaca Panas Ekstrem Ancam Piala Dunia 2026, Pemain dan Suporter Terancam

Cuaca Panas Ekstrem Ancam Piala Dunia 2026, Pemain dan Suporter Terancam
Ilustrasi cuaca panas ekstrem di stadion Piala Dunia 2026
A A Ukuran Teks16px

Gelaran Piala Dunia 2026 menghadapi ancaman serius dari cuaca panas ekstrem. Risiko dampak buruk tidak hanya mengintai para pemain di lapangan, tetapi juga suporter yang hadir di stadion.

World Weather Attribution (WWA) memprediksi sebanyak 26 dari total 104 pertandingan akan digelar dalam kondisi indeks Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) minimal 26 derajat Celsius.

>>> AS dan Iran Sepakati Perjanjian Damai Permanen, Selat Hormuz Dibuka Kembali

Bahkan, lima laga diperkirakan menembus suhu 28 derajat Celsius atau lebih tinggi.

Indeks WBGT merupakan parameter untuk mengukur tingkat stres panas yang diterima tubuh manusia di bawah paparan sinar matahari langsung.

Indikator ini mengombinasikan suhu udara, tingkat kelembaban, dan intensitas radiasi matahari.

Sengatan suhu panas berpotensi memicu lonjakan suhu tubuh atlet secara tidak terkendali. Kondisi tersebut sangat rawan menyebabkan serangan kelumpuhan akibat panas atau heat stroke.

>>> Harga Emas Antam Diprediksi Fluktuatif, Bergerak di Kisaran Rp2,5 Juta-Rp2,88 Juta per Gram

Dampak pada Performa Pemain

Cuaca ekstrem juga memengaruhi dinamika permainan.

Profesor fisiologi manusia dari University of Portsmouth, Mike Tipton, menjelaskan bahwa tensi dan intensitas pertandingan akan menurun drastis saat suhu melonjak tinggi.

"Contoh, frekuensi sprint menurun, pemain berlari lebih pendek, dan laga lebih mungkin berakhir dengan adu penalti," kata Prof Tipton.

>>> Ramalan Zodiak Aries, Taurus, dan Gemini: Peruntungan hingga Asmara

Pakar meteorologi senior Al Jazeera, Everton Fox, menilai kombinasi kelembaban tinggi, radiasi matahari, dan kecepatan angin sangat memengaruhi performa fisik olahragawan.

"Semua itu membuat tubuh lebih sulit mendinginkan diri karena keringat susah menguap," katanya.

Mantan pelatih fisik Swansea dan West Ham, Raiyan Abbasi, menambahkan bahwa produksi keringat merupakan bagian dari proses termoregulasi untuk menjaga stabilitas suhu inti tubuh.

Namun, keluarnya cairan tubuh secara berlebih akibat cuaca panas bisa memicu dehidrasi, kram otot, hingga kelelahan akut.

>>> BTV Semesta Berpesta Bogor 2026 Padati Stadion Pakansari, Warga Antusias

"Ya, mayoritas atlet tahu caranya menghadapi panas seperti ini karena mereka adalah pemain elit yang berlatih dan berkompetisi dalam berbagai kondisi," katanya.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru