Media sosial telah mengubah cara generasi muda mengambil keputusan finansial. Tren digital sering mendorong konsumsi yang kurang rasional demi menjaga citra gaya hidup.
Kondisi ini memicu peningkatan penggunaan fasilitas pembiayaan instan. Layanan paylater dan pinjaman online kerap menjadi jalan pintas untuk kebutuhan jangka pendek.
>>> BRI Dorong Kerajinan Serat Alam Mlatiwangi Tembus Pasar Global
Literasi Keuangan Masih Rendah
Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Farid Azhar Nasution, menilai rendahnya literasi keuangan masih menjadi tantangan besar bagi generasi muda.
Dorongan mengikuti tren dan menjaga gengsi sering mengabaikan kemampuan finansial.
>>> Pemerintah Antisipasi Migrasi Konsumen Usai Harga Pertamax Naik
Akibatnya, berbagai instrumen pembiayaan konsumtif jadi pilihan instan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Hal ini disampaikan Farid dalam keterangan yang dikutip dari Antara, Sabtu, 13 Juni 2026.
Penggunaan pinjaman online oleh kelompok usia muda telah mencapai 60 persen. Angka ini menjadi indikator pentingnya penguatan literasi dan kesadaran finansial sejak dini.
Menurut Farid, tantangan utama bukan pada jumlah pendapatan, melainkan kemampuan mengelola keinginan. Diskon, paylater, dan cicilan menuntut pengendalian diri dan penentuan prioritas.
>>> Anne Hathaway Alami Katarak Dini di Usia 30-an, Publik Diingatkan
Generasi muda didorong untuk membiasakan menabung rutin di bank sebagai langkah awal. Kebiasaan ini dapat membangun disiplin dan membantu perencanaan masa depan yang lebih terarah.
LPS menyebut fenomena FOMO (fear of missing out), YOLO (you only live once), dan FOPO (fear of other people's opinions) memicu keputusan finansial tidak rasional.
>>> Cara Daftar GoPayLater di Tokopedia, Mudah dan Cepat
Hal ini berkontribusi pada tingginya penggunaan pinjaman online di kalangan anak muda.