Masyarakat Jawa bersiap menyambut pergantian tahun baru melalui momen sakral Malam 1 Suro.
Sistem penanggalan ini lahir dari kebijakan Sultan Agung Mataram yang menyelaraskan siklus matahari pada kalender Saka dengan perputaran bulan pada kalender Hijriah.
>>> Saham Chandra Asri Pacific Melesat 5,60 Persen pada Sesi I
Momen pergantian tahun bagi masyarakat Jawa bukan menjadi tempat pesta pora. Waktu ini dimanfaatkan untuk merenungkan perbuatan yang lalu, memperbanyak doa, serta meminta keselamatan.
Sejarah dan Penetapan Kalender Jawa
Sultan Agung memprakarsai penyatuan kalender Saka dan kalender Hijriah menjadi Kalender Jawa. Langkah ini diambil demi memperluas ajaran Islam di Tanah Jawa tanpa menghapus kebudayaan lokal.
Penyatuan dimulai sejak Jumat Legi bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka, atau 8 Juli 1633 Masehi.
Sejak saat itu, hari pertama bulan Suro selalu jatuh bersamaan dengan 1 Muharram.
Kata 'Suro' diserap dari 'Asyura' dalam bahasa Arab yang berarti 'sepuluh'. Kata ini merujuk pada tanggal 10 Muharram untuk memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Husein.
Berdasarkan Kalender Jawa, 1 Suro 1960 Jawa jatuh pada Rabu Kliwon, 17 Juni 2026. Prosesi ritual Malam 1 Suro berlangsung sejak Selasa Wage malam, 16 Juni 2026.
>>> Harga Emas Dunia Melemah Dipicu Kekhawatiran Inflasi AS
Perayaan Tahun Baru Jawa ini bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah pada Selasa, 16 Juni 2026.
Tradisi di Keraton Surakarta dan Yogyakarta
Keraton Surakarta identik dengan Kirab Kebo Bule Kyai Slamet. Kerbau bule ini merupakan keturunan hewan kesayangan Paku Buwono II pemberian Kyai Hasan Besari dari Ponorogo.
Warga rela berdesakan hingga berebut kotoran kebo bule karena diyakini membawa berkah. Tradisi kirab ini dimulai sekitar tahun 1973 atas saran Presiden Soeharto.
Perayaan di Keraton Yogyakarta identik dengan mengarak keris dan benda pusaka. Terdapat tradisi Mubeng Beteng, yaitu berjalan kaki mengelilingi benteng keraton tanpa berbicara.
Konsep Mubeng Beteng dipengaruhi ritual pradaksina searah jarum jam untuk kebutuhan lahiriah. Juga dipengaruhi prasawya berlawanan arah jarum jam sebagai simbol kesempurnaan batin.
Masyarakat awam menyambut bulan Suro dengan laku prihatin seperti tirakatan. Kegiatan lain meliputi menonton wayang kulit, jamas pusaka, hingga ritual ruwatan.
Mitos dan Fakta Malam 1 Suro
Malam 1 Suro dipenuhi mitos yang berkembang turun-temurun. Berikut beberapa mitos dan faktanya.
>>> Pemerintah Tetapkan Libur Nasional Juni 2026 Tanpa Cuti Bersama
Mitos larangan keluar rumah karena gerbang dunia gaib terbuka. Faktanya, sebagian masyarakat memaknai malam ini sebagai momen introspeksi diri, bukan karena takut makhluk halus.
Mitos Tapa Bisu atau dilarang berbicara karena dapat mendatangkan kesialan. Faktanya, tradisi ini dilakukan sebagai bentuk perenungan dan penghormatan terhadap malam sakral.
Mitos menghindari pesta atau hajatan karena dianggap pamali. Faktanya, kepercayaan ini bervariasi; di beberapa daerah justru dianggap waktu baik untuk kegiatan penting.
Mitos pantang membangun atau pindah rumah selama bulan Suro. Faktanya, sebagian masyarakat justru memandang malam 1 Suro sebagai waktu penuh berkah untuk memulai lembaran baru.
Mitos malam lebaran makhluk gaib. Faktanya, malam 1 Suro murni momentum spiritual bagi manusia, diisi dengan tirakatan, meditasi, dan doa bersama.
Mitos buang sial melalui ruwatan.
>>> Putri Kerajaan Thailand Bajrakitiyabha Meninggal Setelah Koma Tiga Tahun
Faktanya, ruwatan adalah prosesi spiritual untuk membersihkan batin, bukan sekadar buang sial, melainkan permohonan doa agar kehidupan diberkahi.