Minat investor dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) masih terjaga meskipun pemerintah membatasi jumlah pemenangan. Hal ini terlihat dari data lelang yang dirilis pada Selasa (9/6/2026).
Total penawaran yang masuk mencapai Rp46,7 triliun, turun 18,5% dibandingkan lelang sebelumnya pada 26 Mei yang sebesar Rp57,3 triliun.
Pemerintah memutuskan untuk mengurangi nilai yang dimenangkan secara signifikan, yaitu sebesar 28,5% menjadi Rp26,35 triliun. Pada lelang sebelumnya, nilai yang dimenangkan mencapai Rp26,85 triliun.
Langkah ini diambil karena investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi. Yield dalam lelang kali ini mengalami kenaikan sebesar 40-76 basis poin (bps).
Pemerintah enggan membayar biaya utang yang lebih mahal. Jika menyerap penawaran dalam jumlah besar, tingginya yield dapat memicu kenaikan biaya utang yang terlalu tajam.
Dampak Terhadap Suku Bunga dan Rupiah
Kebijakan pengurangan nilai dimenangkan menyebabkan bid-to-cover ratio secara agregat naik 13,6% menjadi 1,77 kali, dari sebelumnya 1,56 kali.
Saat lelang berlangsung, nilai tukar rupiah berada dalam posisi lemah. Rupiah sempat menyentuh Rp18.186/US$ pada sesi perdagangan kemarin pukul 09:27 WIB.
Bank Indonesia kemudian menaikkan suku bunga acuan secara mengejutkan sebesar 25 bps menjadi 5,5%. Volatilitas rupiah mereda dan ditutup menguat 0,65% ke posisi Rp18.060/US$.
Lelang SUN dalam kondisi pelemahan rupiah ini menunjukkan pasar masih percaya pada kemampuan pemerintah memenuhi kewajibannya. Namun, kepercayaan tersebut kini menuntut harga yang lebih mahal.