Defisit perdagangan barang dan jasa Amerika Serikat menurun 1,2 persen pada April dibanding bulan sebelumnya.
Departemen Perdagangan AS melaporkan defisit kini berada di angka US$55,9 miliar.
>>> 9 Lokasi SPKLU Fast Charging Mobil Listrik di Sumatera Utara
Nilai tersebut sedikit di bawah estimasi median para ekonom dalam survei Bloomberg yang memproyeksikan defisit sebesar US$56,1 miliar.
Penyusutan ini didorong oleh pengiriman komoditas energi yang mampu mengimbangi pembelian komponen infrastruktur digital.
Aktivitas ekspor AS tumbuh 2,6 persen pada April, didorong lonjakan pengiriman minyak mentah yang mencapai 60 persen.
Kenaikan pengiriman juga terjadi pada produk fuel oil serta turunan minyak bumi lainnya ke pasar global.
Pada saat bersamaan, nilai impor AS meningkat 2 persen yang dipimpin oleh komoditas komputer dan semikonduktor.
Pembelian perangkat teknologi ini melonjak demi memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur komputasi modern.
Ketegangan geopolitik akibat perang Iran dan penutupan Selat Hormuz menekan pasokan minyak dunia hingga memicu kenaikan harga.
Produsen energi asal AS memanfaatkan momentum ini untuk mengisi kekosongan pasokan global.
>>> Timnas Indonesia Tekuk Mozambik 1-0, Pelatih Vietnam Pantau Langsung
Berdasarkan data US Energy Information Administration, AS mencetak rekor volume ekspor minyak tertinggi sepanjang sejarah pada April.
Pengiriman bahan bakar jet, diesel, serta bensin juga turut mengalami lonjakan signifikan.
Pendapatan besar dari sektor energi ini membantu menutupi pengeluaran impor barang modal untuk pusat data kecerdasan buatan.
Impor alat telekomunikasi, komputer, aksesori komputer, dan semikonduktor melonjak 83 persen dibanding tahun lalu.
Ekonom Bloomberg Troy Durie menyatakan bahwa ekspansi pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan di AS masih berjalan kuat.
Hal ini terlihat dari konsentrasi pertumbuhan impor April yang berfokus pada produk terkait teknologi AI.
Troy Durie menambahkan bahwa lonjakan ekspor produk minyak bumi berfungsi menutup kelangkaan suplai global.
Hambatan distribusi di Selat Hormuz menjadi pemicu utama pergeseran peta dagang energi tersebut.
Dinamika perdagangan bulanan ini juga dipengaruhi oleh penimbunan barang oleh sejumlah perusahaan AS untuk mengantisipasi kenaikan harga akibat perang.
>>> NASA Umumkan Astronaut Misi Artemis III di Houston
Fenomena tersebut mirip dengan lonjakan impor menjelang penerapan tarif baru tahun lalu.
Situasi ini diprediksi memengaruhi negosiasi lanjutan Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada yang mendekati tenggat perpanjangan 1 Juli.
Defisit perdagangan barang AS dengan Meksiko menyusut, namun defisit dengan Kanada justru melebar.
Sementara itu, defisit perdagangan barang AS dengan China menunjukkan tren menyusut.
Sebaliknya, kesenjangan dagang dengan Vietnam melebar akibat pergeseran rantai pasok global yang berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.
Di sektor lain, ekspor jasa perjalanan atau belanja turis asing di AS merosot ke level terendah dalam dua tahun terakhir.
Penurunan ini turut memberikan tekanan pada total performa ekspor jasa AS.
Setelah disesuaikan dengan faktor inflasi, defisit perdagangan barang AS secara riil menyusut menjadi US$84,3 miliar pada April.
>>> Peringkat FIFA Timnas Indonesia Naik ke Posisi 118
Laporan berkala ini juga menyertakan proses revisi tahunan terhadap data statistik perdagangan Amerika Serikat.