⌂ Beranda News Allegra Isdar Sampaikan Pidato Riset Pendidikan Papua di Wisuda Harvard

Allegra Isdar Sampaikan Pidato Riset Pendidikan Papua di Wisuda Harvard

Allegra Isdar Sampaikan Pidato Riset Pendidikan Papua di Wisuda Harvard
Allegra Isdar menyampaikan pidato wisuda di Harvard Graduate School of Education
A A Ukuran Teks16px

Namun, respons yang diterimanya justru sangat berbeda. Setelah terdiam sejenak, Prof. Reimers mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang mengubah seluruh cara pandangnya.

"Dia berkata, 'Allegra, apakah kamu pernah berpikir untuk memberi para guru sebuah sepeda, mungkin?' ," tanya Reimers saat itu.

Pertanyaan itu membuat Allegra terkejut dan kebingungan. Ia tidak memahami mengapa solusi sesederhana itu muncul di tengah pembahasan yang dipenuhi data, riset, dan analisis.

Tak lama kemudian, Reimers menjelaskan alasan di balik pertanyaannya. Penjelasan itu membuat Allegra melihat persoalan dari sudut pandang yang sama sekali berbeda.

"'Rasakan apa yang dirasakan para guru. Pahami akar masalahnya.

>>> KBank dan Ant International Kerja Sama Kembangkan Infrastruktur Pembayaran Lintas Negara

Mereka bahkan tidak bisa sampai ke sekolah', dan itulah yang kusadari: para guru sebenarnya tidak menolak untuk datang.

Mereka hanya tidak bisa sampai ke sana, dan siapa aku ini sampai menyarankan semua kamera dan insentif itu?"

ujar dia.

Allegra menyadari para guru bukan menolak untuk datang mengajar. Mereka justru menghadapi hambatan yang membuat mereka kesulitan mencapai sekolah.

Kesadaran itu membuatnya mempertanyakan kembali seluruh rekomendasi yang telah disusun timnya. Ia merasa terlalu cepat menawarkan kamera, aplikasi, dan insentif tanpa benar-benar memahami kondisi di lapangan.

Allegra mengaku saat itu dirinya menyadari bahwa ia tidak sedang menyelesaikan masalah. Sebaliknya, ia justru mendefinisikan masalah tersebut dari kejauhan.

Ia juga memahami bahwa teori dan hasil penelitian tidak selalu mampu menggambarkan realitas secara utuh.

Sebab, terkadang ada pengalaman manusia yang tidak dapat sepenuhnya ditangkap oleh data dan asumsi.

"Saya mengira penelitian dan teori telah memberikan gambaran lengkap yang dibutuhkan, tapi ternyata tidak demikian. Kegagalan dalam situasi ini disebabkan oleh kondisi, bukan oleh orang-orangnya," kata dia.

Menurut dia, kegagalan dalam kasus tersebut berasal dari kondisi yang dihadapi para guru, bukan dari karakter atau kemauan mereka.

Pemahaman itu menjadi titik balik yang mengubah pendekatannya terhadap pendidikan.

Allegra mengatakan pengalaman tersebut mengajarkannya mengenai pentingnya melihat kembali sebuah persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Langkah terpenting bukan selalu menelaah masalah dari kejauhan, melainkan memahami manusia yang hidup di dalamnya.

"Situasi ini mengajarkan saya bahwa terkadang hal terpenting yang bisa kita lakukan adalah melihat kembali, tetapi bukan dengan memandang masalah dan segala aspeknya dari kejauhan, melainkan dengan memperhatikan inti permasalahan, yaitu orang-orangnya, karena pada akhirnya pendidikan itu ditujukan untuk mereka, bukan?"

ujar dia.

Baginya, pendidikan pada akhirnya selalu berbicara tentang manusia. Proses memahami kebutuhan dan pengalaman mereka harus menjadi titik awal dalam mencari solusi.

Allegra menjelaskan solusi akhir timnya bukan sekadar menyediakan sepeda bagi para guru. Namun, sepeda menjadi metafora yang membantu mereka berpikir dengan cara yang berbeda.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru