⌂ Beranda News Harga Hewan Kurban di Gaza Melonjak Akibat Kelangkaan Pasokan

Harga Hewan Kurban di Gaza Melonjak Akibat Kelangkaan Pasokan

Harga Hewan Kurban di Gaza Melonjak Akibat Kelangkaan Pasokan
Hewan kurban di Gaza akibat kelangkaan pasokan
A A Ukuran Teks16px

Harga hewan kurban di Jalur Gaza melonjak drastis hingga menembus ribuan dolar AS menjelang Idul Adha pada Kamis (28/5/2026).

Lonjakan ini dipicu hancurnya peternakan lokal dan penghentian total impor ternak akibat perang yang terus berkecamuk.

>>> Wabah Andes Hantavirus di Kapal MV Hondius, 13 Orang Terinfeksi

Direktur Kamar Dagang Gaza, Maher al-Tabbaa, mengungkapkan bahwa harga satu ekor hewan kurban saat ini mencapai US$ 6.000 hingga US$ 7.000 atau sekitar Rp 106 juta sampai Rp 124 juta (kurs Rp 17.800).

Angka tersebut meroket tajam dibandingkan harga sebelum perang yang hanya berkisar US$ 500.

Infrastruktur Peternakan Hancur

Kondisi ini diperparah oleh rusaknya infrastruktur peternakan, kandang, serta gudang pakan di berbagai wilayah.

Juru Bicara Kementerian Pertanian yang dikelola Hamas, Raafat Asaliya, memaparkan bahwa Gaza Timur biasanya mengimpor 10.000 hingga 20.000 anak sapi dan 30.000 hingga 40.000 domba setiap tahun untuk kebutuhan Idul Adha.

"Dengan adanya perang dan penutupan perlintasan, impor berhenti total," kata Raafat Asaliya kepada Xinhua. Ketiadaan pasokan impor membuat aktivitas pemotongan hewan kurban terhenti dalam beberapa tahun terakhir.

Akibatnya, suasana perayaan hari besar keagamaan tersebut kini tidak lagi dirasakan oleh sebagian besar masyarakat setempat.

"Selama hampir tiga tahun ini, masyarakat Gaza sudah tidak lagi merasakan meriahnya perayaan Hari Raya Idul Adha," ujar Raafat Asaliya.

>>> Polisi Selidiki Kematian Empat Orang Sekeluarga di Kledung Temanggung

Hingga kini belum ada kepastian mengenai kapan krisis pasokan ternak ini akan berakhir.

"Tidak ada yang tahu berapa banyak lagi Idul Adha tanpa kurban yang harus dijalani warga Gaza," sambungnya.

Penurunan daya beli masyarakat akibat kemiskinan yang meluas membuat transaksi di pasar ternak menjadi lesu.

Pedagang ternak setempat, Salah Afana, mengonfirmasi bahwa angka permintaan dari konsumen saat ini hampir tidak ada lagi.

"Banyak hewan mati karena serangan udara, kekurangan pakan, dan kolapsnya layanan veteriner. Pada saat bersamaan, tidak ada ternak yang masuk ke Gaza akibat penutupan perlintasan," tambah Salah Afana.

Bagi warga sipil seperti Ahmed Nashwan, momentum hari raya kali ini justru mempertegas penderitaan.

>>> Harga Toyota Avanza 2010 Bekas Stabil Jelang Juni 2026, Mulai Rp65 Juta

Dirinya sudah tiga tahun berturut-turut tidak dapat mendatangi pasar ternak bersama keluarga untuk menjalankan tradisi memilih hewan kurban.

"Kami biasanya berkumpul sebagai keluarga untuk memilih hewan kurban, mempersiapkan hari raya, dan membagikan daging kepada kerabat serta keluarga miskin," ujar Ahmed Nashwan.

Kesulitan serupa dialami Mohammed al-Hissi (40), seorang ayah empat anak asal Gaza City. Kelangkaan yang parah dan harga yang melambung tinggi membuat hewan kurban mustahil dijangkau.

"Idul Adha dulunya selalu menjadi salah satu masa paling membahagiakan bagi keluarga kami.

Anak-anak saya biasanya bangun pagi, mengenakan pakaian baru, dan menemani saya mengunjungi kerabat setelah kami membagikan daging," kata Mohammed al-Hissi kepada Xinhua.

Situasi kemanusiaan yang memburuk membuat prioritas pemenuhan kebutuhan warga Gaza berubah total. Kehilangan tempat tinggal dan sumber pendapatan memaksa sebagian besar keluarga melupakan ibadah kurban pada tahun ini.

"Tetapi saat ini, semuanya telah berubah akibat perang dan memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza.

>>> Mengenal Karakter Weton Jumat Legi dalam Kalender Jawa 29 Mei 2026

Sebagian besar keluarga tidak lagi dapat memikirkan untuk membeli hewan kurban karena harganya sangat tinggi dan masyarakat telah kehilangan pendapatan serta rumah mereka," kata Mohammed al-Hissi.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru