News

Menguat Sebesar 0,79% Harga Emas Terbaru 2024 Kembali Naik Setelah Mencatat Penurunan Hampir 4% di Awal Pekan, Benarkah Efek The Fed?

Menguat Sebesar 0,79% Harga Emas Terbaru 2024 Kembali Naik Setelah Mencatat Penurunan Hampir 4% di Awal Pekan, Benarkah Efek The Fed?

Ditopang Harapan Pelonggaran Moneter oleh The Fed, Harga yang Sempat Terpuruk Turun 4% Kini Berhasil Naik Kembali

Mending Jual Atau Beli? Harga Emas Kini Mulai Bangun Padahal Sempat Terpuruk Mencapai Angka 4%

Harga Emas Dunia Naik, Ditopang Harapan Pelonggaran Moneter oleh The Fed

Harga emas dunia berhasil mencatat kenaikan pada perdagangan terakhir, memberikan secercah optimisme setelah sempat mengalami tekanan signifikan. Kabar dari Amerika Serikat (AS), khususnya terkait kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), menjadi pemicu utama yang mendorong logam mulia ini kembali ke jalur positif.

Pada Selasa (26/11/2024), harga emas di pasar spot ditutup menguat sebesar 0,79%, berada di level US$ 2.631,1 per troy ons. Kenaikan ini mengakhiri tren pelemahan yang sebelumnya membuat harga emas terpuruk, terutama setelah mencatat penurunan hampir 4% di awal pekan.
Tren Negatif Masih Membayangi

Walau berhasil menguat dalam sehari, tren harga emas secara umum masih menunjukkan pola pelemahan. Dalam sepekan terakhir, harga emas terkoreksi sebesar 0,15% secara point-to-point, sementara dalam sebulan terakhir, penurunan yang lebih dalam tercatat hingga 4,13%. Hal ini menandakan bahwa harga emas masih menghadapi tantangan yang cukup signifikan di pasar global.
Notula Rapat The Fed: Angin Segar bagi Investor

Momentum kenaikan harga emas kali ini tak lepas dari rilis notula rapat The Fed edisi November yang keluar pada dini hari waktu Indonesia. Dalam rapat tersebut, Gubernur Jerome Powell bersama para pejabat The Fed sepakat menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke rentang 4,5-4,75%.

+++++

Notula tersebut juga mengindikasikan kemungkinan adanya pelonggaran moneter lebih lanjut, meskipun langkah tersebut akan dilakukan secara bertahap. Para peserta rapat melihat bahwa data ekonomi mendukung langkah ini, dengan inflasi yang terus mendekati target 2% dan pencapaian ekonomi yang semakin mendekati kondisi lapangan kerja maksimal.

“Data yang ada mencerminkan arah yang sesuai dengan ekspektasi. Oleh karena itu, perubahan kebijakan menuju posisi netral dianggap layak dilakukan seiring waktu,” demikian bunyi pernyataan dalam notula tersebut.

Sentimen ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed kemungkinan besar akan kembali memangkas suku bunga acuan pada rapat Desember mendatang. Berdasarkan CME FedWatch, peluang penurunan suku bunga sebesar 25 bps ke level 4,25-4,5% kini berada di angka 63,2%.

Baca juga: Mending Jual Atau Beli? Harga Emas Kini Mulai Bangun Padahal Sempat Terpuruk Mencapai Angka 4%
Dampak pada Harga Emas

Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), emas cenderung menjadi lebih menarik saat suku bunga turun. Dengan biaya peluang yang lebih rendah, investor biasanya lebih memilih untuk memegang emas, yang dianggap sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan inflasi.
Analisis Teknikal: Masih di Zona Bearish

+++++

Secara teknikal, harga emas masih berada dalam tekanan bearish. Hal ini tercermin dari indikator Relative Strength Index (RSI) yang berada di level 46,75, di bawah ambang batas 50 yang menunjukkan tren bearish. Namun, indikator Stochastic RSI mulai menunjukkan perbaikan, menyentuh level 54,02, yang mengindikasikan potensi pembelian (long) meski belum sepenuhnya kuat.

Harga emas saat ini diperkirakan akan menguji pivot point di level US$ 2.654 per troy ons. Jika level ini berhasil ditembus, maka target resisten berikutnya adalah US$ 2.662 per troy ons, yang merupakan rata-rata pergerakan (Moving Average) 20 hari terakhir. Sebaliknya, jika harga turun, maka target support terdekat berada di level US$ 2.623 per troy ons, dengan potensi penurunan lebih lanjut hingga US$ 2.614 per troy ons.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *