Pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, dihentikan sementara.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghentikan proyek tersebut karena BDX Data Centers selaku pengembang belum mengantongi analisis dampak lingkungan (AMDAL) dan persetujuan bangunan gedung (PBG).
Dedi menegaskan proyek jangan dimulai sebelum dua dokumen itu tersedia.
Ketiadaan AMDAL dan PBG berpotensi menimbulkan masalah dalam pembangunan.
Air dan Biosida dalam Pusat Data AI
Air merupakan sumber daya vital yang digunakan sehari-hari untuk minum, memasak, kebersihan, dan berbagai aktivitas lain.
Selain itu, air kini berperan krusial dalam kemajuan teknologi modern sebagai media pendingin mesin dan server di pusat data AI.
Di balik kemampuan chatbot menjawab pertanyaan dalam hitungan detik atau model AI menghasilkan gambar dan video, terdapat jaringan pusat data raksasa yang membutuhkan pasokan listrik dan air dalam jumlah besar.
Meskipun kueri AI tampak sepele di layar ponsel, prosesnya bergantung pada pusat data yang bekerja tanpa henti di latar belakang.
Diperkirakan sesi interaksi selama 30 menit dengan AI mengonsumsi sekitar 600 mililiter air, setara satu botol air mineral ukuran standar.
Operasional pusat data di Malaysia diperkirakan membutuhkan pasokan air sekitar 70.000 liter per hari untuk setiap megawatt kapasitas operasional.
Ribuan server berbasis AI menghasilkan panas sangat besar selama operasi sehari-hari dan memerlukan pendinginan terus-menerus.
Meningkatnya penggunaan AI secara tidak langsung menimbulkan kekhawatiran mengenai tekanan terhadap sumber daya air, terutama di wilayah yang sering dilanda kekeringan.

