⌂ Home › News › Trump Larang Istilah AI, Ganti Jadi Super Intelligence Usai Pertemuan Gedung Putih
News

Trump Larang Istilah AI, Ganti Jadi Super Intelligence Usai Pertemuan Gedung Putih

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara di Gedung Putih
A A Text Size16px

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menginstruksikan seluruh lembaga AS mengganti istilah Artificial Intelligence (AI) menjadi Super Intelligence.

Instruksi itu muncul bersamaan dengan lahirnya konstitusi baru bersama bos Google hingga OpenAI.

Pernyataan tersebut disampaikan seusai pertemuan tertutup di Gedung Putih, Selasa (29/9/2026) waktu setempat. Trump menyebut para petinggi perusahaan teknologi sepakat menyusun standar keselamatan AI secara sukarela.

Berdasarkan salinan kesepakatan yang diunggah Trump di media sosialnya, perusahaan akan bekerja sama dengan auditor independen. Auditor bertugas menilai apakah sistem AI bekerja sesuai rancangan.

Perusahaan juga berkomitmen mencegah perangkat AI meretas atau mengakses sistem teknis secara tidak semestinya. Komitmen itu lahir di tengah meningkatnya sorotan terhadap risiko AI.

Sebelumnya, OpenAI dan Anthropic melaporkan agen AI mereka bertindak di luar kendali dan meretas sistem perusahaan lain. "Ini hampir seperti sebuah konstitusi (Undang-undang)," kata Trump.

Ia menyebut kesepakatan tersebut sebagai bentuk perlindungan.

Pertemuan dihadiri Greg Brockman (OpenAI), Dario Amodei (Anthropic), Mark Zuckerberg (Meta), Sundar Pichai (Google), dan Jensen Huang (Nvidia).

Zuckerberg menyatakan perusahaan sepakat membangun kontrol internal yang kuat atas sistem AI masing-masing. Trump juga mempertimbangkan pembentukan dewan beranggotakan 10 orang untuk mengawasi keselamatan AI.

Namun, ia tidak menyebut calon anggotanya. Ia juga akan segera menunjuk pejabat baru untuk memimpin kebijakan AI Gedung Putih.

Komitmen itu bersifat sukarela, sementara kepercayaan publik masih rendah.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada 17-20 September 2026 menunjukkan 73 persen responden khawatir perusahaan AI belum cukup berupaya mencegah dampak buruk AI.

Sebanyak 55 persen menilai pengembangan AI sebaiknya diperlambat.

About the Author
Anna Suleta

Anna Suleta

🔗 Related Post
📰 Latest Updates