⌂ Home › News › Enam Film Fiksi Soroti Dampak Sosial Peristiwa 1965
News

Enam Film Fiksi Soroti Dampak Sosial Peristiwa 1965

Ilustrasi enam film fiksi yang merekam sisi lain tragedi 1965
Enam Film Fiksi Soroti Dampak Sosial Peristiwa 1965
A A Text Size16px

Sineas dalam dan luar negeri merekonstruksi gejolak politik, dampak sosial, hingga dimensi kemanusiaan seputar peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) melalui karya film fiksi.

Enam film tersebut menampilkan dinamika sejarah kelam Indonesia dari beragam kacamata penceritaan.

Dari Jurnalis Asing hingga Penyair Gayo

Film produksi Australia, The Year of Living Dangerously (1982) garapan sutradara Peter Weir, mengisahkan jurnalis Guy Hamilton (Mel Gibson) dan fotografer Billy Kwan (Linda Hunt) yang meliput situasi kritis Jakarta pada 1965.

Film ini menampilkan latar ketegangan politik menjelang meletusnya peristiwa tersebut.

Kisah kemanusiaan juga diangkat dalam drama-dokumenter Puisi Tak Terkuburkan (2000) karya Garin Nugroho.

Film ini menuturkan pengalaman nyata penyair asal Gayo, Ibrahim Kadir, yang ditangkap tanpa pengadilan di Penjara Takengon pasca-kejadian 1965 dan bertahan hidup melalui lantunan syair didong.

Perspektif aktivis mahasiswa dihadirkan lewat film Gie (2005) arahan Riri Riza yang dibintangi Nicholas Saputra sebagai Soe Hok Gie.

Alur cerita menyoroti krisis batin sang tokoh atas kondisi politik, penangkapan massal, serta transisi kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru.

Dampak peristiwa di wilayah pedesaan tergambar dalam Sang Penari (2011) karya Ifa Isfansyah.

Film yang diadaptasi dari novel ini memperlihatkan bagaimana kepolosan warga Dukuh Paruk dimanfaatkan oleh politisi partai hingga berujung penangkapan massal oleh militer.

Isu eksil politik diangkat dalam Surat dari Praha (2016) yang disutradarai Angga Dwimas Sasongko.

Cerita berfokus pada nasib Mahdi Jayasri (Tio Pakusadewo), mantan Mahasiswa Ikatan Dinas di Praha yang kehilangan kewarganegaraan karena menolak menandatangani surat kesetiaan kepada Orde Baru.

Sementara itu, konflik antarkelompok masyarakat terekam dalam Kupu-Kupu Kertas (2024) karya Emil Heradi.

Berlatar di Banyuwangi pada 1965, film ini menggambarkan bentrokan akibat sengketa lahan dan perbedaan ideologi yang menguji jalinan asmara dua sejoli dari latar belakang keluarga berseberangan.

Berbagai sineas merekonstruksi dampak sosial dan politik peristiwa G30S/PKI 1965 melalui karya film fiksi nasional maupun internasional.

About the Author
Anna Suleta

Anna Suleta

🔗 Related Post
📰 Latest Updates