Pertumbuhan transaksi sering dianggap sebagai ukuran tunggal keberhasilan sistem pembayaran.
Head of SME Business DOKU Pribadi Hasto Kusumo menilai indikator itu belum cukup untuk menilai apakah infrastruktur benar-benar membantu pemilik usaha.
Menurut Hasto, teknologi pembayaran baru dianggap berhasil ketika operasional harian pemilik bisnis terasa lebih mudah, aman, dan efisien.
Ia menjelaskan risiko jika kedua hal itu tidak berjalan beriringan.
Jika transaksi meningkat tetapi pemilik bisnis kewalahan menghadapi rekonsiliasi manual, komplain pembayaran, atau ancaman fraud, teknologi tersebut dinilai belum menjalankan fungsinya dengan baik.
Hasto menyebut keberhasilan sejati infrastruktur pembayaran terletak pada kemampuannya bekerja reliabel tanpa friksi di balik layar. Dengan begitu, pemilik bisnis dapat fokus mengembangkan usaha.
Persoalan itu bukan hipotesis.
Hasto mencontohkan pengalaman brand lokal berjaringan besar di industri F&B dan ritel fesyen yang memiliki puluhan hingga ratusan cabang.
Pada bisnis seperti itu, setiap cabang menerima pembayaran melalui beberapa metode sekaligus, mulai dari QRIS, kartu, dompet digital, hingga transfer bank.
Masing-masing metode memiliki waktu pencairan berbeda, sementara pencatatannya dilakukan manual dan baru dicocokkan pada akhir periode.
Melalui integrasi solusi DOKU, mereka mengimplementasikan sistem penerimaan pembayaran real-time dengan fitur otomatisasi settlement dan rekonsiliasi dalam satu dasbor terpusat.
Hasilnya, perputaran dana harian menjadi lebih cepat dan lancar. Biaya operasional admin juga berhasil dipangkas drastis.

