⌂ Home News Lippo Karawaci Targetkan Alihkan 3.000 Ton Limbah per Tahun
News

Lippo Karawaci Targetkan Alihkan 3.000 Ton Limbah per Tahun

Ilustrasi pengelolaan limbah daur ulang oleh Lippo Karawaci
Ilustrasi pengelolaan limbah daur ulang oleh Lippo Karawaci
A A Text Size16px

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) memperkuat strategi keberlanjutan dengan menerapkan ekonomi sirkular di berbagai lini bisnis.

Perusahaan memandang limbah sebagai sumber daya yang dapat menciptakan nilai ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan.

Komitmen ini menjadi bagian dari Agenda Keberlanjutan 2030. Targetnya, sedikitnya 3.000 ton limbah dari tempat pembuangan akhir (TPA) dapat dialihkan setiap tahun.

Presiden Direktur LPKR Indra Yuwana mengatakan, penerapan ekonomi sirkular merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

"Penerapan ekonomi sirkular tidak hanya mendukung pencapaian target keberlanjutan perusahaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya kami menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang," ujar Indra dalam keterangan resmi, Rabu (17/6/2026).

Program tersebut dijalankan dengan pendekatan Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Pendekatan ini melibatkan karyawan, penghuni kawasan, pengunjung, tenant, hingga mitra pengelolaan limbah.

Penerapan di Berbagai Sektor

Di sektor perhotelan, jaringan Aryaduta menerapkan sistem pengelolaan sampah terstandarisasi. Pemilahan limbah kering, basah, dan material yang dapat didaur ulang dilakukan secara ketat.

Berbagai material seperti botol plastik, kardus, hingga minyak jelantah dikumpulkan untuk diproses kembali. Penggunaan botol sabun dan sampo sekali pakai telah digantikan dengan dispenser isi ulang.

Sistem berbasis QR code juga diterapkan untuk mengurangi penggunaan kertas dalam aktivitas operasional sehari-hari.

Program sosial berupa penyaluran makanan dan minuman berlebih kepada masyarakat yang membutuhkan juga dijalankan melalui kerja sama dengan organisasi komunitas setempat.

Di kawasan residensial dan township, LippoLand mengembangkan inovasi pengolahan limbah organik. Program tersebut mencakup pengomposan, pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk, budidaya maggot, hingga penerapan teknologi biopower.

Perseroan juga tengah menguji pemanfaatan limbah lanskap menjadi kompos. Tujuannya untuk meningkatkan pemanfaatan kembali material yang berpotensi berakhir di TPA.

Transformasi limbah menjadi sumber daya bernilai tambah juga dilakukan melalui fasilitas Wastewater Treatment Plant (WWTP). Departemen tersebut tengah mengeksplorasi pemanfaatan produk sampingan biodegradable sebagai pupuk organik.

Pihak pengelola juga mengkaji penggunaan sludge cake sebagai bahan baku konstruksi, termasuk untuk pembuatan blok beton.

Di sektor ritel, Lippo Malls berhasil meningkatkan tingkat pengalihan limbah dari TPA. Saat ini sekitar 18% dari total limbah yang dihasilkan telah didaur ulang.

Selain mengelola limbah kertas, plastik, dan aluminium, pengelola pusat perbelanjaan tersebut menggandeng mitra khusus untuk menangani limbah refrigeran dari sistem pendingin berskala besar.

Program pengurangan penggunaan kantong plastik sekali pakai yang telah diterapkan di Jakarta dan Bali juga terus diperkuat melalui kolaborasi bersama tenant di berbagai pusat perbelanjaan.

About the Author
📰 Latest Updates