⌂ Beranda News Kelompok Bersenjata Serang Cabo Delgado, Tewaskan Warga dan Picu Pengungsian

Kelompok Bersenjata Serang Cabo Delgado, Tewaskan Warga dan Picu Pengungsian

Kelompok Bersenjata Serang Cabo Delgado, Tewaskan Warga dan Picu Pengungsian
Serangan bersenjata di Cabo Delgado, Mozambik
A A Ukuran Teks16px

Kelompok ekstremis bersenjata melancarkan serangan baru di Provinsi Cabo Delgado, Mozambik, pada awal Juni 2026. Serangan ini menewaskan sedikitnya empat orang dan menyebabkan belasan warga diculik.

Di Desa Xitaxi, Distrik Muidumbe, para petani yang sedang beraktivitas di ladang menjadi sasaran. Tiga orang tewas dalam insiden tersebut.

>>> Jepang Gencarkan Perawatan Prakonsepsi untuk Atasi Penurunan Kelahiran

“Mereka menyerang ladang kami dan membunuh tiga orang,” ujar seorang warga setempat kepada Lusa. Serangan itu juga diikuti penjarahan hasil bumi milik masyarakat.

Sementara itu, di Distrik Ancuabe, kelompok bersenjata bergerak di lima desa, yaitu Nonia, Naputa, Nacuale, Nacololo, dan Merremano.

Seorang anggota pasukan keamanan lokal tewas, dan lebih dari 10 orang diculik di Desa Nonia.

Eskalasi kekerasan ini memicu arus pengungsian besar-besaran.

Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (OIM), sebanyak 19.325 orang melarikan diri ke distrik tetangga seperti Montepuez dan Chiúre antara 1 Mei hingga 3 Juni 2026.

>>> Cara Klaim DANA Kaget Terbaru dengan Mudah dan Aman

Dari jumlah tersebut, 9.519 adalah anak-anak dan 172 perempuan hamil.

Pernyataan Uskup Pemba

Menanggapi krisis ini, Uskup Pemba D. António Juliasse Ferreira Sandramo menyatakan bahwa kelompok jihadis kini secara terbuka menyebut tujuan mereka.

“Mereka berbicara terbuka tentang kekhalifahan. Saat menculik korban, mereka mengatakan sedang bekerja untuk kekhalifahan,” tegasnya.

Uskup Juliasse juga menyoroti rusaknya toleransi antaragama di Cabo Delgado. “Yang mengkhawatirkan adalah ujaran kebencian yang menyertai kekerasan ini,” ujarnya.

Kerukunan yang dulu terjalin antara komunitas Kristen dan Muslim kini terancam akibat radikalisasi.

>>> Mengenal Dampak Buruk Oversharing dan Faktor Psikologis Pemicunya

Ia menambahkan bahwa agama yang dulu menjadi perekat kini mulai menjadi faktor perpecahan. Selain itu, ia mengkritik minimnya perhatian dunia internasional terhadap tragedi kemanusiaan ini.

“Diam bisa diartikan sebagai kehati-hatian, tetapi juga sebagai kurangnya minat,” katanya.

Uskup menilai solusi militer saja tidak cukup. “Saya tidak percaya opsi militer adalah satu-satunya solusi.

Mozambik juga mengenal jalan dialog,” tegasnya. Meski konflik telah berlangsung hampir sembilan tahun, ia meminta umat tetap bertahan dan tidak kehilangan harapan.

Berdasarkan data ACLED, terjadi delapan peristiwa kekerasan dalam dua minggu terakhir Mei di Cabo Delgado.

>>> Jasa Armada Indonesia Siapkan Strategi Jaga Pertumbuhan Berkelanjutan

Kelompok yang terafiliasi dengan ISIS Mozambik bertanggung jawab atas mayoritas dari 2.397 insiden kekerasan sejak konflik pecah pada Oktober 2017.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru