⌂ Beranda News Pixar Rilis Toy Story 5, Soroti Dampak Gawai Digital pada Anak

Pixar Rilis Toy Story 5, Soroti Dampak Gawai Digital pada Anak

Pixar Rilis Toy Story 5, Soroti Dampak Gawai Digital pada Anak
Poster film Toy Story 5 menampilkan Woody dan Buzz Lightyear
A A Ukuran Teks16px

Pixar Animation Studios resmi merilis Toy Story 5 di bioskop global. Film kelima waralaba ini menyoroti kecanduan gawai digital dan kesepian anak di era modern.

Sekuel ini disutradarai oleh Andrew Stanton dan McKenna Harris. Cerita berpusat pada Bonnie, seorang anak berusia delapan tahun yang kesulitan bersosialisasi.

>>> Bayern Munchen Sepakati Perpanjangan Kontrak Konrad Laimer

Orang tua Bonnie membelikannya tablet bernama Lilypad. Kehadiran perangkat digital itu memicu kekhawatiran mainan klasik seperti Woody dan Buzz Lightyear.

Woody, karakter koboi ikonik, menyampaikan pandangannya tentang pergeseran zaman. "Tech is for everything," ujarnya dalam film.

Kondisi psikologis Bonnie yang terisolasi menjadi titik sentral emosional. "Why won't anyone be my friend?"

kata Bonnie dalam salah satu adegan.

Respons Kritikus terhadap Toy Story 5

Kritikus Dan Bayer dari Next Best Picture memuji film ini. Ia menyebutnya sebagai salah satu film terbaik Pixar dalam beberapa tahun terakhir.

"Against all odds, those wizards at Pixar have done it again… resulting in one of their best films in recent memory," kata Bayer.

Ia menilai film ini berhasil mengeksplorasi sisi manusia dengan cara baru.

David Gonzalez dari The Cinematic Reel juga memberikan pujian. Ia mengatakan waralaba ini terus menghadirkan permata baru.

"Against all odds, one of the greatest franchises ever created has delivered yet another gem," ujar Gonzalez. Ia menambahkan bahwa film ini tetap relevan dengan pertumbuhan audiens.

Joshua Mbonu dari Geek Vibes Nation menyebut Toy Story 5 sebagai tambahan yang layak. Namun, ia mencatat beberapa alur cerita pendukung terasa kurang menyatu.

"The film is definitely rougher around the edges compared to previous entries, with its many cluttered subplots," kata Mbonu.

>>> MBMA Usulkan Perombakan Direksi demi Perkuat Operasional dan Keuangan

Meski begitu, ia memuji keseimbangan emosional antara karakter mainan dan manusia.

Shakyl Lambert dari CGMagazine membandingkan film ini dengan trilogi awal. Ia mengakui bahwa Toy Story 5 tidak mencapai ketinggian film pertama, tetapi tetap menjadi tambahan fantastis.

Tessa Smith dari Mama's Geeky menyoroti fokus cerita pada Jessie dan Bonnie. Menurutnya, itu menjadi kekuatan utama sekuel ini.

"The real triumph of Toy Story 5 is that it belongs to Jessie and Bonnie," kata Smith. Namun, ia merasakan ketidakselarasan akibat banyaknya plot yang berjalan bersamaan.

Kritik datang dari Jake Cole dari Slant Magazine. Ia menilai estetika klasik film sebelumnya hampir tidak ada.

"The aesthetic whimsy that’s made the Toy Story movies so popular is all but absent," kata Cole.

Ia juga menganggap subplot Buzz dan Woody hanya sebagai alasan untuk mengumpulkan karakter.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru