Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) berhasil mengumpulkan dana segar sebesar US$ 1,5 miliar atau setara Rp 26,55 triliun.
Dana tersebut diperoleh melalui penerbitan obligasi global.
>>> BEI Pantau Ketat Saham FLMC Akibat Aktivitas Tidak Wajar
Penerbitan surat utang internasional ini mencatatkan lonjakan permintaan hingga tiga kali lipat dari target awal.
Puncak komitmen investasi dari pemodal internasional mencapai US$ 4,6 miliar atau sekitar Rp 81,40 triliun.
Dua Tenor Obligasi
CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa obligasi global ini diterbitkan dalam dua kategori tenor.
>>> 21 Ide Ice Breaking MPLS SD, SMP, SMA 2026 yang Seru dan Menarik
Surat utang bertenor 5 tahun dilepas dengan yield 5,35% untuk menghimpun dana US$ 750 juta.
Sisa dana US$ 750 juta lainnya diperoleh melalui surat utang bertenor 10 tahun dengan yield 5,95%.
"Kami bisa closing di, yang lima tahun di 5,35%, yang 10 tahun di 5,95%.
Ini adalah hasil yang sangat-sangat baik," ujar Rosan dalam keterangan pers di Istana Kepresidenan, Senin (15/6/2026).
>>> Rupiah Menguat ke Rp 17.708 Per Dolar AS pada 15 Juni 2026
Menurut Rosan, tingginya partisipasi investor global membuktikan kepercayaan terhadap Indonesia. "Banyak yang menyampaikan selama ini, 'Oh tidak akan ada investasi mau percaya kepada kita.'
Tapi ini real. Ini membuktikan bahwa memang kepercayaan investor terhadap Indonesia, itu ada dan tinggi," imbuhnya.
Seluruh dana hasil pembiayaan dijadwalkan masuk ke rekening resmi Danantara pada 18 Juni. Sebelum transaksi, Danantara meluncurkan instrumen pendanaan melalui Danantara Investment Management (DIM).
>>> Telkomsel dan Fola Play Hadirkan Paket Bundling Piala Dunia 2026
Penerbitan perdana obligasi berdenominasi dolar AS ini menjadi momentum krusial untuk menguji respons pasar internasional terhadap aset strategis Indonesia.