Pidato kelulusan CEO Google Sundar Pichai di Universitas Stanford pada akhir pekan lalu diwarnai aksi walkout massal oleh para mahasiswa.
Lebih dari 100 lulusan serentak berdiri dan meninggalkan aula saat Pichai baru memulai pidatonya.
>>> Bank Indonesia Catat Utang Luar Negeri April 2026 Tumbuh 1,9 Persen
Aksi tersebut diiringi sorakan kekecewaan dan teriakan seperti “Free, free, Palestine” serta “Shame on you”. Protes ini dinilai telah direncanakan secara matang oleh para mahasiswa.
Menurut laporan jurnalis The Information, Erin Woo, aksi ini tidak terkait dengan kontroversi kecerdasan buatan (AI).
Pemicunya adalah hubungan kerja sama Google dengan pemerintah dan militer Israel, khususnya melalui Proyek Nimbus.
Proyek Nimbus merupakan kontrak senilai USD 1,2 miliar antara Google dan Amazon dengan militer serta pemerintah Israel.
>>> Pemprov DKI Buka Pendaftaran PMB Sekolah Swasta Gratis 2026
Google menyediakan layanan komputasi awan dan teknologi AI yang dikecam karena minim transparansi.
Isu kedua yang memicu protes adalah kerja sama Google dengan Badan Penegakan Bea Cukai dan Imigrasi AS (ICE).
Sejumlah mahasiswa membentangkan spanduk protes terkait hal ini.
>>> Android dan iPhone Kini Bisa Deteksi Alat Pelacak Bluetooth Misterius
Sebelumnya, pada Februari lalu, 900 staf Google telah mendesak transparansi karena khawatir teknologi mereka digunakan untuk tindakan keras terhadap imigran.
Meskipun situasi riuh, Pichai tetap melanjutkan pidatonya. Aksi ini menambah daftar panjang protes mahasiswa terhadap tokoh teknologi di musim wisuda.
Sebelumnya, mantan CEO Google Eric Schmidt juga mendapat protes serupa saat berbicara di Universitas Arizona terkait pandangannya soal AI.
Beberapa mahasiswa bahkan meneriakkan “Epstein files!” dalam aksi tersebut.
>>> Jadwal KRL Solo Jogja 15 Juni 2026 Alami Penambahan Perjalanan
Fenomena ini menunjukkan sikap generasi lulusan yang semakin kritis dan tidak segan menuntut pertanggungjawaban etis dari para pemimpin industri global.