⌂ Beranda News Rupiah Diprediksi Fluktuatif Sepekan ke Depan, Bergerak di Rp 17.800-Rp 18.000 per Dolar AS

Rupiah Diprediksi Fluktuatif Sepekan ke Depan, Bergerak di Rp 17.800-Rp 18.000 per Dolar AS

Rupiah Diprediksi Fluktuatif Sepekan ke Depan, Bergerak di Rp 17.800-Rp 18.000 per Dolar AS
Grafik nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat dalam sepekan ke depan.

Pergerakan ini terjadi setelah mata uang Garuda sempat menguat tajam pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

>>> Musisi Oliver Tree Tewas dalam Kecelakaan Helikopter di Brasil

Pada perdagangan Jumat (12/6/2026), rupiah ditutup menguat 128 poin ke level Rp 17.860 per dolar AS.

Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya rupiah sempat tertekan hingga menembus level psikologis di atas Rp 18.000 per dolar AS.

Langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi pendorong utama pemulihan rupiah. Kenaikan suku bunga membuat aset keuangan domestik kembali menarik bagi investor.

"Kenaikan suku bunga BI membuat aset rupiah kembali lebih menarik, terutama instrumen jangka pendek seperti SRBI dan SBN tenor pendek-menengah.

Hal ini membantu menahan tekanan jual rupiah dan memberi sinyal bahwa BI siap menjaga stabilitas nilai tukar secara lebih tegas," ujar Josua kepada Investor Daily di Jakarta, dikutip Minggu (14/6/2026).

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Untuk pekan depan, kisaran nilai tukar rupiah yang realistis diperkirakan antara Rp 17.800 hingga Rp 18.000 per dolar AS.

Keberlanjutan tren penguatan sangat bergantung pada tiga indikator utama: arus modal masuk, pergerakan indeks dolar, dan stabilitas komoditas dunia.

>>> Timnas Swedia Kembali ke Piala Dunia Setelah Absen Delapan Tahun

"Kedua, apakah dolar AS dan imbal hasil surat utang Amerika Serikat tidak kembali menguat. Kemudian apakah harga minyak dan ketegangan Timur Tengah tidak memburuk lagi," jelas Josua.

Jika ketiga faktor tersebut relatif stabil, rupiah berpeluang bertahan di bawah Rp 18.000 per dolar AS hingga awal pekan depan.

Peluang penguatan lebih lanjut masih terbuka jika sentimen pasar mendukung.

Skenario penguatan yang lebih tinggi dapat terjadi jika ada aliran masuk modal asing yang masif ke instrumen obligasi negara.

Selain itu, penurunan harga komoditas energi dan komunikasi kebijakan yang solid juga menjadi penentu.

"Sebaliknya, rupiah bisa kembali melemah ke atas Rp 18.100 apabila dolar AS menguat, harga minyak naik, atau investor kembali khawatir terhadap arah fiskal dan kebijakan domestik," ucap Josua.

>>> Cara dan Syarat Mengajukan GoPay Pinjam 2026 Agar Cepat Disetujui

Kualitas modal asing yang masuk juga menjadi perhatian. Penempatan dana pada instrumen jangka pendek belum mencerminkan pemulihan kepercayaan pasar seutuhnya.

"SRBI menarik karena imbal hasilnya tinggi dan tenornya pendek, tetapi bukan berarti investor sudah kembali percaya penuh pada prospek Indonesia.

Penguatan rupiah akan lebih sehat jika disertai masuknya dana asing ke SBN dan saham, karena itu menunjukkan pemulihan kepercayaan yang lebih luas," jelasnya.

Kebijakan pengetatan moneter melalui suku bunga tinggi juga membawa konsekuensi bagi perekonomian.

Imbal hasil SBN naik, biaya pendanaan pemerintah berpotensi lebih mahal, dan bunga kredit ke sektor riil berisiko tetap tinggi.

"Karena itu, BI tidak bisa terus-menerus menjadi satu-satunya penopang rupiah melalui suku bunga tinggi.

Pemerintah perlu membantu dari sisi kepercayaan melalui disiplin APBN, kepastian kebijakan, pengelolaan subsidi energi, dan komunikasi ekonomi yang lebih konsisten.

>>> Malaga vs Almeria di Leg Pertama Final Playoff Ascenso

Jadi, penguatan rupiah bisa bertahan hingga pekan depan, tetapi sifatnya masih bersyarat dan rentan berbalik," bebernya.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru