Melalui perspektif baru tersebut, timnya kembali kepada masyarakat untuk mengajukan pertanyaan yang lebih baik. Mereka juga belajar mendengarkan dengan lebih saksama sebelum menawarkan rekomendasi.
Pengalaman itu membuat Allegra memahami pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia atau human-centered solution. Ia meyakini solusi terbaik harus lahir dari kebutuhan orang-orang yang mengalaminya secara langsung.
Menjelang akhir pidato, ia mengingatkan para lulusan bahwa ilmu pengetahuan dan pendidikan sering kali mendorong seseorang menciptakan solusi yang terlihat canggih dan elegan.
Namun, pendekatan tersebut tidak selalu menjadi jawaban yang paling tepat.
Allegra mengajak para lulusan untuk tidak terburu-buru menawarkan jawaban atas sebuah persoalan.
>>> 5 Cara Mudah Kelola Pengeluaran Bulanan di Dompet Digital
Sebaliknya, ia mendorong mereka untuk terlebih dahulu memahami hal-hal yang belum terlihat dan sudut pandang orang yang terdampak.
"Baik itu di ruang kelas, di tempat kerja, dalam pekerjaan kebijakan, atau bahkan dalam situasi sehari-hari ketika ada seseorang di hadapan kalian, pikirkanlah terlebih dahulu: 'Apa yang tidak saya lihat?'
Dan 'Bagaimana hal ini terlihat bagi orang yang ada di hadapan saya?'" pesan Allegra.
Ia juga mengingatkan pentingnya memahami bagaimana sebuah persoalan dirasakan oleh orang lain sebelum menentukan definisi masalah yang sebenarnya.
Menurutnya, pelajaran itu menjadi salah satu hal paling berharga yang ia peroleh selama di HGSE.
Allegra menilai kegagalan melihat persoalan dari sudut pandang orang lain berisiko membuat manusia diperlakukan sekadar sebagai objek yang harus dikelola.
Padahal, pendidikan seharusnya berangkat dari upaya memahami dan mendengarkan manusia yang berada di balik setiap persoalan.
"Pertimbangkan bagaimana masalah tersebut dirasakan oleh orang lain sebelum memutuskan apa sebenarnya masalahnya. Itulah yang diajarkan HGSE kepada saya.
Jika tidak, kita berisiko memperlakukan orang lain sebagai objek yang harus dikelola, bukan sebagai manusia yang perlu dipahami," kata Allegra.
Menutup pidatonya, Allegra mengajak seluruh wisudawan untuk selalu mengambil second look atau melihat kembali persoalan secara lebih mendalam.
Dia percaya perubahan besar dapat dimulai ketika seseorang berani melihat sesuatu dengan lebih jernih.
"Jadi, para lulusan, mulailah melangkah maju mulai hari ini dan ingatlah untuk selalu melihat lebih dalam, karena kita takkan pernah berhenti menjelajah.
Pada akhirnya, semua penjelajahan kita akan membawa kita kembali ke tempat kita memulai, dan kita akan mengenal tempat itu untuk pertama kalinya.
Dan ketika kalian sampai di sana, semoga kita memiliki keberanian untuk selalu melihat dengan jelas bahwa itulah cara kita mengubah dunia.
Terima kasih," kata Allegra.
Allegra Jade Dreanda Isdar saat ini menempuh program Master of Education bidang Human Development and Education di Harvard University.
Pendidikan tersebut dijalaninya sejak Juni 2025 hingga Mei 2026.
Sebelum berkuliah di Harvard, Allegra meraih gelar Bachelor of Arts bidang Psikologi dari University of Michigan pada Mei 2025.
Dia diketahui telah menyelesaikan pendidikan Associate of Arts bidang Psikologi di Green River College pada Juni 2023.
Selain aktif di bidang akademik, Allegra dikenal sebagai musisi muda yang merilis mini album Allegra: The EP pada usia 17 tahun.
Seluruh lagu dalam album tersebut ditulis dan dikomposisikan sendiri.
Selama menempuh pendidikan di University of Michigan, ia aktif dalam organisasi mahasiswa dan berbagai kegiatan kepemimpinan. Ia juga terlibat dalam PERMIAS Michigan serta kelompok a cappella Amazin' Blue.
Di bidang profesional, Allegra pernah menjalani magang di Bank Jago sebagai People and Culture (HR) Branding and Engagement Specialist.
>>> Ibu Rumah Tangga Perlu Strategi Tepat untuk Memulai Bisnis Fashion
Ia turut berkontribusi dalam kampanye Jago Digital Academy yang ditujukan untuk pengembangan talenta muda.