⌂ Home News Kurs Rupiah Menguat ke Rp17.703 per Dolar AS Jelang Keputusan BI Rate
News

Kurs Rupiah Menguat ke Rp17.703 per Dolar AS Jelang Keputusan BI Rate

Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
Grafik pertumbuhan uang primer Bank Indonesia
A A Text Size16px

Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Senin (15/6/2026). Mata uang Garuda naik 0,94 persen ke level Rp17.703 per dolar AS.

Penguatan ini menjadikan rupiah sebagai mata uang terkuat kedua di Asia setelah peso Filipina. Data tersebut dilansir dari Bloomberg Technoz.

Sentimen positif datang dari berkurangnya tekanan eksternal. Harga minyak mentah dunia terkoreksi 4,67 persen ke posisi US$83,25 per barel.

Bank Indonesia juga agresif menaikkan suku bunga acuan sebanyak 75 basis poin. Langkah ini memperkuat daya tarik aset keuangan domestik.

BI juga menaikkan imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga 7,64 persen. Keputusan itu diambil dalam lelang terakhir pada Jumat (12/6/2026).

Di sisi lain, pemerintah menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi menjadi Rp16.250 per liter. Kebijakan ini meredakan kekhawatiran pelaku pasar akan tekanan fiskal.

Penyesuaian anggaran pada program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) juga menjadi sinyal positif.

Pelaku pasar melihat komitmen pemerintah menjaga disiplin fiskal.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai strategi ini berpotensi melanjutkan penguatan rupiah. Nilai tukar diproyeksikan bergerak menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS pada pekan depan.

"Pasar mulai melihat bahwa otoritas ekonomi Indonesia bersedia mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memulihkan kepercayaan investor," kata Fakhrul.

Kini perhatian pasar tertuju pada keputusan suku bunga acuan BI Rate pekan ini.

Konsensus ekonom memperkirakan BI akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Penguatan rupiah berjalan selaras dengan mayoritas mata uang Asia.

Peso Filipina memimpin penguatan sebesar 1,44 persen, diikuti rupiah 0,94 persen, dan rupee India 0,52 persen.

Lonjakan peso Filipina didorong oleh kesepakatan sementara antara AS dan Iran untuk menghentikan konflik. Sentimen ini juga memicu kenaikan signifikan pada pasar saham Filipina.

Analis Barclays Brian Tan menyebut kesepakatan tersebut memperkuat posisi kelompok yang mendukung pelonggaran kebijakan moneter. Hal ini terjadi menjelang rapat bank sentral kawasan pada 19 Juni.

Barclays memproyeksikan Bank of Korea, Bank sentral Taiwan, dan Bank Negara Malaysia masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.

"Bahkan jika konflik Timur Tengah mengalami deeskalasi yang lebih signifikan," sebut Tan.

Sementara itu, Reserve Bank of India dan Bank of Thailand diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga acuan hingga akhir tahun.

Kedua bank sentral tersebut dinilai kurang sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar.

About the Author
📰 Latest Updates