Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat siang, 29 Mei 2026.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 11.13 WIB, mata uang Indonesia melemah 39 poin ke level Rp 17.885 per dolar AS.
Padahal, indeks dolar AS di pasar internasional justru turun 0,03 persen ke level 99.053.
Sebelumnya, rupiah sempat dibuka menguat 9 poin ke posisi Rp 17.836 per dolar AS.
Tekanan Geopolitik dan Impor Minyak
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pelemahan masih akan berlanjut hingga menembus Rp 18.000 per dolar AS pada pekan depan.
"Kemungkinan besar antara hari Senin atau Selasa rupiah di level Rp 18.000 akan tercapai," ujarnya.
Pemicu utama dari eksternal adalah situasi politik di Timur Tengah yang kian memanas, khususnya setelah Iran menutup Selat Hormuz.
"Tensi geopolitik di Timur Tengah terus memanas.
Terutama pasca Iran melakukan blokade di Selat Hormuz yang menampung 20% transportasi minyak dan gas tengah terhambat total," jelas Ibrahim.
Hambatan logistik itu memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, baik Brent maupun WTI.
Dampaknya langsung terasa pada anggaran negara karena Indonesia mengimpor 1,5 juta barel minyak per hari.
"Sehingga pemerintah membutuhkan dolar yang cukup banyak untuk menanggulangi defisit APBN," tambahnya.
Ibrahim juga menekankan bahwa pelemahan rupiah bukan karena kegagalan kebijakan Bank Indonesia, melainkan masalah struktural.
"Pertama, depresiasi neraca transaksi berjalan yang bersifat struktural bukan temporer, membuat investor asing susah masuk ke saham dan obligasi Indonesia," paparnya.
