Senin, 05 Februari 2018

Konsep Kitab Suci pada Novel Alkudus
Buku Alkudus/Doc.Sinergia
Judul              : Alkudus
Penulis          : Asef Saeful Anwar
Penerbit         : Basabasi
Terbit              : April 2017
Tebal              : 268 halaman
ISBN               : 978-602-61160-0-0

Al-qur’an dan kitab suci lain disebut sebut sebagai karya sastra paling sempurna, dengan menggunakan bahasa yang dianggap indah. Juga keberadaanya yang selalu ditempatkan lebih tinggi dari pada buku lain. Bila membaca kata “Alkudus” bisa jadi dikonotasikan sebagai kitab suci yang harus ditinggikan derajatnya dibanding bacaan lain.  Dalam kamus besar bahasa Indonesia kudus berarti murni atau suci, sesuatu yang dianggap suci. Namun Asef Saeful Anwar mencoba menuangkan ramuan baru dalam jenis tulisannya. Alkudus, novel karya Asef Saeful Anwar.

Asef mencoba menuangkan gaya bahasa laiknya kitab suci dalam novelnya. Dari cover dan judul sangat mencolok seperti sungguhan kitab suci. Halaman pertama hanya berisi tulisan “ha ba sin ro ya” pada sisi bawah halaman, entah apa maksudnya. Di halaman selanjutnya terdapat tulisan yang meminta pembaca bersuci terlebih dahulu sebelum mulai membaca novel tersebut, totalitas si penulis memposiskan novelnya bak kitab suci. Konsistensi penggunaan bahasa ia dukung pula dengan adanya ayat-ayat, perawian, sabda, dan periwayatan dalam Alkudus.

Halaman berikutnya adalah daftar isi, dibuat sedetail mungkin serupa karya tulis ilmiah. Banyak bab, banyak tokoh serta banyak cerita yang ditampilkan dengan berbagai sudut pandang. Asef membantu para pembaca dengan menampilkan silsilah keturunan rasul agama Kaib pada halaman 9.Terdapat kemiripan dengan kandungan Al-Qur’an namun Asef menyuguhkan dalam gaya berceritanya sendiri. Pembawaan novel dengan gaya bercerita laiknya tafsir kitab, tak seperti novel pada umumnya yang dirasa para pembaca lebih ringan untuk dicerna, Asef benar-benar membebaskan imajinasinya. Entah ada ketakutan atau tidak bila suatu saat novelnya dituduh sebagai novel SARA.

Terdapat konflik, percintaan, persaudaraan hingga pembunuhan dalam novel Alkudus. Catatan kaki membantu para pembaca agar lebih memahami istilah-istilah yang diciptakan Asef dalam novelnya. Dama dan Waha adalah manusia pertama yang diciptakan dan diturunkan dari langit ke bumi. Diciptakan dari tanah negeri yang sama yakni negeri Wawut, Dama dan Waha diturunkan di bumi secara terpisah, mereka saling mencari satu sama lain. Sebelum akhirnya bertemu dan beranak pinak, membuat populasi dan peradaban manusia di muka bumi. 

Namun hadir pula iblis yang berbentuk angin, membisikan niat-niat jahat kepada anak-anak Dama dan Waha hingga terjadi perselisihan, kebencian bahkan pertumpahan darah antar saudara. Nama tokoh yang sering disebut, “Dama dan Waha” bila kata tersebut dibolak-balik mirip dengan nama manusia pertama yang diciptakan dan diterangkan dalam Al-Qur’an yaitu Adam dan Hawa. Cerita turunnya Dama dan Waha ke bumi ini mirip dengan Adam dan Hawa yang akhirnya diturunkan ke bumi karena memakan buah Kuldi di surga. Laiknya Adam dan Hawa, Dama dan Waha pun diturunkan secara terpisah ke bumi dengan jarak cukup jauh.

Pada halaman 45 dijelaskan tentang larangan memakan makanan yang menghilangkan akal. Pada catatan kaki “Sebagaimana diriwayatka Bakijah, Erelah Sang Utusan menerangkan makna ayat ini dengan sabdanya yang ke-702: Sesungguhnya makanan dan minuman yang menghilangkan akalmu bukan hanya yang dapat memabukkanmu, tapi juga segala makanan dan minuman yang engkau dapatkan dengan menghilangkan akalmu.” Kutipan pada halaman ini mirip dengan Qur’an surat Al-Maidah ayat 90 : “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya meminum khamar (minuman memabukkan), berjudi, berkurban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan.

Terdapat sedikit kesamaan, yakni sama-sama membahas minuman memabukkan. Pada halaman 34 ayat 56 mirip dengan Qur’an surat Yasin ayat 82, tentang begitu mudahnya Tuhan menciptakan sesuatu. Pada halaman 82 ayat 23-28 mirip dengan Qur’an surat Ar-rum ayat 21, tentang perintah menikah. Halaman 200 yang berjudul Larangan Bersikap Munafik ini pun mirip dengan Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 204 tentang kemunafikan. Memang sengaja menyamakan untuk menyempurnakan konsep kitab suci pada novelnya atau bagaimana, hanya Asef yang tahu.

Tidak terdapat alinea dari kesuluran isi buku, percakapan antar tokoh dituliskan sebagai sabda, laiknya kitab suci pada umumnya. Tokoh yang digunakan adalah Tuhan, Nabi, malaikat, setan, Rasul dan para keturunan Rasul yang diciptakan oleh Asef. Banyak sekali tokoh yang dituangkan Asef pada novelnya.

Penulis lain yang menampilkan banyak tokoh dalam bukunya adalah Y. Agusta Akhir. Menjadi kelebihan Asef yang konsisten dengan begitu banyaknya tokoh. Seperti cuplikan pada halaman 108 ayat 34 “Yahmur adalah anaknya Lekhta anaknya Wasmed anaknya Lokat anaknya Keliat anaknya Riwama anaknya Nabasy anaknya Lehti anaknya Hujut anaknya Sittah anaknya Husah anaknya Filom anaknya Baikya anaknya Sana yang dikawinkan dengan Sibda yang lahir dari rahim Esimar anaknya Dama dan Waha.” Hal serupa juga terdapat pada halaman 144.

Akan menemukan tokoh baru di tiap judulnya. Yang awalnya hanya Dama dan Waha, akan bermunculan tokoh lain yakni anak-anak Dama dan Waha yang akhirnya saling menikah dan mempunyai anak lagi, begitu seterusnya. Bisa jadi antara pembaca satu dan pembaca lain menemukan tokoh utama yang berbeda. Dama dan Waha dibunuh oleh penulis pada judul Kematian Dama dan Waha halaman 64. Terlalu dini bila tokoh utama mati diawal cerita. Bisa jadi Dama dan Waha bukan sebagai tokoh utamanya.  Dari silsilah keturunan Rasul agama Kaib, tokoh terakhir adalah Erelah.

Novel Alkudus menceritakan awal terbentuknya bumi seisinya hingga akhir jaman, bisa pula diklasifikasikan sebagai roman pendek. Konsep penokohan menjadi sisi unik dalam novel yang ditulis Asef pun juga deskripsi latar yang konsisten. Diksi ringan dengan gaya penulisan adopsian kitab suci, menjadikan Alkudus sebagai prosa berkarakter kuat.

Cerita-cerita yang ditampilkan menarik, seperti ajaran dharma agama Kaib, perintah sunat, pembunuhan antar saudara, kecemburuan dalam rumah tangga,tentang sembilan malaikat yang wajib dipahami oleh pemeluk agama Kaib dan cerita menarik lain. Asef menyuguhkannya sangat detail, dan membuat banyak catatan kaki untuk membantu pembaca. Dari sisi eksperimental, Asef cukup bereksperimen dengan Alkudus. Meski dari ide cerita banyak mengadopsi kandungan isi Al-Qur’an.

Oleh Friliya
Anggota klub buku Basabasi Jogjakarta

Selasa, 09 Januari 2018

JUNGKIR BALIK MEMBACA EKO TRIONO
Buku Eko Triono berjudul Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini/Doc.Teguh Afandi

Judul             : Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini
Penulis          : Eko Triono
Penerbit        : Basabasi
Cetakan        : Desember 2017
Tebal             : 220 Hlm; 14 x 20 cm
ISBN             : 987-602-6651-67-9

Spontan Saya teringat dengan salah satu ceramah Umar Kayam di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada akhir tahun 1970, yang berjudul “Penghayatan Seni dan Eksplorasi Seni; Dua Wajah Dalam Kehidupan Kebudayaan Kita” saat membaca antologi cerpen terbaru Eko Triono (selanjutnya dibaca ET) yang berjudul Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini (2017). Sedikit banyak menyerupai kaidah sastra Indonesia kontemporer yang seharusnya selalu dihayati dan dieksplorasi dengan sungguh-sunguh.

Kira-kira begini pemahaman saya tentang ceramah Umar Kayam itu: dengan mengutip Richard Kostelanetz, bahwa sastra Indonesia kontemporer ialah sastra yang mencoba untuk memahami sifat radikal masa kini, baik dalam bentuk maupun isi, di samping sifat radikal yang menunjukkan hasrat abadi dalam diri manusia dan di dalam warisan sejarah kebudayaan yang terus bergejolak hingga sekarang. Membaca cerpen ET dalam antologi terbarunya, akan dihadapkan dengan eksperimentasi bentuk dan isi dari manusia masa kini.

Sebelum lebih jauh mengupas eksperimen ET, setidaknya kita perlu melihat karya kontemporer pada tahun 1970. Iwan Simatupang, misalnya, dengan novelnya Merahnya Merah, Ziarah, dan Kering serta dramanya yang berjudul Taman, Bulan Bujur Sangkar, atau novel Putu Wijaya yang berjudul  Telegram, dan beberapa drama Arifin C. Noer berjudul Kapai-Kapai dan Sumur Tanpa Dasar. Semua itu menjadi sekelumit bukti—bukan maksud meniadakan bukti lain—yang bisa dijumpai.

Karya-karya tersebut mengandung unsur-unsur radikal yang meninggalkan bentuk atau rupa novel sebelumnya. Tak ayal, Goenawan Mohamad—ulasannya dalam Budaya Jaya, Juni 1974—menegaskan bahwa drama Iwan Simatupang yang berjudul Taman, “menampilkan tragedi bahasa serta macetnya dialog antara manusia seperti yang diwujudkan oleh teater absurd. Selanjutnya dalam dramanya Arifin C. Noer yang berjudul Kapai-Kapai mengandung fatalisme, cermin hidup yang muram dan tak ada penghibur sejati”.

Dalam konteks terminologi cerpen yang jamak dipahami dan banyak dilakukan oleh para penulis, cerpen ET yang berjudul Cerita dalam Satu Kata (hlm. 15), Cerita dalam Banyak Katanya (hlm. 16), dan beberapa cerita lainnya, sejauh pemahaman saya, merupakan suatu dekonstruksi bentuk dan cerita yang tidak bebes ‘ide’ dengan menafikan unsur konvensional lainya seperti tokoh, plot, dan alur. Diakui atau tidak, beberapa cerita di atas merupakan sebuah ‘ide’ yang sengaja ET lakukan untuk mencapai upaya ekperimennya.

Sampai di sini, bisa diteguhkan bahwa inilah upaya ET yang bisa dikategorikan sebagai sastra kontemporer yang patut diapresiasi, meskipun menggugurkan hal lain yang sama-sama penting dalam konteks cerpen secara terminologis. Meskipun upaya ini, menurut saya, hanya berkisar pada bentuk sebuah cerita yang diolah dengan tidak sepi dari gagasan dan kesengajaan. Memang sebatas bentuk, numun bukan berarti menggugurkan nilai eksperimen, ide, juga sebuah pengalaman, dan pemahaman yang mendalam tentang cerpen.

Inilah upaya falsifikasi yang dilakukan ET untuk menjungkirbalikkan kebenaran teori lama yang mungkin dianggap jumud dan kaku. Karena verifikasi terhadap teori lama, adalah upaya yang sama-sama benar adanya. Dengan begitu keduanya sama-sama dapat dibenarkan dan dapat dilakukan. Yang perlu diingat, proses keduanya merupakan dialektika pengetahuan yang harus sepantasnya selalu dilakukan, sebagaimana ET melakukannya.

Dalam cerpen, selain yang disebutkan di atas, misal yang berjudul Cerita Pendek dan Cerita Panjang (hlm. 32), bercerita tentang perdebatan cerita pendek dan cerita panjang dalam ranah historis, posisi, dan peranan yang kemungkinannya tidak akan pernah selesai. Selain itu, perdebatan keduanya berasosiasi dengan perbedaan kelas antara masyarakat borjuis dan proletar, atau Barat dan Timur. Di sinilah realitas penting yang coba dieksplorasi dalam cerpen di atas.

Misal dalam cerpen yang berjudul Cerita Sesuai Selera Pasar (hlm. 53), cerpen ini dibuka dengan pernyataan alegoris yang ambigu: tentang perkembangan sastra mutakhir yang menuntut penulis untuk menyesuaikan dengan selera pasar (koran), tidak pada idealisme seorang penulis; atau tentang praktik politik yang juga dijual sesuai selera pasar demi mencapai tujuannya. Pada titik inilah, sebagaimana penjual cerita yang meyakinkan tokoh ‘aku’, bahwa kontestasi politik bisa dimenangkan siapa saja asal dapat membeli dan menjual cerita (agama, etnis), meskipun mereduksi nilai politik yang semestinya.

Cerita di atas merupakan salah satu cerpen paling panjang yang menarik dalam buku ini. Sejenis otokritik terhadap semua realitas aktual yang kerap mencederai nila-nilai luhur sebuah tatanan yang sudah mapan. Hal ini menjadi catatan penting bahwa ET tidak melulu terjebak pada upaya eksperimental belaka, melainkan ikut andil mengkritisi fenomena sosial yang semakin hari semakin tercemar dan mengenaskan.

Lain lagi dalam cerpen yang berjudul Cerita dalam Riwayat Ceritanya (hlm. 84), ET mengeksplorasi semua peranan manusia, baik penjual jamu, tukang sol sepatu, tukang parkir, penjual bakso, hingga penjual tubuh (pelacur) dalam satu tokoh yang menjadi poros cerita, yaitu prihal kembaran Syekh Saridin. Cerita ini tak ubahnya sebuah bingkai yang bundar dengan segala peranan dalam setiap bentuknya. Dari ketiga cerpen yang saya terka inilah eksperimentasi dalam ‘isi’ cerita, saya tegaskan sebagai upaya yang juga menarik untuk digarisbawahi.

Namun buku setebal 220 halaman ini juga memuat beberapa cerpen yang saya anggap cacat, kecuali sebagai pelengkap dari berbagai upaya eksperimentasinya. Tentu, istilah cacat itu saya sejajarkan dengan unsur eksperimen yang berupa verifikasi atau pun falsifikasi pada teori, yang mungkin saja, saya juga salah memahaminya. Misal, dalam cerpen Cerita Universal (hlm. 82), Cerita dalam Pertemuan Kita (hlm. 13), Cerita Remaja (48), dan Cerita Pesan Moral (49). Pembaca akan dihadapkan dengan cerpen yang pendek, bisa saja satu paragraf atau dua, dengan bangunan cerita yang pincang. Atau bisa dikatakan, upaya ekperimentasi yang nanggung.

Barangkali, yang saya anggap cacat di atas, adalah apa yang dikatakan Anton Kurnia sebagai metafiksi. Seperti kumpulan cerita tentang sebuah cerita. “Dengan elemen-elemen metafiksi seperti cerita yang berkisah tentang cerita, keterlibatan tokoh cerita di dalam cerita secara sadar, pemberontakan kerakter cerita, hingga pelibatan pembaca secara aktif untuk memproduksi makna,” tulis Anton Kurnia. Namun pandangan saya dengan Anton Kurnia sama-sama berbasis pada subjektivitas belaka. Kebenarannya mengendap di dalam tempurung kepala pembaca masing-masing.

Dengan begitu, antologi cerpen ini tetaplah penting dibaca siapapun, dengan alasan, bahwa pembaca—dalam cerpen yang berjudul Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini (161), yang kemudian menjadi judul buku ini—akan dihadapkan dengan kredo “kamu sedang membaca tulisan ini. Dan kamu akan mengikuti apa saja yang diminta tulisan ini dari pikiranmu.” Kredo tersebut merupakan gairah pembebasan yang  ditransfer oleh ET kepada pembaca untuk bebas dalam membaca, berimajinasi, dan menafsirkannya.

Dan pada akhirnya, seperti dalam esai ET sendiri di Basabasi, 20 April 2017, bahwa dalam teologi penciptaan berlaku creatio ex nihilo—penciptaan dari ketiadaan—tidaklah dimiliki oleh siapapun, selain Tuhan itu sendiri. Karena manusia (penulis, juga penulis resensi ini) berada dalam kreativitas yang terbatas, atau no creatio ex nihilo—tidak bisa mengada dari ketiadaan sebagaimana Tuhan.

*Muafiqul Khalid MD, pekerja kuli bangunan di Al-Kindi, Krapyak.

Rabu, 03 Januari 2018

MENYINGKAP SIFAT BAIK DAUN YANG DIABAIKAN
Buku Sifat Baik Daun karya Daruz Armedian/Doc.Sinergia

Judul                : Sifat Baik Daun
Penulis             : Daruz Armedian
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : November 2017
Tebal halaman : 172 hlm
ISBN                : 978-602-6651-39-6

Konon, dewi cinta dari Yunani, Aphrodite, pernah berujar bahwa tidak ada yang lebih indah di dunia ini dibandingkan dengan sekuntum bunga, dan tidak ada yang lebih esensial dari pada tanaman. Percaya atau tidak, rahim sejati kehidupan manusia adalah daun-daun hijau yang menyelimuti bumi; karenanya, manusia bisa bernafas, makan, dan melangsungkan siklus kehidupan.
Daun dalam cerpen Daruz Armedian (selanjutnya dibaca DA), memang bukan satu sub tema yang melatarbelakangi lahirnya ke tiga puluh cerpennya. Hanya saja, jika daun diketengahkan, dan menjadi modus operandi bagi bahasan selanjutnya, tentu akan menjadi sesuatu yang unik dan menarik.
Terlepas, apakah DA sadar atau tidak memberi judul antologi cerpennya dengan Sifat Baik Daun. Bahwa daun merupakan salah satu penyumbang terbesar dari 375 milyar ton makanan yang dikonsumsi manusia. Dengan bekerja sama, matahari, udara, dan tanah daun-daun menyemai menjadi bagian penting bagi kehidupan.
Dalam cerpen yang berjudul Sifat Baik Daun (hlm. 50), menceritakan tentang adanya daun yang bisa berpikir. Daun yang bertanya-tanya makna diri dari keberadaannya. Meski dalam cerpen ini, makna dan arti penting daun belum dieksplorasi dengan utuh, tetapi beberapa kalimat:
Daun baik hati yang telah ikut andil menyejukkan tempat ini, (juga pesan terakhir di akhir cerpennya). Daun ini tahu, tapi ia tidak menghiraukan semua itu. Ia tetap menolong. Bukankah cara menolong itu memang harus tanpa pamrih, tanpa diperlihatkan pada yang lain? Ia akhir-akhir ini berpikir jenius. Sekaligus bijak dan tulus.” (hlm. 55).
Menjadi antitesis dari bangunan ceritanya: seorang remaja yang bermesraan di bawah pohon, di pinggir sungai, dan abai pada semut yang juga pacaran tapi nasib sial yang menimpanya hingga hanya daun yang bisa mengerti dan dapat menolongnya.
Tindakan daun ini seolah selaras dengan pembuktian Charles Darwin—setelah mematahkan tesis Carl Von Linne, bapak botani modern—bahwa setiap sulur tanaman memiliki kekuatan untuk bergerak independen. Dan tanaman memperoleh dan menampakkan kekuatan ini hanya ketika hasilnya bermamfaat baginya.
Bahkan pada permulaan abad ke-20, salah satu ahli biologi berbakat dari Wina, Raoul France mengemukakan gagasan yang mengejutkan para filsuf alam kontemporer. Ia meyakini bahwa tanaman menggerakkan tubuhnya sama bebas, mudah, dan anggunnya dengan manusia atau pun hewan yang terlatih. Satu-satunya alasan, manusia tidak menyadari pergerakannya karena tanaman bergerak lebih lambat dari pada manusia. Dengan begitu, usaha daun menolong semut yang hendak tenggelam dan dihanyut air bukan tidak masuk akal melainkan sejalan dengan sifat baik daun yang kerap diabaikan.
Sepertinya, pesan terakhir dari cerpen Sifat Baik Daun dimaksudkan agar menusia belajar kepada daun yang rela mengorbankan dirinya untuk menyelematkan semut. Semut yang juga lagi kasmaran dengan pasanganya sebagaimana si remaja. Dan jangan salah, semut juga bagian penting dari siklus kehidupan manusia di dunia ini.
Misal juga, dalam cerpen yang berjudul Sepasang Mata Ibu dan Sepasang Mata Bocah Lugu. (hlm. 69). Ceritanya dibangun dengan dua tokoh dan satu tokoh sampingan. Dengan menghadirkan seorang bocah, polos, abai, atau lebih tepatnya tidak mengerti gemuruh hidup; sekaligus ibunya yang digambarkan sebaliknya: sedih, lapar, lemah dan sebatangkara di tengah kota. Yang menarik adalah, pertanyaan-pertanyaan si bocah atau anaknya yang menyoal daun jatuh dan angin yang berhembus, dan jawaban getir ibunya tentang hidup.
“Kenapa daun-daun itu jatuh, Ibu?” Pertanyaan itu diulang dua kali oleh anaknya, ibunya tidak menjawab, hanya menghembuskan nafas berat, hingga pada pertanyaan “Kenapa ada angin yang menerjangnya?” Karena belum ada jawaban, akhirnya, anaknya menyimpulkan bahwa “Berarti angin itu jahat.” Pada pertanyaan ketiga inilah ibunya balik bertanya pada anaknya (di halaman yang sama dengan yang di atas), “Kenapa angin itu jahat?”
Jawaban si anak hanya bisa diukur dengan kepolosanya, bukan pada yang lain, juga tidak pada ranah epistemologis bahwa daun jatuh, “Karena angin yang telah menjatuhkan daun-daun.” Diamnya ibu atas jawaban polos anaknya dapat diartikan setali tiga uang dengan tidak pahamnya penulis akan terminologi daun yang jatuh.
Padahal, posisi tanaman, termasuk daun sebagai bagiannya, setengah abad yang lalu,  France meyakini—memiliki semua sifat makhluk hidup, termasuk juga memilki respon dan reaksi keras terhadap kekerasan dan paling luhur berterimakasih pada anugerah—meski keburu dianggap bid’ah dan hasil risetnya diabaikan. Dengan begitu, daun jatuh bukan semata karena angin, melainkan banyak faktor, bisa saja proses absisi yang barkaitan dengan tingkat kandungan auksin dalam bagian daun yang akan gugur.
Beruntung sekali (dalam cerpen di atas), anak itu terus bertanya, dan pertanyaannya selalu berbasis pada imajinasi—sebagaimana antologi cerpen ini—dari pohon belimbing yang daun-daunya kerap jatuh hingga pohon beringin yang tampak seram.
Seterusnya, temuan-temuan tentang ajaibnya tumbuhan, di akhir tahun 60-an dapat dilacak pada  Marcel Vogel dan Peter Pringsheim dalam bukunya Luminescence in Liquid and Solids and Their Practical Aplication, juga Peter Tompkinn dan Christopher Bird dengan bukunya Secret Life of The Plant. Meski sikap skeptis terhadap tanaman, bahwa ia selayaknya manusia: pun bisa berpikir, berbicara, dan berinteraksi, kerap dijumpai hingga saat ini. Akan tetapi, kebutuhan manusia kepada tumbuhan, daun-daun, buah-buahan, kayu hingga akarnya tidak bisa dipungkiri.
Dengan demikian, antologi cerpen ini menarik karena menjadikan tumbuhan, alam, dan hewan sebagai batu loncatan imajinasi. Bukannya Albert Einstein, dengan lahirnya teori relativitas hanya terinspirasi dari sebuah apel yang jatuh, hingga kemudian dikenal dengan ilmuan besar abad 20. Jangan heran, dengan imajinasi, bagian-bagian cerpen akan menyeret pembaca ke segala ruang dan waktu tanpa disadari. Misal:
“Dan daun ini melihat semua tanpa ada yang terlewat. Ia masih tenang. Memang seperti itulah sifat daun. Tenang dan menyejukkan. Apalagi cerita ini belum menemukan konfliknya. Masih dalam tahap pengenalan.” (hlm. 52). Lanjut pada paragraf selanjutnya, di tengah jalannya cerita. “Sehingga, saya sendiri, sebagai penulis, menyangka anginlah yang marah. Kejadian seperti ini membuat tragedi kecil: daun-daun berguguran (tetapi tidak termasuk daun yang ini) dan sepasang semut romatis jatuh ke dalam sungai yang tenang. Walaupun tenang, ternyata sungai menghanyutkan.”
Maka jelaslah kemudian, bahwa selama cerita belum sampai pada titik konflik, maka penulis selalu punya kesempatan untuk mengolok-ngolok pembaca. Posisi daun, hewan, atau nama-nama penulis (yang dikagumi dan karyanya telah selesai dilahap) kerap juga menjadi seperti sebuah jeda penulis untuk bernafas sejenak, kemudian cerita dan konflik akan mengalir sambil lalu dikuatkan lagi dengan hal yang lain. Sejatinya penting membaca kumpulan cerpen yang ditulis anak muda kelahiran Tuban pada tahun 1996, di tengah gaduh politik identitas dalam segala sektor dan hilangnya imajinasi manusia di hadapan benda-benda modernisme. Setidaknya dapat mengentaskan sikap abai pada tanaman yang semakin menguat dan mengakar.
Untuk melihat lebih jauh, bagaimana imajinasi berperan penting dalam antologi ini—untuk tidak mengatakan semuanya—dapat saya sebutkan beberapa cerpen yang berjudul Dalima Dilema pada Dua Delima (hlm. 99), Alasan Kenapa Membenci Babi (hlm. 33), Diduga Patah Hati, Lelaki Ini Minum Kopi Beserta Cangkirnya (hlm. 86), Mahar Pohon-Pohon (hlm. 132), Tentang Perempuana Tanpa Kata-Kata Atau Pohon yang Ditebang Salah Satu Manusia atau Lelaki yang Tidak Bisa Berbuat Apa-Apa Kecuali Setia (hlm. 153), dan Menceritakan Hujan (hlm. 159).
Imajinasi dalam cerpen-cerpennya merupakan bagian penting yang tidak dinafikan peranannya. Terlepas karena penulis yang masih muda, atau memang kesengajaan dalam menuliskan cerita-cerita dalam antologi pertamanya. Dan kerap akan ditemukan, di tengah cerita, penulis sering menggunakan penulis-penulis idolanya sebagai bahan cibiran, atau malah sebagai penguat atas konflik yang dibangun dalam cerita. Lalu, apakah cerpen yang digubah atas dasar imajinasi merupakan suatu kejelekan atau ketidakberhasilan? Tentu tidak, karena keberhasilan sebuah cerita hanya dapat diukur dengan dapatkah cerita bisa meyakinkan pembaca dan membuat pembaca belajar banyak hal meski yang remeh temeh.
Juga yang menarik, meski penulis masih berusia muda, Sifat Baik Daun akan menawarkan banyak hal, yang mungkin, bagi orang yang sangat fanatik dengan struktur cerpen: plot, tokoh, alur dan konflik; akan dibenturkan dengan yang sebaliknya. Akan ditemukan, misalnya cerpen yang satu lembar dan terkadang, tokoh, alur, dan ceritanya belum benar-benar tuntas tapi sudah berganti dengan judul dengan yang lain. Lain lagi, dalam cerpen yang berjudul Diduga Patah Hati, Lelaki Ini Minum Kopi Beserta Cangkirnya (hlm. 86), pada salah satu paragrafnya, terdiri dari sekumpulan abjad yang seolah seperti main-main tanpa maksud tertentu. Seolah semua abjad dalam kyboard ditekan bersamaan atas dasar kemandekan atau kebuntuan. Tapi jangan salah, di tengan kerumunan abjad, akan ada beberapa umpatan dan nama yang sangaja penulis sisipkan untuk memancing pembaca agar lebih melotot dan bebas berpraduga.
Antologi cerpen ini layaknya disebut sebagai taman bunga atau kebun binatang. Kalian akan dihadapkan dengan berbagai tanaman, hewan, dan cerita imajiner yang ditulis cerpenis yang masih sangat muda. Sangat pantas untuk dibaca di tengah musim hujan, apalagi cover bukunya yang unyu-unyu, seolah semakin meneguhkan bahwa manusia layaknya harus melanjutkan cita-cita luhur Herculian untuk mengembalikan dunia menjadi sebuah taman bunga yang enak atau nyaman ditinggali.*


*Muafiqul Khalid MD, bergiat di kuli bangunan, Al-Kindi Krapyak



Jumat, 15 Desember 2017

Merajut Islam di Zaman Now
Cover Buku Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Progresif Pemikiran Islam. Foto: Internet

Judul Buku      : Islam Sontoloyo
Penulis             : Ir. Soekarno
Editor              : RN. Fajri
Penerbit           : Basabasi
Tahun Terbit    : Oktober 2017
ISBN               : 978-602-6651-48-8
Peresensi         : Achmad Faridatul Akbar*

Sudah seharusnya kita mempunyai pikiran yang progres, pikiran yang cemerlang, supaya tak terkesan ambigu dalam menyelamatkan banyak orang. Begitu juga dengan Agama Islam, pikiran kita harus baru untuk mengembangkan nilai-nilai luhur di dalamnya.
Buku ini merupakan arsip tulisan Presiden Ir. Soekarno berisi tentang pikiran-pikiran Islam progresif, yang sampai saat ini masih relevan sebagai telaah kembali atas marwah pemeluk Islam yang seringkali mengkafirkan sesuatu atau istilah beliau Islamnya Sontoloyo.
Bung Karno selain sebagai Presiden Pertama dan Bapak Proklamator Indonesia, beliau juga pelopor pemikir pembaruan. Buku Islam Sontoloyo merupakan salah satu buku yang berisi pemikiran Bung Karno. Buku ini merupakan kumpulan artikel yang di tulis Bung Karno di majalah Panji Islam. Mengapa harus berjudul Islam Sontoloyo? Ada apakah dengan Islam pada masa itu? Bung Karno menuliskan artikel-artikel tersebut sebagai bentuk kritik terhadap penyelewengan pada masanya yang menodai jiwa Islam.
Buku ini tidak ada maksud untuk menilai Islam tidak benar, akan tetapi melalui wacana Ir. Soekarno yang progres dan pembaharu mencoba merajut pemahaman Islam yang sesungguhnya. Dalam kutipan Soekarno terhadap Agama, mengistilahkan dari perkataan Heraclitus, bahwa pokok tidak berubah, Agama tidak berubah, Islam sejati tidak berubah, firman Allah dan Sunnah Nabi tidak berubah, tetapi pengertian manusia tentang hal-hal inilah yang berubah (hal.81).
Maka untuk meremajakan pegertian Islam dan merajutnya di zaman now, kita mencoba memahami kembali apa yang menjadi penekanan beliau tentang rethingking of islam. Marilah kita memerdekakan kita punya ruh, kita punya akal dan kita punya pengetahuan dari ikatan-ikatannya kejumudan. Hanya dengan ruh, akal, dan pengetahuan yang merdekalah kita bisa mengerjakan penyelidikan kembali, her-orientatie, zelf-correcctie yang sempurna (hal. 88). Jelas demikian bahwa memang kita harus merdeka dari segala kita punya akal, dan pengetahuan.
Wajah zaman saat ini sudah mirip dengan yang terjadi pada masa lampau. Beda zaman, tetapi kekolotan pikiran kita yang seringkali mengkafirkan orang lain, menyalahkan orang lain dengan anggapannya sendiri yang dangkal akan nilai-nilai keislaman tak kunjung surut. Hal yang paling mendasar yang harus kita cermati adalah bagaimana Islam tidak hanya dijadikan sebagai Agama, tetapi pondasi yang harus di now kan. Islam mencerminkan untuk tidak menolak adanya perubahan, juga tidak hanya mengajarkan bagaimana beribadah saja. Tetapi Islam akan maju jika pemahaman kita berada di posisi zaman saat ini. Untuk itulah kita bisa membuang cara lama, dengan mengambil cara baru.
Zaman now mengingatkan kita pada apa yang dirisaukan Ir. Soekarno dalam pidato dan surat-suratnya, bahwa “Ummat Islam terlalu menganggap fiqh itu satu-satunya tiang keagamaan. Kita lupa, atau tidak mau tahu, bahwa tiang keagamaan ialah terutama sekali di dalam ketundukan kita punya jiwa kepada Allah” (hal. 7)
Meski banyak orang yang berpendapat bahwa Soekarno adalah orang yang terlalu dinamis. Perkataan itu dibalasnya dengan doa “Ya Allah Ya Rabbi, tambahkanlah lagi kedinamisan itu.” Inilah menjadi dorongan untuk meng-kritisi pandangan-pandangan kolot para pemuka agama saat itu, yang tidak ingin menerima modernisasi. Ia juga membagi pendapatnya mengenai “Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara” dan “Transfusi Darah”. Soekarno membenarkan perkataan Halide Edib Hanum bahwa Islam di zaman akhir-akhir ini bukan lagi agama pemimpin hidup, tetapi agama pokrol-bambu”.
Membaca buku ini, seperti kita meremajakan Islam di zaman now. Janganlah kita kira kita sudah mukmin, tetapi hendaklah kita insaf, bahwa banyak di kalangan kita yang Islamnya masih Islam Sontoloyo!
Karena Agama adalah bagi orang-orang yang berakal, maka gunakanlah akal semerdeka-merdekanya. Bacalah.

*Ach. Faridatul Akbar lahir 1995 di Kerta Timur Dasuk Sumenep Madura. Mahasiswa Universitas Janabadra, Ekonomi Pembangunan. Kini Aktif di Komunitas KUTUB Yogyakarta, dan LAPMI Sinergi Yogyakarta.

Senin, 11 Desember 2017

Tafsir Ringan Tentang Keragaman (Sedikit Ulasan Atas Buku Al Makin)
Buku Al-Makin, Doc. Net
“Jika manusia mencari keaslian, suatu yang tidak bercampur dan murni, maka akan kecewa. Tidak ada yang murni karena tradisi masyarakat selalu berhubungan dengan masyarakat lain, baik sebelumnya, sezaman, atau yang akan mewarisi dan mengubah sesudahnya.”
(Al-Makin)
Perbedaan merupakan kehendak Tuhan yang telah ditetapkan sejak azali. Suatu yang niscaya terjadi di dunia ini. Upaya penyeragaman adalah sia-sia. Toleransi, keterbukaan dan penyelarasan adalah jalan satu-satunya eksistensi suatu peradaban.

Al Makin, M.A., Ph. D. dalam bukunya Keragaman Dan Perbedaan: Budaya dan Agama Dalam Lintas Sejarah Manusia, menekankan dengan tegas tentang bagaimana manusia harus menyikapi  kergaman dan perbedaan. Upaya penyeragaman kultur dan tradisi hanyalah upaya yang sia-sia belaka. Seperti bom waktu yang tinggal menunggu meledaknya dan hancurnya suatu kebudayaan.

Buku ini menjelaskan dengan gamblang bagaimana budaya dan agama dalam lintas sejarah manusia secara objektif dan tidak hanya memakai salah satu prespektif agama dan budaya saja, namun dengan prespektif seorang ilmuan yang cermat dan objektif dalam menggali dan mengupas sejarah-sejarah peradaban dalam lintas sejarah manusia; Multi dimensional approaches. Diterangkan bagaimana budaya itu lahir dan berkembang dalam sejarah manusia. Dimulai dari pengakuan akan Keterbatasan Ingatan Masa Lalu (Bab 1), dimana manusia dengan memorinya yang terbatas mecoba merekonstruksi masa lalu untuk dinarasikan kembali melalui catatan-catatan masa lalu yang masih tersisa seperti tulisan pada tablet batu, artefak dan patung-patung yang berisi informasi-informasi masa lalu.

Dunia mulanya hamparan luas yang berisi berbagai masyarakat dengan kebudayaan yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Mereka masing-masing telah membangun kebudayaannya masing-masing; kepercayaan, ritual, lengkap dengan pemuka dan kitabnya. Tentu dengan latar belakang , letak geografis, cuaca, iklim dll. yang mempengaruhi pola pikir mereka; bagaimana mereka mulai merefleksikan dunia dengan mulai menarasikan awal penciptaan dunia, manusia, tuhan dan dewa, dan kehidupan setelah dunia ini (Eskatologi). Tentunya masing-masing budaya mempunyai narasi teologis-nya sendiri-sendiri.

Al Makin menjelaskan bahwa dari sekian banyaknya budaya yang tersebar pada 20.000 tahun SM itu ternyata masing-masing mamiliki pola dan struktur yang sama. Disini ia menampilkan teori antropolog Levi’s Strauss, “bahwa perbedaan narasi dan konstruksi dari sekian juta budaya yang tersebar di duinia, pada dasarnya memiliki struktur dan pola yang sama, sama seperti bahasa namun lebih kompleks kebudayaan, seperti tuhan atau dewa, penciptaan manusia pertama dan eskatologi. Setiap kebudayaan memiliki kesamaan pola dan struktur pemikiran. Al makin juga menambahkan, “itu tergantung bagaimana menjelaskannya”.

Bedah Buku Al Makin di UIN Yogyakarta

Dalam bab 2, Kisah Manusia Pertama dijelaskan secara garis besar, bagaimana dan seperti apa narasi kebudayaan-kebudayaan kuno meyakini kisah manusia-manusia pertama, lalu dibandingkan satu sama lain dari setiap kebudayaan tersebut. Juga Persepsi Tentang Dunia, (Bab 3); tentang bagaimana luasnya dunia, usia dunia dan usia manusia. Semuanya memiliki pola dan struktur yang sama.

Islam sebagai agama Semit termuda, bukan lahir dari masyarakat dan tradisi yang homogen, juga bukan dari ruang yang kososng, namun dari masyarakat HIjaz yang telah kosmopolitan. Islam adalah penerus ajaran Yahudi dan Kristen (Nasrani); universalisasi atau penyelarasan budaya baru atas budaya lama. Konsep tauhid telah ada sejak Yahudi, (walaupun jauh sebelum Yahudi juga ada namun tidak bertahan; di Mesir) namun konsep monotheis atau tauhid tersebut hilang kemurnianya karena dalam agama Yahudi, Tuhan yang satu tersebut, Yahwe, hanya diperuntukan untuk bangsa Israel saja. Kemudian Nasrani (Kristen) mencoba meng-universalisasikan tauhid tersebut kepada bangsa-bangsa non-Israel.  Namun 2 abad kemudian setelah Yesus meninggal, keyakinan tauhid tersebut tidak murni lagi karena melalui rapat konsili di Vatikan, ditetapkan Trinitas. Abad 7 adalah kelahiran Islam di Hijaz, yang mana misi dakwah tauhid  lil ‘alamin bertahan hingga sekarang.

Mengenai kitab suci, selain al-Quran dan perjanjian lama yang satu alur, ada pula kitab yang membahas perjalanan Gilgamesh yang bertemu Utnapishti yang pernah melewati  banjir bandang hebat. Sama seperti kisah nabi Nuh dalam Islam dan Noah dalam Kristen, dijelaskan pula didalamnya kisah-kisah yang boleh dikatakan mirip bahkan sama. Hanya nama saja yang membedakan. Kitab (tablet) Gilagamesh tersebut sudah ada di Mesopotamia (Sumeria dan Babilonia). Ribuan tahun sebelum Yahudi, pemula agama Semit lahir.

Pada masa itu, Hindu-Budha pun telah memulai peradaban dan narasi kebudayaannya sendiri dengan kisah-kisah Epic seperti Mahabarata. Semitik dan India sezaman, jauh sebelum itu, 2000 SM, Mesopotamia (Sumeria dan Babilonia) telah memulai kebudayaannya. Tak lupa Mesir dengan tanah lumpur nya yang subur, juga telah memulai narasi teologisnya yang politheis.

Dijelaskan pula tentang kota-kota metropolitan meramu kebudayaannya yang berakomodasi dengan budaya-budaya lain melalui ekspor-impor barang. Dari sanalah terjadi akulturasi; perpaduan berbagai budaya melaui interaksi dan dialog kultural yang menjadi bibit-bibt kebudayaan baru. Selanjutnya budaya baru tersebut meneruskan budaya lama dengan konstekstualisasi tanpa menghilangkan unsur-unsur budaya lama.Mesopotamia, Damaskus, Baghdad, India, China, HIjaz (Arab), Nusantara, metropolit dan kosmpolitnya dijelaskan dalam Bab 5, Kota-Kota Metropolitan.

Tak lupa, peradaban pelatak dasar ilmu pengtahuan, Yunani, juga turut serta mewarnai keragaman dan perbedaan kebudayaan dan agama dalama lintas sejarah manusia. Dalam proyek Hellenisme, tradisi Yunani memulai golabalisasinya menuju tradisi Semitik, Yunani, Kristen, hingga Islam, yang dimotori oleh Alexander the Great. Tradisi berfikir ala Yunani yang direpresentasikan oleh filsuf sentral, Plato dan Aristoteles mempengaruhi pola pikir dan sikap keagamaan di berbagai budaya. Kontoversialnya dalam Islam pada masa Al-Ghazali dengan Tahafut al-Falasifa-nya, sampai pada ilmuan-ilmuan, filsuf dan agamawan yang kemudain berupaya memadukan tradisi iman dan fikir (Bab 6).

Buku Keragaman Dan Perbedaan ditutup dengan bab Ke-Indonesiaan (Bab 7). Al Makin menjelaskan dengan rinci bagaimana Nusantara dulu pada abad 8 telah mulai membangun peradabannya dengan bernafaskan Hindu-Budha. Diterangkan juga kisah-kisah Epic kuno Nusantara dan dinasti-dinastinya.

Sebelum kedatangan Hindu-Budha, Nusantra pun punya kisahnya sendiri, hingga akhirnya akulturasi mau tidak mau terjadi melalui perdagangan dan perkawinan. Baru setelah hadirnya bangsa Barat pada abad 18 dengan Kolonilisme-nya, yang dengan kata lain penjajahan, menyuntikkan tradisi Baratnya dalam budaya politik, sosial, pendidikan dan agama lewat misi kristennya (3G).

Beberapa abad sebelum Barat, islam telah memulai misi dakwahnya secara sinkretis dengan budaya-budaya yang telah mengakar di Nusantara.  Nusantara dan Indonesia adalah satu dari berjuta cerita keragaman kebudayaan yang hidup. Kurangnya akses menyebabkan antar budaya tak kenal satu sama lain pada masa kuno. Globalisasi mini  bermula pada masa Alexander (1000 SM), disusul Romawi (10 SM) dan Islam (7-11 SM), hingga kini teknologi internet yang masih sangat muda kira-kira dua dekade adalah penyalur utama antar budaya, peradaban dan Negara.

Dahulu masing-masing bangsa hanya megurus bangsanya sendiri dan tidak tahu mengenai kehidupan dan seluk beluk bangsa lain. Berbeda dengan era sekarang (abad 21), dimana kondisi Negara adi daya mampu mempengaruhi bahkan mengatur aktifitas ekonomi, sosial, pendidikan, gaya hidup dan budaya Negara lain.

Itulah keragaman, suatu yang niscaya memiliki potensi dan keindahan. Bukanlah suatu kelemahan. Keterbukaan adalah cara menyikapinya. Buku ini, sekali lagi meletakan iman dan teologi dalam lintas sejarah manusia, bukan sejarah manusia berdasarkan iman dan teologi. Kayanya sumber dan referensi menjadikan buku ini bukan sembarang buku.


REFAN ADITYA, anggota LITBANG LAPMI Sinergi Yogyakarta.

Sabtu, 06 Mei 2017

Menakar Integritas Pilkada Serentak
Judul : Perjalanan Panjang Pilkada Serentak

Penulis : Rambe Kamarul Zaman

Penerbit : Expose

Cetakan : I, Agustus 2016

Tebal : 454 halaman

ISBN : 978-602-7829-35-0

SinergiaNews - Pada 9 Desember 2015 silam, hajatan demokrasi lokal di 264 wilayah terselenggara secara langsung dan serentak. Sebagai proses suksesi yang bertahap, pilkada serentak lahir melalui gagasan imajiner untuk meretas kejumudan politik. Sejak disahkannya UU Nomor 8 Tahun 2015 oleh DPR RI, kerja pemerintahan di daerah akan lebih efisien dan fokus. Bagaimana tidak, aktifitas pilkada yang diselenggarakan secara acak tentu berpengaruh tidak hanya kepada ‘psikologi politik’ pemilih, tetapi juga concern program daerah.

Pada titimangsa inilah, hadir buku Perjalanan Panjang Pilkada Serentak yang ditulis melalui kajian holistik oleh seorang yang terlibat. Setidaknya, terlaksananya pilkada serentak tahun lalu menitipkan eksemplar kelemahan. Selain antusiasme publik yang kurang bersemangat, nilai minus pilkada serentak tahun lalu juga terdeteksi melalui partisipasi dan tahapan pelaksanaan yang adem-ayem (hal. 264).

Dalam buku setebal 454 halaman ini, Rambe Kamarul Zaman (RKZ) menengarai setidaknya ada 8 variabel yang menjadi catatan evaluatif pilkada serentak 2015. Semua item itu dikupas dengan detail dan tuntas: problem anggaran, sengketa parpol, politik uang, dan sengkarut calon tunggal. Penataan demokrasi elektoral tahap pertama ini akan menjadi dasar kajian untuk enam gelombang pilkada serentak selanjutnya, yakni pada 2017, 2018, 2020, 2022, 2023, dan 2027 (hal. 207).

Tidak hanya itu, di bab awal, RKZ mewartakan akar geneologis lahirnya ide pilkada serentak berikut nilai sejarahnya. Bagi RKZ, pilkada serentak merupakan produk reformasi sistem pilkada yang tampak berbelit. Sistem pilkada serentak selalu mempertimbangkan aspek legitimasi dan efisiensi (hal. 66). Selain itu, pilkada serentak juga bisa menghemat ongkos politik. Bagaimanapun, gejolak suksesi pemerintahan di daerah telah menyita perhatian publik, parpol, dan kontestan dengan menyedot triliunan rupiah APBD (hal. 67).

Buku ini mencoba mengemas kaidah sosial-politik-hukum yang memang bertalian khas dengan praktik pilkada. Pilkada, pada kadar tertentu, menjadi momentum safari politik dari elitis ke proporsional. Masyarakat sipil (civil society) dihadirkan bukan hanya sebagai legitimasi kekuasaan, tetapi justru sebagai penguatan kepemimpinan lokal. Dalam buku ini, bahasan soal civil society ditelaah begitu ilmiah dengan perkembangannya yang kompleks, dan RKZ mencoba mematahkan eksperimen politik yang memanfaatkan suara masyarakat sebagai legitimasi kuasa an sich.

Tidak lupa, buku ini juga menyajikan beberapa agenda restorasi pilkada serentak 2015. Selain mendedah 8 variabel kelemahan, RKZ juga mendedah 8 term perbaikan yang ditulis dengan bahasa yang lugas di bab ke-6. Misalnya, integritas penyelenggara pilkada, penguatan fungsi parpol, media dan polarisasi opini, netralitas aparat sipil negara, dan partisipasi pemilih kritis (hal. 289).

Buku ini, secara garis besar, mengusung gagasan ciamik yang dipadu dengan fakta lapangan tentang tafsir pilkada. Dalam semua tahapan perbaikan sistem pilkada, tentu akan ada satu-dua ihwal yang mesti diperbaiki. Pada konteks ini, RKZ menelurkan optimisme kepada semua pihak untuk melihat pilkada sebagai seremoni politik yang prosedural dan formal, tetapi sebagai etalase demokratisasi menuju kedewasaan politik bernegara (hal. 377).

Kajian ini cocok untuk semua pihak: praktisi, teoretisi, peneliti. Ditulis dengan bahasa yang santun, buku ini juga banyak mengutip komentar tokoh, seperti Deliarnov, Hannah Arendt, dan Andrew Arato. Meski ditulis oleh seorang praktisi politik, kajian buku ini tampak memesona dan ilmiah—sebagaimana ulasan akademik. Membaca buku ini, kita bisa menelaah proses panjang pilkada serentak dengan cermat tanpa kesan njelimet.(mj)