Jumat, 26 Juni 2020

RUU HIP Harus Di Batalkan Jangan Di Tunda

Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat seharusnya lebih mengutamakan proses penanganan Virus Covid–19. Di saat pandemi Covid seperti saat ini, Rancangan Undang–undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) tidak seharusnya dibahas, karena dikhawatirkan akan memunculkan Polemik dalam masyarakat. 

Pancasila sudah selesai kita sepakati sebagai dasar negara Indonesia, sehingga jangan ada lagi pembahasan ulang yang membingungkan rakyat. Segala elemen bangsa dahulu telah bermufakat dan bersatu mengutuhkan diri untuk mengamalkan dan menjaga pancasila. Jika RUU HIP ini tetap dibahas, dengan sendirinya membongkar pondasi bangsa, dan bisa meruntuhkan bangunan bernegara kita.

Sejarah telah membuktikan kesaktian pancasila dapat menyatukan bangsa Indonesia yang begitu beragam. Begitu banyak suku, ras, dan agama di dalamnya hidup nyaman dan damai. 

Tentu menjadi pertanyaan besar bagi kita saat ini apa kiranya motivasi Dewan Perwakilan Rakyat mencoba membuat usulan Rancangan Undang - undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP), apa pentingnya pembahasan RUU HIP saat ini, sehingga dengan sangat jelas terlihat seakan memaksakan kehendak tanpa melihat kondisi bangsa yang sedang berjuang melawan pandemi.

Menurut penulis, Pancasila sudah final dan tidak perlu ada bahasan lagi, selain bagaimana kita mencoba mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu. Dan disini pemerintah mempunyai tanggungjawab yang sangat besar agar Pancasila tetap terjaga dan menjadi budaya keseharian seluruh masyarakatnya. Walau zaman berubah, Pancasila diharapkan dapat menjawab tantangan zamannya, tanpa harus kehilangan identitas sebagai falsafah dan ideologi bangsa Indonesia.

Dan jika di lihat dari perspektif hukum, Rancangan Undang – undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) akan sangat membingungkan, karena akan menempatkan Pancasila berada dibawah Undang-undang lain. Dalam hukum, Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum, bahkan Posisinya berada lebih tinggi dari Undang – undang Dasar. Ketika Pancasila di bahas menjadi Undang – undang maka otomatis membuat Pancasila terdegrasdasi, dan dikhawatirkan berpotensi terjadi penafsiran tunggal, yang artinya mengulangi kesalahan Orde Baru. 

Sekali lagi harus dipertegas, agar kita bersama dapat memahami bahwa sejatinya nilai-nilai Pancasila itu sudah ada dan mengakar dalam masyarakat, kita hanya perlu merawatnya saja. Sehingga tidak diperlu penafsiran ulang oleh siapapun apalagi oleh lembaga tunggal. Sebab, ketika Pancasila ditafsirkan secara tunggal, maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, yang tidak sesuai dengan sang penafsir  itu, akan tereliminasi dan dikatakan tidak pancasilais-tidak sesuai dengan pancasila.

Seandainya Rancangan Undang – undang  ini dipaksakan untuk tetap dibahas dikhawatirkan kedepan, tidak hanya menimbulkan polemik, namun berpotensi memunculkan benturan antar elemen bangsa bahkan pertumpahan darah. Sebab dalam Draf termaktub Trisila dan Ekasila yang terkesan mengabaikan nilai ketuhanan Yang Maha Esa dan nilai-nilai lainnya yang telah jelas disebutkaan di dalam Pembukaan Undang – undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Dan penting untuk dipahami, bahwa untuk membuat Undang – undang Pancasila, sesuai dengan Undang – Undang No. 12 tahun 2011 tidak jelas, sebab semua Undang – undang lain hanyalah sebagai turunan dibawah Pancasila, Sehingga jelas tidak ada dasar hukum diatas Pancasila yang memberi legitimasi membuat Undang – undang untuk Pancasila. 

Ini adalah kesalahan, maka dari itu pembahasan Rancangan Undang – undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP)  harus dibatalkan, tanpa perlu menunggu atau menunda. Keputusan itu harus segera direalisasikan guna meredam keresahan yang terjadi di masyarakat saat ini.
Ditambah lagi, Presiden Joko Widodo juga menegaskan bahwa dirinya tidak mengirimkan surat presiden sebagai tanda persetujuan terhadap pembahasan legislasi Rancangan Undang – undang Haluan Ideologi Pancasila, Draf Rancangan Undang – undang Haluan Ideologi Pancasila tersebut adalah sepenuhnya inisiatif dari Dewan Perwakilan Rakyat, jadi pemerintahan tidak ikut campur sama sekali. 

Pak Jokowi menambahkan dirinya belum mengetahui arah kandungan yang dimuat dalam Rancangan Undang – undang Haluan Ideologi Pancasila tersebut. Menurutnya, pemerintah akan mendengarkan aspirasi masyarakat dalam setiap agenda pembahasan Undang – undang.

Sedari awal Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) ini sudah bermasalah karena berusaha membongkar ulang pondasi berbangsa kita yang telah disepakati dan tertanam sejak awal bangsa ini berdiri. Ditambah lagi tidak jelas secara hukum karena membuat tumpang tindih peraturan dan perundang-undangan di Indonesia. Yang semua itu berpotensi membuat polemik bahkan perpecahan dalam masyarakat.

Untuk menghindari potensi terburuk itu terjadi, semua elemen bangsa harus bermufakat untuk membatalkan Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) tersebut. Jangan hanya ditunda, tapi dengan tegas harus dibatalkan.


Penulis, 
Exsel Ramadani Sihite
Kabid PPPA komisariat ahmad dahlan

Rabu, 26 Desember 2018

Mau dibawa Kemana HMI Kita?
Ilustrasi: SGT
Bismillaahirrahmaanirrahim

“HMI adalah organisasi mahasiswa Islam yang berpikiran maju dan selalu ikut serta mengambil bagian secara aktif dalam setiap perjuangan bangsa Indnoesia” (Jenderal Pol. Sucipto Yudodiharjo).

Pernah suatu ketika saya mewawancarai salah seorang calon kader yang hendak mengikuti basic training, saya tanya begini “Ngapain masuk HMI?” kemudian jawabnya “biar saya bisa belajar Islam, belajar ngaji dan belajar jadi orang yang bermanfaat untuk masyarakat sekitar”. Ada juga ketika saya tanya, “bagaimana respon orang tuamu ketika tau kamu masuk HMI?” Katanya “orang tuaku sangat senang, malah kiriman uang bulananku ditambah”. Begitulah sedikit bincang-bincang saya dengan beberapa calon kader yang masih “terjaga”.

Dulu, Jenderal Soedirman pernah berucap bahwa HMI adalah Harapan Masyarakat Indonesia. Ini ucapan terkenal. Yang mengucapkan seorang pejuang tersohor lagi. Sangat meyakinkan pendengar dan pembaca bukan? Lalu, Jenderal Ahmad Yani juga pernah mengatakan bahwa beliau tidak pernah meragukan HMI, karena beliau mengetahui bahwa HMI adalah alat perjuangan bangsa yang aktif, konstruktif, dan telah banyak berbuat untuk masyarakat. Sudah tambah yakin? Pasti yakin lah. Beliau juga pejuang loh, bukan kaleng-kaleng.

Itu tadi secara umum. Nah, padahal sejarah HMI di mulai dari Yogyakarta. HMI Cabang Yogyakarta adalah cabang legend. Beberapa tokoh top HMI seperti Prof. Drs. H. Lafran Pane, Bu Maisaroh Hilal, Let. Jend. Akhmad Tirtosudiro dan Drs. Agussalim Sitompul, Prof. Moh. Mahfud MD, Pak Busyro Muqoddas juga pernah berproses di HMI Cabang Yogyakarta. Sungguh suatu kebanggan tersendiri bisa berkuliah di Yogyakarta, masuk HMI dan berproses di HMI Cabang Yogyakarta. Dari sedikit ulasan diatas, bisa dibayangkan betapa bahagianya kader-kader HMI Cabang Yogyakarta. Memiliki alumni-alumni yang hebat. Beberapa juga masih sering nongol di TV. Pasti banggalah. Top!

Namun agaknya, HMI Cabang Yogyakarta yang penuh dengan kenangan indah nan spektakuler sedang terserang hama kembali. Bagaimana tidak, berapa ratus kader yang potensial harus ikut menanggung gangguan gulma yang berasal dari “sana”. Disaat pengurus komisariat kesusahan mengajak mahasiswa untuk mengikuti Basic Training (LK 1).

Setelah itu menggembleng mereka supaya masuk dalam kategori insan citanya HMI. Berusaha dichat WhatsApp untuk memikirkan follow up dan rajin mengikutinya. Konsolidasi internal yang dilakukan pengurus komisariat demi tegaknya proses perkaderan. Memotivasi untuk berangkat Intermediate Training (LK 2) biar tambah intelek, seakan itu semua muspro (sia-sia) karena seniornya ngawur. Senior mana? Senior yang di ”sana”. Ngawur karena telah menunjukkan proses pengkhianat terhadap nilai-nilai ke-HMI-an. Dalam menjalankan roda organisasi sikap dewasa, bijaksana, ngemong (mendidik), mengayomi tidak ditunjukkan. Identitas sejati yang seharusnya dijaga justru seolah diludahi. Mereka tidak ingat, dari mana mereka berangkat.

Bagaimana dulu pusingnya belajar Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP), sejarah, konstitusi, dll? Pertanyaannya, pas begitu, ketika LK 1 dulu ngapain aja lur? Pas masih menjadi dedek-dedek emes orientasi apa yang ada padanya? Apa gunanya yang telah didapat dulu? Diajarkan untuk menjadi pengkhianat? Untuk menjatuhkan kawan? Untuk merusak HMI sendiri? Atau apa? Jangan-jangan seperti yang dicurigai oleh Jend. A. Yani terhadap PKI, merongrong. Kalau mau menjawab tidak, la wong gerak geriknya mengarah kesana. Kenapa bisa merusak? Karena sudah tidak lurus cara berpikirnya. Sudah tidak jernih hatinya; sudah tidak lagi memikirkan kebesaran nama Himpunan Mahasiswa Islam; tujuan Himpunan Mahasiswa Islam. Yang dipikirkan bagaimana hasrat  politiknya bisa terpenuhi, tetapi polah yang ditempuh sungguh bikin geli dan ngilu. Jauh dari nilai-nilai keislaman. Serakah!

Fakta terbaru menunjukkan bahwa konferensi cabang (Konfercab) menghasilkan dua formateur. Bukti upload foto dari masing-masing formateur mulai menyebar. Yang satunya ada foto Ketua Umum Cabang demisioner (A), yang satunya tidak ada (S). Saya bingung, yang bener yang mana? Terus kalau hendak merayakan, yang mana yang dirayakan? Kemudian di instagram HMI Cabang Yogyakarta, juga terposting foto (A). Namun yang beberapa tersebar juga foto (S). Ada HMI, ada MPO masing-masing memiliki susunan sendiri. Lantas yang satunya ini apa dan siapa? Sepele sekali!

Fakta juga menunjukkan undangan konferensi cabang (Konfercab) bernomor 02/A/PAN-PEL/XII/1440. Memang baru dua kali mengeluarkan surat undangan atau bagaimana? Kemudian PAN-PEL ini siapa yang membuat? Sekretaris atau malah staf divisi humas? Terus XII, ini masih bulan Rabiul Akhir lo? (04). Kalau 1440 memang benar demikian. Lalu, kop surat juga aneh. Nah, yang terakhir cap (stempel) panitia pun juga kelupaan. Tapi memang manusia senantisa khilaf. Ini beberapa kerancuan agenda konferensi cabang yang sempat saya diskusikan dengan beberapa kawan. Dibandingkan dengan komisariat, jauh lebih baik komisariat!

Seolah mereka menginjak-injak apa yang telah diajarkan di HMI itu sendiri. Nilai-nilai dasar perjuangan, konstitusi dsb. Lalu, bagaimana situasi dan kondisi perkaderan di kemudian hari? Mau diapakan kader-kader yang telah dijaring oleh komisariat? Apa kemudian yang di “sana” itu ingin menampilkan sikap adigang, adigung, adiguno yang mencerminkan kecacatan qalb. Lalu, bagaimana jika HMI Cabang Yogyakarta dipegang oleh manusia-manusia yang demikian? Saya tidak begitu yakin akan kemajuan HMI Cabang Yogyakarta ke depan.

Refleksi Sejenak
Nak, pergilah. Untuk menggapai citamu. Bapak dan ibu akan selalu mendo’akan kamu”. (Ilustrasi).

Masih ingat ketika dulu dilepas oleh bapak dan ibu datang ke Yogyakarta untuk apa? Saya yakin masih, anak yang dulu berusaha dididik dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dielu-elukan dan diharapkan menjadi orang yang bermanfaat bagi nusa, bangsa dan agama kini sudah jadi mahasiswa. Sudah ada di kawah candradimuka. Namun, bagaimana jika orang-orang tersayang yang dulu ikut melepas kepergian anda untuk pergi ke Yogyakarta sekarang mengetahui jika anda sekarang menjadi orang jahat? Yaa, mahasiswa yang jahat!

Bukan mahasiswa yang ikut membela kepentingan umat, melainkan menuruti hawa nafsu. Sibuk sekali dengan kepentingannya, sehingga lupa dan terlena. Hasrat kekuasaan yang menggebu-gebu itu sudah mematahkan urat malu dan akal sehat. Lupa, akan peran dan fungsinya. Menyebabkan banyak orang tersesat, termenung, bahkan ikut terkena dampak destruksi akibat ambisi jahat yang menggeluti. Ini adalah indikasi bahwa kondisi kader HMI saat ini khususnya Cabang Yogyakarta, masih belum matang dan bahkan belum mapan secara organisatoris.

Jika terus seperti ini, lambat laun HMI akan tersingkir dari dinamika perubahan yang kompleks. Sadarlah bahwa masyarakat terus berkembang dan mengalami perubahan. HMI perlu duta-duta pembaharu yang mampu menyatukan peradaban. Masih banyak persoalan umat dan bangsa yang harus diselesaikan. HMI sangat berpeluang mengambil langkah untuk turut serta membantu menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada dengan gagasan-gagasan cemerlangnya. Itu yang dinanti-nanti. Bukan hanya sekedar berebut struktur. Sungguh indikasi kemrosotan yang nyata!

Oleh karena itu, mari kita refleksi sejenak mengenai HMI kita. Masa depan HMI kini sudah ada di tangan kita. Kita tilik kembali seperti apa dulu para pendahulu berupaya keras menghidupkan HMI ini. Tenaga, pikiran, air mata dan do’a turut mewarnai sejarah perjuangan HMI di Indonesia kita ini. Redamlah hasrat yang destruktif itu demi sehatnya HMI. Kita semua pasti merindukan sosok-sosok muslim sejati, mujahid sejati, problem solver, iron stock, agent of change, agent of social control dan agent-agent yang lain yang lahir dari rahim HMI kita. Kami kader biasa rindu, kejayaan HMI yang pernah ada dulu. Sehingga disayangi seluruh elemen bangsa karena mengedepankan ukhuwah islamiyah, menyatukan umat, membela bangsa dan agama Islam. Semoga HMI tetap tegak berdiri di atas dan untuk semua golongan, guna membangun  peradaban, serta kader HMI senantiasa tercerahkan dan selamat dunia dan akhirat. Aamiin.

Apabila kamu berselisih tentang sesuatu masalah kembalikanlah persoalan itu kepada Allah dan Rasul. Kembalilah kepada petunjuk Al-Qur’an dan hadits untuk mewujudkan persatuan Islam dan kejayaan Islam.

Bahagiakan HMI! Jayakan KOHATI! Hidupkan Mahasiswa!

RAMADHANI AL-GONTORY
Kader Elementer HMI Komisariat Umar Bin Khattab UII Cabang Yogyakarta

Selasa, 25 September 2018

DIATAS LUMPUH, DIBAWAH RUNTUH: AUTOKRITIK GERAKAN HMI UII
Aksi demonstrasi yang sempat menjadi kegiatan rutin bulanan HMI UII (Foto: Doc. Net)
Seorang pemimpin tidak berubah karena tahanan (Soekarno)
Peristiwa rengasdengklok adalah peristiwa yang turut mewarnai perjalanan sejarah bangsa Indonesia sebelum proklamasi kemerdekaan. Golongan tua yang terkesan lambat dalam proyeksi kemerdekaan mengalami desakan oleh golongan muda yang ingin secepatnya melaksanakan proklamasi kemerdekaan. Golongan muda menculik Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Namun manuver yang dilakukan oleh golongan muda itu membuahkan hasil yang dapat kita rasakan hingga hari ini.

Bicara organisasi berarti bicara orang banyak. Dan sebagai kader organisasi, sudah sepantasnya ikut menjaga, menjalankan misi, menjunjung tinggi etika, sopan santun dan moralitas serta tunduk pada aturan main organisasi.  Seorang organisatoris yang perduli dengan situasi dan kondisi organisasinya pasti akan prihatin melihat  kejumudan yang terjadi di dalam tubuh organisasinya. Bagaimana tidak, organisasi yang telah berkontribusi terhadap bangsa, yang telah besar, yang tak diragukan lagi integritasnya kini berada diambang kehancuran di bumi kandungnya.

Banyak sekali krisis yang terjadi saat ini khusunya di HMI lingkup UII. Mulai dari krisis identitas, krisis pergerakan, krisis kuantitas serta krisis kualitas yang tengah melanda HMI lingkup UII. Pemimpin cerdas, pemimpin lugas, pemimpin yang mampu menjadi problem solver, pemimpin yang bisa merangkul dan mengajak untuk mengembangkan HMI lingkup UII yang diidam-idamkan oleh kader-kader HMI khusunya lingkup UII, telah menunjukkan kelumpuhannya. Tidak ada semangat yang tercermin, tidak ada ketegasan , tidak ada integritas yang terwujud.

Diawali pelanggaran yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Islam Koodinator Komisariat Universitas Islam Indonesia (HMI KORKOM UII) terhadap  Anggaran Rumah Tangga (ART) HMI tentang struktur kekuasaan, bagian VII pasal 33 ayat 4 membuat kami selaku kader elementer meradang. Pasalnya, sudah sejak bulan April 2018 persoalan pelantikan belum juga usai. Kami sudah melakukan upaya desakan untuk memperjelas masa depan HMI UII. Atas dasar pelanggaran diatas juga kami mempertanyakan kesungguhan dari pihak KORKOM.

HMI yang seharusnya bisa menunjukkan marwah di “kampung halaman”nya, kini justru berada diambang kehancuran karena tidak ada upaya konstruktif yang ditunjukkan oleh pihak KORKOM itu sendiri. Seharusnya KORKOM mampu merangkul, mengajak serta memotivasi adik-adiknya yang berada di komisariat untuk merawat HMI, sungguh-sungguh berproses, membumikan HMI di UII serta turut dalam mewarnai kampus. Karena memang itulah tugas KORKOM yakni menjadi “koordinator”,  yang menghasilkan harmoni sehingga selaras dari atas ke bawah.

Janji-janji yang dilontarkan sewaktu diadakan Musyawarah Komisariat (MUSKOM) XI menjadi indikator bahwa sang pemimpin bersedia dan sanggup dalam upaya mengawal perbaikan dan perubahan. Hingga kini kami masih terus menyoroti hal itu, dan berusaha untuk terus mengawal. Terlepas dari macam-macam persoalan, bukan ranah kami untuk mengulas hal itu, karena amanah sudah diterima maka saat itu juga tugas dan tanggung jawab siap untuk dilaksanakan.

Di akhir ini, kami memohon kepada abang-abang yang berada di KORKOM untuk bijaksana menyikapi hal ini. Majulah dalam pikiran, apalagi dalam tindakan! Sudah saatnya kita berfikir ke depan, untuk organisasi ini, yang lebih baik. Tinggal kita menjalankan sesuai dengan frame founding father kita. Jagalah independensimu wahai abang-abangku yang tercinta dan terhormat.

Kami tidak marah, namun jika pemimpin kami lumpuh, maka tinggal menuggu dan lihatlah himpunan yang didalamnya berisi adik-adikmu akan runtuh.


Kader Elementer HMI Komisariat Umar Bin Khattab UII, Mahasiswa Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta, Peminat Kesunyian.


Minggu, 23 September 2018

DUNGUNYA HMI CABANG YOGYAKARTA DIATAS DUA PENDERITAAN
Aksi kader HMI Cabang Bengkulu di depan kantor DPRD Propinsi Bengkulu yang berujung ricuh (18/09/2018) Foto: Warta Prima


Belakangan situasi nasional mengharuskan kader HMI untuk memberikan solusi terhadap masalah bangsa, ekonomi dan lebih khusus melonjaknya dollar Amerika terhadap rupiah. Aksi tanggap mulai terlihat di berbagai cabang se-Indonesia, namun posisi HMI Cabang Yogyakarta sebagai cabang yang bersejarah perlu dipertanyakan.

Sebab tidak adanya pergerakan ataupun konsolidasi yang dilakukan para pimpinan cabang untuk menanggapi isu besar yang akan berdampak terhadap ekonomi negara saat ini. Malahan Pimpinan Cabang hingga saat ini tidak diketahui dimana jejaknya oleh para kader, apa kader harus membuat pamflet pencarian pimpinan lengkap dengan raut wajah manis dan lugu dengan dituliskan “Dicari Orang Hilang”

HMI Cabang Yogyakarta terlalu sibuk dengan kepentingan struktural dan pengamanan basis massa untuk menghadapi Pleno Cabang seperti yang disinggung dalam Buletin Sinergia yang diterbitkan oleh LAPMI Sinergi Yogyakarta bulan Agustus lalu. Padahal misi HMI yang sering diobrol-obrolkan di setiap forum latihan kader oleh pimipinan HMI untuk membela kaum ploletar, untuk membangun umat dan bangsa. Serasa pimpinan sendiri yang menghianati kampanyenya tentang misi HMI di setiap para kader.

Derita negara adalah derita HMI, maka HMI harus selalu siap atas masalah yang dihadapi negara saat ini, inilah yang menjadi derita pertama yang harus diperjuangkan bersama-sama. HMI Cabang Yogyakarta harus siap menangis berdarah hingga masalah selesai. Pimpinan HMI Cabang Yogyakarta jangan terlalu esklusif dan jangan terlalu sombong dengan sejarah HMI, yang sudah mengawal umat dan bangsa hingga saat ini. Sejarah itu untuk pelajaran HMI yang lebih progresif bukan malah HMI yang semakin mundur.

Ada juga yang menarik, baru saja penulis membaca salah satu tulisan dari Ketua Umum KOHATI Cabang Bengkulu dengan Surat Cinta Untuk Ketua Umum PB HMI, sejenak penulis berfikir, tulisan yang indah ini mudah-mudahan dibaca juga oleh Pimpinan HMI Cabang Yogyakarta, dan bagaimana pimpinan dapat memposisikan dirinya sebagai orang yang dituju dalam surat cinta itu.

HMI yang selalu indah dan berbangga dengan slogan Berteman Lebih Dari Sudara hanya menjadi sebatas slogan pemanis dalam tubuh HMI. Derita, luka, hingga tertembak yang dialami beberapa kader HMI Cabang Se-Indonesia. Mereka sudah melakukan aksi tanggap isu terhadap masalah bangsa terlebih dulu, dan membuat penulis harus kembali mempertanyakan Posisi HMI Cabang Yogyakarta yang kedua kalinya.

Apa masih kurang masalah untuk HMI Cabang Yogyakarta harus turun ke jalan atau pamer di media menanggapi masalah tersebut? Ataukah menunggu HMI dibubarkan baru HMI Cabang Yogyakarta turun ke jalan? Lalu apa gunanya HMI Cabang Yogyakarta untuk umat dan bangsa kalau hanya masalah internal yang terus diurus? Lalu kapan masyarakat dapat menikmati trobosan-trobosan baru HMI, kalau hanya struktural jabatan HMI yang kejar? Semoga pimpinan dapat lebih memaknai slogan Berteman Lebih dari Saudara, dan Sekolah Kepemimpinan yang akan diselenggarakan di Bogor memuat materi tentang pendalaman slogan HMI yang dapat menyadarkan pimpinan HMI Cabang Yogyakarta. Agar pimpinan tahu, HMI tetap Yakin Usaha Sampai dan HMI tetap Saudara, Saudara, Saudara.

NADYA TAMARA LUBIS
Kader HMI Komisariat Ahmad Dahlan Cabang Yogyakarta

Sabtu, 18 Agustus 2018

HMI Dikenal Tapi Tak Dipahami Di Bumi Kandungnya
Prof. Drs. H. Lafran Pane (Pendiri Himpunan Mahasiswa Islam) Ilustrasi: SGT

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengingatkan kembali kepada teman-teman khususnya mahasiswa UII dan kader HMI di UII bahkan di seantero dunia. Dan juga menanggapi statement teman-teman mahasiswa UII khusunya yang mengetahui baik secara langsung maupun tidak atas terjadinya insiden videotron dan baliho kahar.

Izinkan saya sedikit memaparkan apa yang telah terjadi. Telah diketahui bahwa kampus memiliki beberapa fasilitas yang mana menurut saya bertempat di titik-titik vital. Yang menjadi perbincangan hangat saat ini adalah videotron dan baliho kahar. Dalam hal ini yang saya maksud adalah videotron yang berada di depan Apotek UII Farma Jalan Kaliurang Km 14,5 atau berada di gerbang masuk UII. Selanjutnya baliho kahar bertempat di depan auditorium Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir. Sepengetahuan saya 2 titik ini adalah tempat untuk menyebarkan informasi atau juga iklan. 

Kemudian pembuatan koreo bergambar wajah Prof. Drs. H. Lafran Pane. Memang dari hal-hal diatas tidak ada yang salah. Namun yang menjadi masalah adalah adanya organisasi ekstra kampus yang telah memanfaatkan kedua fasilitas ini untuk kepentingannya yang mana; hal ini dinilai oleh beberapa pihak sebagai tindakan yang despotis. Organisasi ekstra kampus itu ialah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) khususnya Koordinator Komisariat (Korkom) Universitas Islam Indonesia atau selanjutnya saya sebut HMI UII. Ya HMI lah yang kini dinilai oleh beberapa lembaga kemahasiswaan sebagai organisasi yang merasa berkuasa. Namun betulkah demikian?.

Sebelumnya mari kita buka kembali sejarah terkait hal ini. Padang, 5 Februari 1922  lahir seorang pemuda bernama Lafran Pane yang besar di lingkungan nasionalis-muslim. Pada tahun 1946 Lafran Pane menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) yang sekarang menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta. Selanjutnya pada tahun 1947 Lafran Pane merasakan kegelisahan melihat kondisi mahasiswa yang sulit untuk diharapkan dalam konteks keislaman dan keindonesiaan, dan juga terutama mahasiswa Islam yang mulai tidak representatif terhadap Islam. Selain itu, mahasiswa pada disaat itu juga mulai terjangkit virus hedonisme. Beberapa latar belakang tadi kemudian yang menjadi pemicu berdirinya HMI  pada 5 Februari 1947 di STI atau sekarang UII. Lafran pane sebagai pemrakarsa dan kemudian dibantu oleh 14 founding father lainnya.

Seiring berjalannya waktu sampai pada masa rezim Soeharto menempuh proses-proses de-ideologi yang bertujuan supaya tidak ada kritik dari masyarakat. Menjelang pemilu pada tahun 1977 pemerintah memutus mata rantai ideologi partai politik terhadap rakyat khususnya masyarakat pedesaan. Kemudian rezim Soeharto juga menyamakan azas semua kekuatan politik di indonesia yakni dikenal dengan istilah azas tunggal pancasila, yang mana ini adalah senjata untuk menghadang kekuatan terutama yang beraspirasikan islam. Menurut rezim orba ini adalah alat untuk menghadapi perpecahan. Begitulah kira-kira situasi yang terjadi dan berdampak pada organisasi-organisasi tanpa terkecuali HMI.

Kemudian pada tahun 1986, dengan alasan menyelamatkan organisasi HMI dari ancaman pembubaran rezim orba, maka HMI terpaksa menerima azas tunggal pancasila; itu melalui kongres ke-16 di Padang, Sumatera Barat. Selanjutnya ada sekelompok aktivis kritis HMI yang menolak pemerintah mengintervensi HMI dengan alasan berjuang mempertahankan azas Islam memaksa organisasi-organisasi menerapkan azas tunggal pancasila tak terkecuali HMI. Mereka menamakan diri sebagai Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) Bahkan mereka sempat berdialog dengan pihak PB HMI namun tidak direspon dengan baik yang berujung pada insiden demonstrasi di depan kantor PB HMI Jalan Diponegoro. Maka sejak itulah HMI terpecah menjadi dua kubu yakni yang menerima dan menolak azas tunggal pancasila. Bahkan eksistensi kedua kubu itu tetap ada hingga sekarang.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa ada 2 HMI yakni HMI dan MPO (yang saat ini HMI MPO). Kemudian saya ingin meluruskan pemahaman yang telah ditangkap oleh sebagian kawan-kawan yang bagi saya ini terkesan mengeneralisir peristiwa. Bahkan akun media sosial kami (@hmiumarbinkhattabuii) juga ikut terkena getahnya akibat generalisasi yang dilakukan beberapa kawan-kawan yang sudah terlanjur membenci HMI.

Sudah seharusnya kawan-kawan yang membenci, menyerang, melontarkan kritik-kritik pedas, kabar-kabar yang tidak akurat sumber informasinya ini melakukan penelusuran terlebih dahulu mengenai profil organisasi yang kawan-kawan maksud tersebut. Karena bagi kami yang tidak menjadi bagian dari organisasi ekstra kampus yang dimaksud tersebut sangat menyesakkan dada dan membuat kami prihatin. Begitulah realita yang terjadi akhir-akhir ini. Dimulai saat kuliah perdana (13/8/2018) hingga sampai detik ini masih hangat dan masih digandrungi.

Terakhir, saya berharap kepada kawan-kawan yang telah menanam kebencian kepada HMI khususnya HMI Komisariat ‘Umar bin Khattab UII, yang telah dicatut media sosialnya oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk bijaksana dan memiliki i’tikad baik kepada kami.


ALFI ABDILLAH RAMADHANI
Mahasiswa Fakultas Ekonomi UII, Peminat Kesunyian, Sekarang sedang mengabdi di Departemen Bidang Perguruan Tinggi dan Kepemudaan (PTKP) HMI Komisariat Umar Bin Khattab UII Cabang Yogyakarta Periode 2017-2018.