Rabu, 11 November 2020

Pasca Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Lafran Pane, HMI Sekarang Bisa Apa?

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.” (Ir. Soekarno)

Sebagaimana kutipan pidato Sang Proklamator di atas, generasi saat ini dalam mengisi kemerdekaan hendaknya mampu merefleksikan semangat juang para pahlawan sebagai spirit kita saat ini dalam usaha tiada henti mewujudkan masyarakat adil makmur. 

Menghargai jasa para pahlawan tidak cukup jika hanya mengabadikan nama mereka menjadi nama jalan ataupun sekedar dalam penamaan fasilitas umum. Menghargai jasa para pahlawan juga tidak harus dengan meniru utuh  apa yang pernah mereka lakukan di masa lalu dengan ikut mengangkat senjata.

Justru mengharagai jasa mereka bisa dilakukan lewat hal-hal kecil. Misalnya dengan menjadikan mereka sebagai teladan kita serta menghayati dan menerapkan pesan-pesan mereka di kehidupan kita sehari-hari.

Memasuki tahun ketiga semenjak penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada salah satu pendiri organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Ayahanda Lafran Pane oleh Presiden Joko Widodo, pertanyaan timbul di benak kita selaku penerusnya, bisa apa kita hari ini? Perlu kiranya bagi kita selaku penerusnya di organisasi HMI untuk coba merefleksikan kembali semangat juang beliau dahulu dalam mendirikan himpunan ini.

Apakah betul kita telah mewarisi semangat juang beliau dalam menghidupkan dan membesarkan HMI? Ataukah tindakan kita hari ini justru membuat malu organisasi “yang katanya” merupakan organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia?

Penulis teringat dengan novel “Merdeka Sejak Hati” karya Ahmad Fuadi yang mengisahkan perjalanan hidup Lafran Pane. 

Pada novel ini, dikisahkan bahwa Ayahanda Lafran Pane dalam perjalanannya ketika hendak mendirikan organisasi bagi para mahasiswa Islam banyak sekali menemui hambatan. 

Mulai dari bayang-bayang pasukan penjajah yang masih stay di Indonesia, minimnya dukungan, hinaan dan pandangan sinis dari para mahasiswa yang hedonis waktu itu, hingga kecurigaan dari beberapa pihak yang menganggap ada maksud terselubung dalam mendirikan organisasi HMI. 

Terlepas dari segala rintangan yang ia alami, hal yang sepatutnya menjadi teladan bagi kader-kader HMI saat ini adalah kembali merenungi betapa beratnya perjuangan beliau dalam mendirikan organisasi yang sejak dahulu telah menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berproses dan belajar. 

Kita seharusnya sedikit menumbuhkan “rasa malu” kepada beliau akan jasa-jasanya bagi bangsa dan himpunan ini. Miris memang jika kita melihat perilaku beberapa kader saat ini yang hanya menjadikan organisasi HMI sebagai batu loncatan dalam mewujudkan kepentingan-kepentingan pribadinya. 

Hal ini tentunya sangat bertolak belakang dengan apa yang diimpikan oleh Ayahanda Lafran Pane dahulu yaitu untuk menjadikan HMI sebagai organisasi perjuangan yang bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mengangkat derajat Umat Islam.

Begitupun dengan sikap rendah hati beliau yang dikisahkan dalam novel ini kiranya juga menjadi tamparan bagi kader-kader saat ini yang begitu tinggi ego dan nafsunya dalam mengincar posisi tertentu di struktural HMI. Ayahanda Lafran Pane dalam perjalanannya membesarkan HMI berlaku sangat sederhana dan tidak ingin dipuji berlebihan. 






Bahkan dengan rendah hatinya beliau pernah menyerahkan pucuk pimpinan HMI kepada seseorang yang menurutnya lebih layak mengisi posisi tersebut tanpa merasa dirinya direndahkan. 

Ini mengindikasikan bahwa beliau benar-benar ikhlas dalam mendirikan organisasi ini tanpa mengharap beliau akan mendapat feedback dari usahanya ini.

Mengutip pesan beliau, “Kemanapun kau berkiprah tidak ada masalah. Yang penting adalah semangat Keislaman-Keindonesiaan. Itu yang harus kau pengang terus.” Dari kalimat ini, kita sebagai generasi penerus idealnya haruslah mengesampingkan ego dalam berproses dan belajar bersama di himpunan ini. 

Semangat Keislaman-Keindonesiaan yang disusung mengindikasikan bahwa kita dalam berjuang haruslah disertai dengan sikap yang tulus dan ikhlas. Hanya dengan sikap inilah, HMI akan terus ada dan turut andil dalam persaingan dunia kontemporer yang makin rumit ini. Semua itu tidak lain dan tidak bukan adalah untuk terbinanya kualitas insan cita demi terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Merdeka sejak hati, Islam sejak nurani, Yakin Usaha Sampai

Bahagia HMI

Selamat Hari Pahlawan Nasional


Ammar Mahir Hilmi 

Kader HMI Cabang Yogyakarta

Latest
Next Post

post written by:

0 komentar: