Jumat, 04 Januari 2019

Wajah Perkaderan HMI yang Muram

Ilustrasi: SGT
Beberapa tahun ini, HMI Cabang Yogyakarta sedang mengalami gelombang dekadensi intelektuil yang maha besar. Bukan bermaksud melebih-lebihkan, akan tetapi begitulah kenyataan berbicara. HMI Cabang Yogyakarta vakum dan kehilangan fungsinya sebagai konseptor-konseptor perkaderan HMI. Dalam beberapa tahun ini HMI Cabang Yogyakarta gagal mengulang tradisi intelektuil yang diembang dan diwariskan oleh Ahmad Wahib dan kawan-kawan (limited group), yaitu sebagai kader produsen intelektuil dan konsumen intelektuil. Produsen intelektuil maksudnya adalah kader HMI punya komitmen menelurkan konsepsi dan gagasan yang bermanfaat untuk bangsa dan umat. Adapun pengertian konsumen intelektuil adalah keterlibatan kader HMI dalam pusaran wacana yang berkembang di Indonesia.

Sejak dulu HMI selalu disebutkan dan dikaitkan sebagai “sarang” yang banyak melahirkan indolog-indolog terkenal seperti, Lafran Fane, Ahmad Wahib, Dawam Raharjo, Djohan Efendi, Fahry Ali, Mansour Faqih, Nurcholish Madjid, Syafi’i Ma’arif dan masih banyak yang tidak sempat dituliskan. Namun dalam dasawarsa dewasa ini, terjadi pembalikan historis yang sangat berbeda. HMI sekarang lebih dikenal sebagai “lumbung” pemasok koruptor-koruptor. Setuju atau tidak, tentu ini menjadi realitas perkaderan yang dipenuhi kepiluan dan kegelisahan. Ada apa dengan HMI? Sampai kapan ini tragedi perkaderan terus terjadi dan bertahan?

HMI Cabang Yogyakarta seharusnya bisa lebih peka dalam menoropong problem dekadensi intelektuil HMI yang sedang terjadi, karena bentukan dan warisan alumni HMI masa lalu banyak ditemukan dan didapatkan di Yogyakarta, namun lagi-lagi entah apa yang terjadi diinternal HMI Cabang Yogyakarta, belum ada yang tau ataukah belum ada yang peduli? Semoga tulisan ini bisa sedikit merefleksikan problem yang terjadi di HMI Cabang Yogyakarta.

Biang Keladi Kemacetan Perkaderan HMI
Ibarat wajah, HMI Cabang Yogyakarta dipenuhi dengan flek-flek dan noda-noda (bukan bermaksud rasis) sehingga mengurangi dan menurunkan keanggunannya. Dan cara untuk menghilangkanya bukan dengan make-up yang tebal dan mencolok, karena itu hanya sebagai topeng dan kedok muslihat pembohongan publik. Akan tetapi dengan cara membuatnya lebih natural dan cantik (bukan rasis) dari dalam atau menonjolkan inner beauty yang dimiliki. Apa itu wajah natural HMI? Yaitu komitmen, keseriusan dan keteguhan HMI untuk memelopori sebuah gerakan pemikiran dan aksi yang bepijak pada problem sosial.

Kecantikan semacam ini harus dirawat, dipoles dan dijaga selalu. HMI akan selalu dipuja-puja, diidam-idamkan serta didambakan masyarakat Indonesia ketika memperlihatkan wajah-wajah yang serius terhadap problem kemanusiaan. Menilik dan membaca kembali historical backround HMI, sejak semula terbentuknya HMI, sudah dipenuhi wajah perkaderan dengan semangat pro-kemanusiaan. Hal ini juga termaktub dalam tujuan HMI, terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Namun saat ini, berbagai ironi dan absurditas perkaderan selalu dan senantiasa dipertontonkan didalam struktural kekuasaan HMI, mulai dari struktur yang tertinggi yaitu Pengurus Besar (PB), hingga yang paling bawah; komisariat. Ironi dan absurditas perkaderan HMI telah menjelma menjadi sikap hidup, cara berpikir (way of thinking) dan pandangan dunia (world view) pada setiap kader HMI. Apa itu ironi perkaderan? Yaitu kontradiksi antara kata dan perbuatan, paradoksal ideologi dan gaya hidup, dualisme antara tindakan dan ucapan serta pertentangan antara etika (perkaderan) dan tindakan (perkaderan). Adapun absurditas perkaderan berkaitan dengan terciptanya kehampaan makna perkaderan, ketiadaan nilai perkaderan, ketidakpastian tujuan perkaderan dan pengaburan komunikasi perkaderan HMI.

Dalam kondisi dunia perkaderan HMI yang demikian, sungguh sulit dan sangat susah mengharapkan terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam. Karena pada kenyataannya perkaderan HMI merupakan pilar dan penyanggah utama perubahan telah mengalami kemacetan (breakzone). Jika reformasi perkaderan HMI ingin dilanjutkan, maka wajah-wajah perkaderan yang memperlihatkan ironi dan absurditas perkaderan harus diubah dan digantikan wajah-wajah natural HMI yang progresif dan revolusioner.

Selain didalam internal HMI Cabang Yogyakarta saat ini sedang mengalami ironi dan absurditas perkaderan, disadari atau tidak pada waktu yang sama, juga tengah berlangsung kondisi perkaderan exemplar center sindrom. Yaitu hilangnya sumber panutan yang bisa dicontoh, ditiru serta diteladani. Model perkaderan ideal selalu menggadaikan seorang kader yang mampu dan bisa mengayomi dalam perkaderan, namun yang akan lebih ditekankan disini adalah patron intelektuil.

Perkaderan adalah usaha organisasi yang dilaksanakan secara sadar dan sisternatis selaras dengan pedoman perkaderan HMI, sehingga memungkinkan seorang anggota HMI mengaktualisasikan potensi dirinya menjadi seorang kader Muslim Intelektual Profesional, yang memiliki kualitas insan cita, (Pedoman Perkaderan HMI).

Hilang dan tidak adanya kader yang dapat memelopori sebuah gerakan pemikiran yang mempertautkan dengan kepentingan perkaderan yang nyata. Gerakan perkaderan HMI sekarang semakin terlihat menjauh dari problem dasar yang ada dalam perkaderan. Problem mendasar perkaderan saat ini, yaitu kegagalan dan ketidakmampuan sturuktural kekuasaan HMI untuk melakukan rekayasa perkaderan dan pendidikan kader kritis. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya penyadaran, sehingga setiap kader mampu dan bisa bergerak kearah transformasi dan perubahan kesadaran kritis (critical thingking).

Rekaysa perkaderan diartikan sebagai sarana pendidikan dan pembelajaran bagi kader untuk memahami kontradiksi-kontradiksi yang ada dimasyarakat; seperti sosial, politik, ekonomi dan budaya. Setelah mengetahui dan memahami kontradiksi yang terjadi di sekelilingnya, harapan selanjutnya kader dapat mengambil suatu tindakan untuk merumuskan alternatif dan solusi bagi masyarakat  jika ingin patologi perkaderan HMI Cabang Yogyakarta ingin sembuh dan keluar dari dark age perkaderan. Maka kita perlu himpun kembali solidaritas kader-kader yang masih serius terhadap nilai perkaderan.

Mewujudkan Generasi Bunga Perkaderan
Setiap agenda perubahan perkaderan selain melihat kebutuhan dasar kader (basic need) dan strategi rekayasa perkaderan, perlu sekiranya kita juga memfokuskan dan menetapkan reformasi kebijakan yang bersentuhan langsung dengan kader, untuk mentransformasikan gagasan dan gerakanya. Karena tugas struktur kekuasaan HMI yaitu menciptakan ruang dan wadah bagi kader untuk mentransformasikan pemikiran dan tindakannya.

Munculnya keharusan elit-elit struktural HMI Cabang Yogyakarata untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kader untuk mereformasi dan membuka diri terhadap pluralisme wacana dan gagasan, yang muncul dari dinamika perkaderan yang ada. Kenyataaan sekarang di HMI Cabang Yogyakarta sangat jarang dan sedikit sekali ruang-ruang diskusi bagi kader. Sehingga terlampau banyak kader yang tidak memperoleh hak-hak perkaderan.

Apa itu hak-hak perkaderan? Yaitu suatu perkaderan dengan wacana dan gagasan yang mendorong tindakan-tindakan emansipatif demi percerdasan, humanisasi, dan komitmen yang besar atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Jika amanat perkaderan masih terus jaga oleh pengurus HMI Cabang Yogyakarta, hendaknya meletakan tatanan dasar bagi kader demi kepentingan pengembangan intelektuilitas dan dinamika wacana perkaderan HMI.

Proses perkaderan  progresif  yang tidak terpisahkan dari moralitas dan problem social. Sesungguhnya agenda-agenda perubahan perkaderan, sejak semula menanamkan mindset kritis terhadap patologi sosial yang ada, dan hal itu tentu membutuhkan wadah atau tempat yang memungkinkan kader untuk berwacana (forum diskusi), dengan tujuan agar terjadi pluralisme wacana dan terbukanya dinamika pemikiran dialektis bagi perkaderan. Besar harapan, tinggi keinginan dan keras kemauan untuk bertumbuhnya ruang-ruang perkaderan di HMI Cabang Yogyakarta yang bersifat teleologis.

Problem perkaderan HMI sangat banyak dan terlampau terjal untuk dilewati serta dilalui, namun bukan alasan bagi kader HMI untuk untuk lari dan menjauh dari dinamika perkaderan tersbut. Menjadi kebahagiaan tersendiri bagi penulis, apabila tulisan ini dijadikan bahan-bahan referensi untuk mengurai problem perkaderan. Sekian.

MAXIM GORKY MUDA
Kader Kaleng-kaleng HMI Cabang Yogyakarta


Previous Post
Next Post

post written by:

2 komentar:

  1. Terima kasih atas kritik dan sarannya. Tetap setia menjadi penikmat Sinergia. Salam "Ringan dan Kritis"

    BalasHapus