Rabu, 26 Desember 2018

Turbulensi Perkaderan HMI Cabang Yogyakarta


Tampak Kantor HMI Cabang Yogyakarta (Gedung Pusat Kebudayaan Lafran Pane) yang jarang ditempati (Foto: Doc. Sinergia)
Organisasi mahasiswa diyakini sebagi tempat penggemblengan dan penumbuhan kesadaran kritis angkatan muda. Bagaimana tidak, fakta historis dimasa lalu telah memperlihatkan kepada kita semua, ketika ketidakadilan sosial muncul, eksploitasi rakyat terjadi dan kekerasan srtuktural mulai terasa, generasi muda Indonesia yang memelopori suatu gerakan perubahan. Kondisi Indonesia pra kemerdekaan saat masih dalam genggaman kolonialisme, segera bermunculan kaum muda berjiwa satria, yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia bung Karno, bung Hatta, Tan Malaka, Semaoen, Syahrir dan terlampau banyak golongan muda yang saat itu siap mengembalikan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa berdaulat Arbi Sanit menyebut mahasiswa sejatinya adalah panglima, konteks itu diambil saat rezim tirani berkuasa kembali di Indonesia. Gologan muda menjadi bintang lapangan sesungguhnya, diandaikan Arbi Sanit tanpa pergerakan dan aksi mahasiswa, soeharto mungkin masih berkuasa, saat itu kelompok oposisi yang ada, Gus Dur, Megawati, Amien Rais serta yang lainnya, tidak cukup kuat untuk menumbangkan Soeharto tanpa keterlibatan mahasiswa.

Namun peran organisasi mahasiswa saat ini kurang nyata dan tidak terlihat lagi fungsinya dalam masyarakat, dari kesan tersebut mahasiswa sebagai Agent of Change seakan hanya menjadi mitos dalam setiap benak masyarakat. Salah satu organsasi mahasiswa yang cukup tua dan melalang buana dalam panggung kesadaran bangsa Indonesia adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Yang akan penulis soroti adalah, salah satu cabang HMI, yaitu HMI Cabang Yogyakarta. Kenapa harus HMI Cabang Yogyakarta? karena HMI Cabang Yogyakarta punya nilai historis yang cukup penting, bukan bermaksud melakukan sakralisasi, penulis berkeyakinan setiap cabang pasti punya pemaknaan historis masing-masing. Akan tetapi historitas nilai HMI Cabang Yogyakarta bisa kita temukan dalam buku-buku sejarah HMI, mulai dari sejarah terbentuknya HMI di Yogyakarta, bahkan banyak tokoh-tokoh besar HMI yang muncul dari Yogyakarta.

Regenerasi estafeta kepemimpinan HMI Cabang Yogyakarta terus berlanjut hingga hari ini  dan sekarang dinakhkodai oleh saudari Elfi Suharni. Sejak dilantik pada pertengahan Agustus, tepatnya 19 Agustus 2017 tahun lalu. Hampir tidak ada agenda perkaderan yang mampu membangkitkan kesadaran kritis kader, agenda yang adapun hanya sekedar banalitas-formalitas semu tanpa esensi, mulai dari agenda diskusi yang hanya untuk laporan seadaanya  saja, agenda LKK yang amburadul hingga konfercab yang tidak kunjung selesai (in-konstisional). Saudari Elfi hampir dalam setiap sambutan Latihan kader (LK) I Komisariat, selalu mengibaratkan HMI umpama rumah atau bangunan, megah, elok dan bagus, namun rusaknya bangunan akan ditentukan oleh kader yang menempati bangunan tersebut. Andaikan tulisan ini dibaca oleh saudari Elfi, penulis ingin mengutarakan bahwa rumah HMI Cabang Yogyakarta sudah lama reok, pondasinya rapuh, halamanya kotor, dinding  keropos, tangganya lapuk, dan ruangannya berbau busuk.

Rumah HMI Cabang Yogyakarta kurang pantas, cocok dan indah lagi bagi kader untuk menggemblengkan diri, karena memunculkan kesadaran kritis kader ternyata sangat memerlukan suasana serta lingkungan yang dapat mendukung penumbuhan kesadaran kritis tersebut. Setiap kader yang telah berhimpun dalam organisasi HMI sejatinya punya hak dan kewajiban. Hak setiap kader untuk berdinamika serta berproses secara dialektis dalam mewujudakan kualitas insan cita HMI, sangat terlihat jelas HMI Cabang Yogyakarta tanpa adanya suatu keinginan untuk membentuk dan membina perkaderan guna menciptakan cita-cita, harapan, optimisme serta keyakinan yang manusiawi bagi  kader.

Pragmatism dan euphoria kejayaan masa lalu
HMI Cabang Yogyakarta tidak mampu lagi memelopori sebuah gerakan/action pemikiran yang berusaha mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Kondisi ini terjadi dikarena dua persoalan mendasar yang muncul yaitu seiring terjerumus perkaderan HMI Cabang Yogyakarta dalam pola pikir pragmatis, hal ini terjadi karena hilangnya fungsi ideologis HMI, gejala pragmatisme perkaderan cenderung mengutamakan, mengedepankan serta orientasi tujuan semata tanpa pernah memperhatikan nilai, isi dan subtansi perkaderan.

Pragmatism perkaderan terjadi dalam jenjang perkaderan LK 1, LK 2, SC DAN LK 3, tolak ukurnya sederhana, yang dipakai penulis adalah kualitas kader yang telah mengikuti masing-masing jenjang training tidak mengalami perubahan signifikan, harapan sederhana penulis setiap kader setelah mengikuti traning, semakin bertambah dan menguatnya minat baca buku, gandrung akan diskusi serta menulis, tapi fakta menuliskan konteks yang sangat jauh berbeda dari harapan penulis. Sehingga akan semakin jauh dan terjal jalan yang harus dilalui untuk mewujudkan masyarakat adil makmur. Hal yang harus diusahakan Bersama oleh setiap kader untuk lebih  mengedepankan nilai atau subtansi daripada sekedar formalitas-ceremonial.

Selain itu HMI sering terjebak dalam euphoria kejayaan masa lalu. Sejak terbentuknya HMI pada 5 Februari 1947, HMI telah turut mewarnai ruang publik Indonesia pada semua sektor kehidupan, mulai dari ekonomi, politik, sosial dan budaya, kegemilangan dan prestasi telah diciptakan dan diraih oleh kader HMI dimasa lalu, sejarah kejayaan HMI masa lalu sangat bisa dijadikan sebagai motivasi untuk mengulang bahkan melampui sejarah masa lalu. Namun, sejarah kejayaan HMI hanya dijadikan cerita dan pembahas diskusi kader diwarung kopi tanpa adanya keingingan untuk melampauinya.

Terlampaui sering diadakan seminar napak tilas perjuangan HMI, tapi setelah acara selesai seakan tidak ada wujud kesadaran baru yang tertanam dalam pikiran, dan tetap masih mempertahankan pola hidup apatis, kedua hal inilah yang harus kita dobrak, hilangkan dan hapus dari perkaderan HMI Cabang Yogyakarta. Jika pola pragmatism dan kenangan masa lalu masih terus menggejala dan dipakai dalam pola perkaderan HMI Cabang Yogyakarta, tentunya alangkah lebih baik dan lebih utama lagi untuk segera membubarkan dan menghancurkannya saja, karena apabila terus bertahan justru akan semakin merusak dan membahayakan angkatan muda Indonesia. Kader HMI hanya akan kehilangan potensinya untuk mencipta pengetahuan, jangan biarkan pembodohan terjadi di perkaderan HMI.

Optimisme Baru Perkaderan HMI
HMI Cabang Yogyakarta saat masih melaksanakan Konferensi Cabang (Konfercab) dan sebentar lagi akan muncul wajah serta sosok pemimpin baru yang akan mewarisi kebobrokan, kemandekan dan kepongahan periode sebelumnya. Sosok inilah dengan optimisme baru akan mendobrak dan menghamtam kemandekan HMI Cabang Yogyakarta, harapan penulis jika sosok baru ini memang punya keinginan dan ikhtikar baik dalam perkaderan, tentu sangat banyak renovasi yang harus dilakukan, sangat banyak penyakit perkaderan yang perlu diobati, dan sangat banyak hutang perkaderan yang harus dilunasi. Setelah agenda pembersihan besar-besaran tersebut, tentunya rumah HMI Cabang Yogyakarta akan tampak megah, elok dan indah serta sangat nyaman bagi kader untuk membangkitkan kesadaran kritis, menggali potensi diri dan mengembangkan skill kehidupan.

Agenda perubahan HMI Cabang Yogyakarta bukanlah persoalan yang mudah, sebab perubahan tidak bersifat given ataupun a taken for granted tapi menuntut kesungguhan niat dan konsisten penuh terhadap perkaderan. Agar perkaderan berjalan secara dialektis dan dinamis, ada tiga tingkat perubahan yang harus dilaksanakan.

Pertama, perubahan mindset berpikir/psikis, pencapaian yang ingin dituju adalah mengaktifkan kesadaran kritis (Critical Thingking) kesadaran kritis sangat diperlukan kader (basic need) kemampuan menangkap realitas yang timpang dan diskriminasi, serta memformulasikan alternatif-alternatif maupun terobosan terhadap realitas yang timpang tersebut. Tanpa landasan ini, kader tentunya akan terjebak dalam pemiskinan makna hidup dan akan terlampau jauh tujuan HMI.

Kedua, perubahan pada tingkat wacana/diskursus, perubahan pada tingkat wacana ini menunjukkan sikap politik yang sangat jelas, yang telah bertransformasi untuk memikirkan dan merembukkan scenario masa depan perkaderan, Indonesia dan kemanusiaan, untuk itu sangat dibutuhkan wadah serta instrument pembentukan wacana, semisal forum-forum disksusi pro-realitas dan anti-dominasi, dengan harapan muncul gagasan-gagasan segar yang menjawab problem perkaderan dan kemanusiaan.

Ketiga, perubahan pada tingkat sosial, yaitu membuka kembali ruang-ruang publik perkaderan yang sebelum terlalu gelap, elitis dan tertutup, kemudian menyambung jaring-jaring komunikasi yang sebelumnya terputus, mari kita buang jauh-jauh sifat dan sikap permusuhan yang menciptakan krisis perkaderan. Dan mari mulai ruang publik perkaderan yang baru, sehingga setiap kader mampu menjadikan dirinya martir-martir revolusi, pejuang kemanusiaan.
“Pikiran mahasiswa dirawat melalui tiga dunia: dunia pergerakan, dunia pendidikan, dunia pergaulan”
MAXIM GORKY MUDA
Kader kaleng-kaleng HMI Cabang Yogyakarta

Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: