Rabu, 26 Desember 2018

Mau dibawa Kemana HMI Kita?

Ilustrasi: SGT
Bismillaahirrahmaanirrahim

“HMI adalah organisasi mahasiswa Islam yang berpikiran maju dan selalu ikut serta mengambil bagian secara aktif dalam setiap perjuangan bangsa Indnoesia” (Jenderal Pol. Sucipto Yudodiharjo).

Pernah suatu ketika saya mewawancarai salah seorang calon kader yang hendak mengikuti basic training, saya tanya begini “Ngapain masuk HMI?” kemudian jawabnya “biar saya bisa belajar Islam, belajar ngaji dan belajar jadi orang yang bermanfaat untuk masyarakat sekitar”. Ada juga ketika saya tanya, “bagaimana respon orang tuamu ketika tau kamu masuk HMI?” Katanya “orang tuaku sangat senang, malah kiriman uang bulananku ditambah”. Begitulah sedikit bincang-bincang saya dengan beberapa calon kader yang masih “terjaga”.

Dulu, Jenderal Soedirman pernah berucap bahwa HMI adalah Harapan Masyarakat Indonesia. Ini ucapan terkenal. Yang mengucapkan seorang pejuang tersohor lagi. Sangat meyakinkan pendengar dan pembaca bukan? Lalu, Jenderal Ahmad Yani juga pernah mengatakan bahwa beliau tidak pernah meragukan HMI, karena beliau mengetahui bahwa HMI adalah alat perjuangan bangsa yang aktif, konstruktif, dan telah banyak berbuat untuk masyarakat. Sudah tambah yakin? Pasti yakin lah. Beliau juga pejuang loh, bukan kaleng-kaleng.

Itu tadi secara umum. Nah, padahal sejarah HMI di mulai dari Yogyakarta. HMI Cabang Yogyakarta adalah cabang legend. Beberapa tokoh top HMI seperti Prof. Drs. H. Lafran Pane, Bu Maisaroh Hilal, Let. Jend. Akhmad Tirtosudiro dan Drs. Agussalim Sitompul, Prof. Moh. Mahfud MD, Pak Busyro Muqoddas juga pernah berproses di HMI Cabang Yogyakarta. Sungguh suatu kebanggan tersendiri bisa berkuliah di Yogyakarta, masuk HMI dan berproses di HMI Cabang Yogyakarta. Dari sedikit ulasan diatas, bisa dibayangkan betapa bahagianya kader-kader HMI Cabang Yogyakarta. Memiliki alumni-alumni yang hebat. Beberapa juga masih sering nongol di TV. Pasti banggalah. Top!

Namun agaknya, HMI Cabang Yogyakarta yang penuh dengan kenangan indah nan spektakuler sedang terserang hama kembali. Bagaimana tidak, berapa ratus kader yang potensial harus ikut menanggung gangguan gulma yang berasal dari “sana”. Disaat pengurus komisariat kesusahan mengajak mahasiswa untuk mengikuti Basic Training (LK 1).

Setelah itu menggembleng mereka supaya masuk dalam kategori insan citanya HMI. Berusaha dichat WhatsApp untuk memikirkan follow up dan rajin mengikutinya. Konsolidasi internal yang dilakukan pengurus komisariat demi tegaknya proses perkaderan. Memotivasi untuk berangkat Intermediate Training (LK 2) biar tambah intelek, seakan itu semua muspro (sia-sia) karena seniornya ngawur. Senior mana? Senior yang di ”sana”. Ngawur karena telah menunjukkan proses pengkhianat terhadap nilai-nilai ke-HMI-an. Dalam menjalankan roda organisasi sikap dewasa, bijaksana, ngemong (mendidik), mengayomi tidak ditunjukkan. Identitas sejati yang seharusnya dijaga justru seolah diludahi. Mereka tidak ingat, dari mana mereka berangkat.

Bagaimana dulu pusingnya belajar Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP), sejarah, konstitusi, dll? Pertanyaannya, pas begitu, ketika LK 1 dulu ngapain aja lur? Pas masih menjadi dedek-dedek emes orientasi apa yang ada padanya? Apa gunanya yang telah didapat dulu? Diajarkan untuk menjadi pengkhianat? Untuk menjatuhkan kawan? Untuk merusak HMI sendiri? Atau apa? Jangan-jangan seperti yang dicurigai oleh Jend. A. Yani terhadap PKI, merongrong. Kalau mau menjawab tidak, la wong gerak geriknya mengarah kesana. Kenapa bisa merusak? Karena sudah tidak lurus cara berpikirnya. Sudah tidak jernih hatinya; sudah tidak lagi memikirkan kebesaran nama Himpunan Mahasiswa Islam; tujuan Himpunan Mahasiswa Islam. Yang dipikirkan bagaimana hasrat  politiknya bisa terpenuhi, tetapi polah yang ditempuh sungguh bikin geli dan ngilu. Jauh dari nilai-nilai keislaman. Serakah!

Fakta terbaru menunjukkan bahwa konferensi cabang (Konfercab) menghasilkan dua formateur. Bukti upload foto dari masing-masing formateur mulai menyebar. Yang satunya ada foto Ketua Umum Cabang demisioner (A), yang satunya tidak ada (S). Saya bingung, yang bener yang mana? Terus kalau hendak merayakan, yang mana yang dirayakan? Kemudian di instagram HMI Cabang Yogyakarta, juga terposting foto (A). Namun yang beberapa tersebar juga foto (S). Ada HMI, ada MPO masing-masing memiliki susunan sendiri. Lantas yang satunya ini apa dan siapa? Sepele sekali!

Fakta juga menunjukkan undangan konferensi cabang (Konfercab) bernomor 02/A/PAN-PEL/XII/1440. Memang baru dua kali mengeluarkan surat undangan atau bagaimana? Kemudian PAN-PEL ini siapa yang membuat? Sekretaris atau malah staf divisi humas? Terus XII, ini masih bulan Rabiul Akhir lo? (04). Kalau 1440 memang benar demikian. Lalu, kop surat juga aneh. Nah, yang terakhir cap (stempel) panitia pun juga kelupaan. Tapi memang manusia senantisa khilaf. Ini beberapa kerancuan agenda konferensi cabang yang sempat saya diskusikan dengan beberapa kawan. Dibandingkan dengan komisariat, jauh lebih baik komisariat!

Seolah mereka menginjak-injak apa yang telah diajarkan di HMI itu sendiri. Nilai-nilai dasar perjuangan, konstitusi dsb. Lalu, bagaimana situasi dan kondisi perkaderan di kemudian hari? Mau diapakan kader-kader yang telah dijaring oleh komisariat? Apa kemudian yang di “sana” itu ingin menampilkan sikap adigang, adigung, adiguno yang mencerminkan kecacatan qalb. Lalu, bagaimana jika HMI Cabang Yogyakarta dipegang oleh manusia-manusia yang demikian? Saya tidak begitu yakin akan kemajuan HMI Cabang Yogyakarta ke depan.

Refleksi Sejenak
Nak, pergilah. Untuk menggapai citamu. Bapak dan ibu akan selalu mendo’akan kamu”. (Ilustrasi).

Masih ingat ketika dulu dilepas oleh bapak dan ibu datang ke Yogyakarta untuk apa? Saya yakin masih, anak yang dulu berusaha dididik dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dielu-elukan dan diharapkan menjadi orang yang bermanfaat bagi nusa, bangsa dan agama kini sudah jadi mahasiswa. Sudah ada di kawah candradimuka. Namun, bagaimana jika orang-orang tersayang yang dulu ikut melepas kepergian anda untuk pergi ke Yogyakarta sekarang mengetahui jika anda sekarang menjadi orang jahat? Yaa, mahasiswa yang jahat!

Bukan mahasiswa yang ikut membela kepentingan umat, melainkan menuruti hawa nafsu. Sibuk sekali dengan kepentingannya, sehingga lupa dan terlena. Hasrat kekuasaan yang menggebu-gebu itu sudah mematahkan urat malu dan akal sehat. Lupa, akan peran dan fungsinya. Menyebabkan banyak orang tersesat, termenung, bahkan ikut terkena dampak destruksi akibat ambisi jahat yang menggeluti. Ini adalah indikasi bahwa kondisi kader HMI saat ini khususnya Cabang Yogyakarta, masih belum matang dan bahkan belum mapan secara organisatoris.

Jika terus seperti ini, lambat laun HMI akan tersingkir dari dinamika perubahan yang kompleks. Sadarlah bahwa masyarakat terus berkembang dan mengalami perubahan. HMI perlu duta-duta pembaharu yang mampu menyatukan peradaban. Masih banyak persoalan umat dan bangsa yang harus diselesaikan. HMI sangat berpeluang mengambil langkah untuk turut serta membantu menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada dengan gagasan-gagasan cemerlangnya. Itu yang dinanti-nanti. Bukan hanya sekedar berebut struktur. Sungguh indikasi kemrosotan yang nyata!

Oleh karena itu, mari kita refleksi sejenak mengenai HMI kita. Masa depan HMI kini sudah ada di tangan kita. Kita tilik kembali seperti apa dulu para pendahulu berupaya keras menghidupkan HMI ini. Tenaga, pikiran, air mata dan do’a turut mewarnai sejarah perjuangan HMI di Indonesia kita ini. Redamlah hasrat yang destruktif itu demi sehatnya HMI. Kita semua pasti merindukan sosok-sosok muslim sejati, mujahid sejati, problem solver, iron stock, agent of change, agent of social control dan agent-agent yang lain yang lahir dari rahim HMI kita. Kami kader biasa rindu, kejayaan HMI yang pernah ada dulu. Sehingga disayangi seluruh elemen bangsa karena mengedepankan ukhuwah islamiyah, menyatukan umat, membela bangsa dan agama Islam. Semoga HMI tetap tegak berdiri di atas dan untuk semua golongan, guna membangun  peradaban, serta kader HMI senantiasa tercerahkan dan selamat dunia dan akhirat. Aamiin.

Apabila kamu berselisih tentang sesuatu masalah kembalikanlah persoalan itu kepada Allah dan Rasul. Kembalilah kepada petunjuk Al-Qur’an dan hadits untuk mewujudkan persatuan Islam dan kejayaan Islam.

Bahagiakan HMI! Jayakan KOHATI! Hidupkan Mahasiswa!

RAMADHANI AL-GONTORY
Kader Elementer HMI Komisariat Umar Bin Khattab UII Cabang Yogyakarta
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: