Rabu, 14 November 2018

Wajah Suram HMI Korkom UIN Sunan Kalijaga

Pelantikan Pengurus Korkom UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 2017-2018 dibawah Kepemimpinan M. Nanda Fanindy (Foto: Sinergia)
Likulli marhalatin mutaqallabatuha, likulli marhalatin muqtadhayyatuha, wa likulli marhalatin rijaluha” (Setiap masa ada tuntutannya, setiap masa ada konsekuensinya, dan setiap masa ada pelaku sejarahnya). Setiap masa ada pemimpinnya dan setiap pemimpin ada masanya. Barangkali kalimat tersebut yang mampu menjadi pelipur lara bagi setiap nalar kader yang masih waras.

Menyaksikan wajah baru HMI Korkom UIN Sunan Kalijaga yang berbeda pada era sebelumnya. Setelah cerita panjang tentang kebobrokan kepengurusan HMI Cabang Yogyakarta, kini kita harus menelan lebih pahit lagi kemunduran HMI Korkom UIN Sunan Kalijaga.

Hal ini bukan tanpa alasan, dibuktikan dengan minimnya kegiatan-kegiatan inovatif, wacana akademis, terlebih gerakan sosial. Selain itu, HMI Korkom UIN Sunan Kalijaga juga kehilangan wajahnya dalam dinamika persoalan kampus. Entah apa yang membungkam mulut-mulut para pengurusnya, yang sebelumnya selalu meneriakkan perlawanan, perubahan, revolusi, kini lenyap bak ditelan bumi pasca mereka menduduki kursi-kursi kekuasaan.

Wajahnya satu dua kali muncul jikalau ada undangan yang kiranya menguntungkan. Kita tak bisa menutup mata, bahwa sejarah masa depan tidak bisa terlepas dari masa lalu. Harapan sempat tertanam, ketika kepengurusan sebelumnya dibawah pimpinan Saudara Fandi Ahmad. Pada masa itu, HMI Korkom UIN Sunan Kalijaga dinilai cukup progresif dengan banyaknya kegiatan dan gerakan yang masif. Kepribadian dengan kapabilitias yang mumpuni, tentu tak bisa lepas dari ingatan kita. Beliau mampu merawat idealisme untuk menjaga roda kepengurusan dan mengayomi komisariat dibawah kepemimpinannya. Harapan tersebut kini dipaksa pupus.

Pemimpin seharusnya mampu menjadi role mode (Teladan), lebih lekat artinya dengan orang yang berperan sebagai pemberi contoh. Alih-alih menawarkan gagasan baru atau peningkatan kualitas, ketua umum HMI Korkom UIN Sunan Kalijaga saat ini justru sibuk dengan ambisinya.

Setelah wajahnya lama tidak pernah terlihat menghadiri undangan kegiatan komisariat (karena selalu diwakili), justru kita harus menyaksikan wajahnya terpampang dalam dokumentasi pelantikan pengurus Badko HMI Jateng-DIY. Tidak hanya wajah ketuanya, kita juga disuguhkan dengan wajah-wajah pengurus lainnya yang sampai detik ini belum menyelesaikan kepengurusannya.

Belum tuntas dengan sumpah dibawah Al-Qur’an pada tahun lalu, kini mereka sudah berani melaksanakan sumpah kembali tanpa menyelesaikan amanah sebelumnya. Sungguh kenyataan yang ironis, sementara ratusan kader seolah pura-pura memaklumi.
Tanda Merah Pengurus HMI Korkom UIN Sunan Kalijaga yang dilantik menjadi pengurus Badko HMI Jateng-DIY Periode 2018-2020 (Foto: Sinergia)
HMI adalah organisasi mahasiswa yang berisi aktor-aktor intelektual dengan perannya sebagai agen perubahan dan agen kontrol. Namun melihat kenyataan yang ada, kita harus mulai belajar dari realita. Kini banyak mahasiswa kehilangan idealismenya, tak terkecuali oknum-oknum jajaran pengurus HMI yang tak becus memaknai amanah dan tanggung jawab.

HMI juga bukanlah organisasi yang tak memiliki aturan, hanya saja barangkali aturan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan—kepentingan—yang ada. Maka dari itu, sebagai kader yang masih waras, penulis menunggu sikap tegas dari HMI Cabang Yogyakarta pada pengurus-pengurus yang rangkap jabatan dibawah naungannya, termasuk sikapnya atas apa yang terjadi di HMI Korkom UIN Sunan Kalijaga.

Karena apabila dibiarkan, hal tersebut akan menjadi racun yang sedikit demi sedikit menular dan mematikan. Kita tak seharusnya menutup mata, bahwa ini tak sekedar soal tanggung jawab, lebih dari itu—ini tentang moral, etika, dan integritas generasi masa depan.


Al-Syifa binti Abdullah
Kader HMI, aktif di Jurnalis Muda Indonesia


Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: