Minggu, 23 September 2018

DUNGUNYA HMI CABANG YOGYAKARTA DIATAS DUA PENDERITAAN

Aksi kader HMI Cabang Bengkulu di depan kantor DPRD Propinsi Bengkulu yang berujung ricuh (18/09/2018) Foto: Warta Prima


Belakangan situasi nasional mengharuskan kader HMI untuk memberikan solusi terhadap masalah bangsa, ekonomi dan lebih khusus melonjaknya dollar Amerika terhadap rupiah. Aksi tanggap mulai terlihat di berbagai cabang se-Indonesia, namun posisi HMI Cabang Yogyakarta sebagai cabang yang bersejarah perlu dipertanyakan.

Sebab tidak adanya pergerakan ataupun konsolidasi yang dilakukan para pimpinan cabang untuk menanggapi isu besar yang akan berdampak terhadap ekonomi negara saat ini. Malahan Pimpinan Cabang hingga saat ini tidak diketahui dimana jejaknya oleh para kader, apa kader harus membuat pamflet pencarian pimpinan lengkap dengan raut wajah manis dan lugu dengan dituliskan “Dicari Orang Hilang”

HMI Cabang Yogyakarta terlalu sibuk dengan kepentingan struktural dan pengamanan basis massa untuk menghadapi Pleno Cabang seperti yang disinggung dalam Buletin Sinergia yang diterbitkan oleh LAPMI Sinergi Yogyakarta bulan Agustus lalu. Padahal misi HMI yang sering diobrol-obrolkan di setiap forum latihan kader oleh pimipinan HMI untuk membela kaum ploletar, untuk membangun umat dan bangsa. Serasa pimpinan sendiri yang menghianati kampanyenya tentang misi HMI di setiap para kader.

Derita negara adalah derita HMI, maka HMI harus selalu siap atas masalah yang dihadapi negara saat ini, inilah yang menjadi derita pertama yang harus diperjuangkan bersama-sama. HMI Cabang Yogyakarta harus siap menangis berdarah hingga masalah selesai. Pimpinan HMI Cabang Yogyakarta jangan terlalu esklusif dan jangan terlalu sombong dengan sejarah HMI, yang sudah mengawal umat dan bangsa hingga saat ini. Sejarah itu untuk pelajaran HMI yang lebih progresif bukan malah HMI yang semakin mundur.

Ada juga yang menarik, baru saja penulis membaca salah satu tulisan dari Ketua Umum KOHATI Cabang Bengkulu dengan Surat Cinta Untuk Ketua Umum PB HMI, sejenak penulis berfikir, tulisan yang indah ini mudah-mudahan dibaca juga oleh Pimpinan HMI Cabang Yogyakarta, dan bagaimana pimpinan dapat memposisikan dirinya sebagai orang yang dituju dalam surat cinta itu.

HMI yang selalu indah dan berbangga dengan slogan Berteman Lebih Dari Sudara hanya menjadi sebatas slogan pemanis dalam tubuh HMI. Derita, luka, hingga tertembak yang dialami beberapa kader HMI Cabang Se-Indonesia. Mereka sudah melakukan aksi tanggap isu terhadap masalah bangsa terlebih dulu, dan membuat penulis harus kembali mempertanyakan Posisi HMI Cabang Yogyakarta yang kedua kalinya.

Apa masih kurang masalah untuk HMI Cabang Yogyakarta harus turun ke jalan atau pamer di media menanggapi masalah tersebut? Ataukah menunggu HMI dibubarkan baru HMI Cabang Yogyakarta turun ke jalan? Lalu apa gunanya HMI Cabang Yogyakarta untuk umat dan bangsa kalau hanya masalah internal yang terus diurus? Lalu kapan masyarakat dapat menikmati trobosan-trobosan baru HMI, kalau hanya struktural jabatan HMI yang kejar? Semoga pimpinan dapat lebih memaknai slogan Berteman Lebih dari Saudara, dan Sekolah Kepemimpinan yang akan diselenggarakan di Bogor memuat materi tentang pendalaman slogan HMI yang dapat menyadarkan pimpinan HMI Cabang Yogyakarta. Agar pimpinan tahu, HMI tetap Yakin Usaha Sampai dan HMI tetap Saudara, Saudara, Saudara.

NADYA TAMARA LUBIS
Kader HMI Komisariat Ahmad Dahlan Cabang Yogyakarta
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: