Selasa, 25 September 2018

DIATAS LUMPUH, DIBAWAH RUNTUH: AUTOKRITIK GERAKAN HMI UII

Aksi demonstrasi yang sempat menjadi kegiatan rutin bulanan HMI UII (Foto: Doc. Net)
Seorang pemimpin tidak berubah karena tahanan (Soekarno)
Peristiwa rengasdengklok adalah peristiwa yang turut mewarnai perjalanan sejarah bangsa Indonesia sebelum proklamasi kemerdekaan. Golongan tua yang terkesan lambat dalam proyeksi kemerdekaan mengalami desakan oleh golongan muda yang ingin secepatnya melaksanakan proklamasi kemerdekaan. Golongan muda menculik Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Namun manuver yang dilakukan oleh golongan muda itu membuahkan hasil yang dapat kita rasakan hingga hari ini.

Bicara organisasi berarti bicara orang banyak. Dan sebagai kader organisasi, sudah sepantasnya ikut menjaga, menjalankan misi, menjunjung tinggi etika, sopan santun dan moralitas serta tunduk pada aturan main organisasi.  Seorang organisatoris yang perduli dengan situasi dan kondisi organisasinya pasti akan prihatin melihat  kejumudan yang terjadi di dalam tubuh organisasinya. Bagaimana tidak, organisasi yang telah berkontribusi terhadap bangsa, yang telah besar, yang tak diragukan lagi integritasnya kini berada diambang kehancuran di bumi kandungnya.

Banyak sekali krisis yang terjadi saat ini khusunya di HMI lingkup UII. Mulai dari krisis identitas, krisis pergerakan, krisis kuantitas serta krisis kualitas yang tengah melanda HMI lingkup UII. Pemimpin cerdas, pemimpin lugas, pemimpin yang mampu menjadi problem solver, pemimpin yang bisa merangkul dan mengajak untuk mengembangkan HMI lingkup UII yang diidam-idamkan oleh kader-kader HMI khusunya lingkup UII, telah menunjukkan kelumpuhannya. Tidak ada semangat yang tercermin, tidak ada ketegasan , tidak ada integritas yang terwujud.

Diawali pelanggaran yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Islam Koodinator Komisariat Universitas Islam Indonesia (HMI KORKOM UII) terhadap  Anggaran Rumah Tangga (ART) HMI tentang struktur kekuasaan, bagian VII pasal 33 ayat 4 membuat kami selaku kader elementer meradang. Pasalnya, sudah sejak bulan April 2018 persoalan pelantikan belum juga usai. Kami sudah melakukan upaya desakan untuk memperjelas masa depan HMI UII. Atas dasar pelanggaran diatas juga kami mempertanyakan kesungguhan dari pihak KORKOM.

HMI yang seharusnya bisa menunjukkan marwah di “kampung halaman”nya, kini justru berada diambang kehancuran karena tidak ada upaya konstruktif yang ditunjukkan oleh pihak KORKOM itu sendiri. Seharusnya KORKOM mampu merangkul, mengajak serta memotivasi adik-adiknya yang berada di komisariat untuk merawat HMI, sungguh-sungguh berproses, membumikan HMI di UII serta turut dalam mewarnai kampus. Karena memang itulah tugas KORKOM yakni menjadi “koordinator”,  yang menghasilkan harmoni sehingga selaras dari atas ke bawah.

Janji-janji yang dilontarkan sewaktu diadakan Musyawarah Komisariat (MUSKOM) XI menjadi indikator bahwa sang pemimpin bersedia dan sanggup dalam upaya mengawal perbaikan dan perubahan. Hingga kini kami masih terus menyoroti hal itu, dan berusaha untuk terus mengawal. Terlepas dari macam-macam persoalan, bukan ranah kami untuk mengulas hal itu, karena amanah sudah diterima maka saat itu juga tugas dan tanggung jawab siap untuk dilaksanakan.

Di akhir ini, kami memohon kepada abang-abang yang berada di KORKOM untuk bijaksana menyikapi hal ini. Majulah dalam pikiran, apalagi dalam tindakan! Sudah saatnya kita berfikir ke depan, untuk organisasi ini, yang lebih baik. Tinggal kita menjalankan sesuai dengan frame founding father kita. Jagalah independensimu wahai abang-abangku yang tercinta dan terhormat.

Kami tidak marah, namun jika pemimpin kami lumpuh, maka tinggal menuggu dan lihatlah himpunan yang didalamnya berisi adik-adikmu akan runtuh.


Kader Elementer HMI Komisariat Umar Bin Khattab UII, Mahasiswa Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta, Peminat Kesunyian.


Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: