Sabtu, 18 Agustus 2018

HMI Dikenal Tapi Tak Dipahami Di Bumi Kandungnya

Prof. Drs. H. Lafran Pane (Pendiri Himpunan Mahasiswa Islam) Ilustrasi: SGT

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengingatkan kembali kepada teman-teman khususnya mahasiswa UII dan kader HMI di UII bahkan di seantero dunia. Dan juga menanggapi statement teman-teman mahasiswa UII khusunya yang mengetahui baik secara langsung maupun tidak atas terjadinya insiden videotron dan baliho kahar.

Izinkan saya sedikit memaparkan apa yang telah terjadi. Telah diketahui bahwa kampus memiliki beberapa fasilitas yang mana menurut saya bertempat di titik-titik vital. Yang menjadi perbincangan hangat saat ini adalah videotron dan baliho kahar. Dalam hal ini yang saya maksud adalah videotron yang berada di depan Apotek UII Farma Jalan Kaliurang Km 14,5 atau berada di gerbang masuk UII. Selanjutnya baliho kahar bertempat di depan auditorium Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir. Sepengetahuan saya 2 titik ini adalah tempat untuk menyebarkan informasi atau juga iklan. 

Kemudian pembuatan koreo bergambar wajah Prof. Drs. H. Lafran Pane. Memang dari hal-hal diatas tidak ada yang salah. Namun yang menjadi masalah adalah adanya organisasi ekstra kampus yang telah memanfaatkan kedua fasilitas ini untuk kepentingannya yang mana; hal ini dinilai oleh beberapa pihak sebagai tindakan yang despotis. Organisasi ekstra kampus itu ialah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) khususnya Koordinator Komisariat (Korkom) Universitas Islam Indonesia atau selanjutnya saya sebut HMI UII. Ya HMI lah yang kini dinilai oleh beberapa lembaga kemahasiswaan sebagai organisasi yang merasa berkuasa. Namun betulkah demikian?.

Sebelumnya mari kita buka kembali sejarah terkait hal ini. Padang, 5 Februari 1922  lahir seorang pemuda bernama Lafran Pane yang besar di lingkungan nasionalis-muslim. Pada tahun 1946 Lafran Pane menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) yang sekarang menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta. Selanjutnya pada tahun 1947 Lafran Pane merasakan kegelisahan melihat kondisi mahasiswa yang sulit untuk diharapkan dalam konteks keislaman dan keindonesiaan, dan juga terutama mahasiswa Islam yang mulai tidak representatif terhadap Islam. Selain itu, mahasiswa pada disaat itu juga mulai terjangkit virus hedonisme. Beberapa latar belakang tadi kemudian yang menjadi pemicu berdirinya HMI  pada 5 Februari 1947 di STI atau sekarang UII. Lafran pane sebagai pemrakarsa dan kemudian dibantu oleh 14 founding father lainnya.

Seiring berjalannya waktu sampai pada masa rezim Soeharto menempuh proses-proses de-ideologi yang bertujuan supaya tidak ada kritik dari masyarakat. Menjelang pemilu pada tahun 1977 pemerintah memutus mata rantai ideologi partai politik terhadap rakyat khususnya masyarakat pedesaan. Kemudian rezim Soeharto juga menyamakan azas semua kekuatan politik di indonesia yakni dikenal dengan istilah azas tunggal pancasila, yang mana ini adalah senjata untuk menghadang kekuatan terutama yang beraspirasikan islam. Menurut rezim orba ini adalah alat untuk menghadapi perpecahan. Begitulah kira-kira situasi yang terjadi dan berdampak pada organisasi-organisasi tanpa terkecuali HMI.

Kemudian pada tahun 1986, dengan alasan menyelamatkan organisasi HMI dari ancaman pembubaran rezim orba, maka HMI terpaksa menerima azas tunggal pancasila; itu melalui kongres ke-16 di Padang, Sumatera Barat. Selanjutnya ada sekelompok aktivis kritis HMI yang menolak pemerintah mengintervensi HMI dengan alasan berjuang mempertahankan azas Islam memaksa organisasi-organisasi menerapkan azas tunggal pancasila tak terkecuali HMI. Mereka menamakan diri sebagai Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) Bahkan mereka sempat berdialog dengan pihak PB HMI namun tidak direspon dengan baik yang berujung pada insiden demonstrasi di depan kantor PB HMI Jalan Diponegoro. Maka sejak itulah HMI terpecah menjadi dua kubu yakni yang menerima dan menolak azas tunggal pancasila. Bahkan eksistensi kedua kubu itu tetap ada hingga sekarang.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa ada 2 HMI yakni HMI dan MPO (yang saat ini HMI MPO). Kemudian saya ingin meluruskan pemahaman yang telah ditangkap oleh sebagian kawan-kawan yang bagi saya ini terkesan mengeneralisir peristiwa. Bahkan akun media sosial kami (@hmiumarbinkhattabuii) juga ikut terkena getahnya akibat generalisasi yang dilakukan beberapa kawan-kawan yang sudah terlanjur membenci HMI.

Sudah seharusnya kawan-kawan yang membenci, menyerang, melontarkan kritik-kritik pedas, kabar-kabar yang tidak akurat sumber informasinya ini melakukan penelusuran terlebih dahulu mengenai profil organisasi yang kawan-kawan maksud tersebut. Karena bagi kami yang tidak menjadi bagian dari organisasi ekstra kampus yang dimaksud tersebut sangat menyesakkan dada dan membuat kami prihatin. Begitulah realita yang terjadi akhir-akhir ini. Dimulai saat kuliah perdana (13/8/2018) hingga sampai detik ini masih hangat dan masih digandrungi.

Terakhir, saya berharap kepada kawan-kawan yang telah menanam kebencian kepada HMI khususnya HMI Komisariat ‘Umar bin Khattab UII, yang telah dicatut media sosialnya oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk bijaksana dan memiliki i’tikad baik kepada kami.


ALFI ABDILLAH RAMADHANI
Mahasiswa Fakultas Ekonomi UII, Peminat Kesunyian, Sekarang sedang mengabdi di Departemen Bidang Perguruan Tinggi dan Kepemudaan (PTKP) HMI Komisariat Umar Bin Khattab UII Cabang Yogyakarta Periode 2017-2018.

Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: