Selasa, 31 Juli 2018

POLITIK GERBONG DAN KRISIS KEPEMIMPINAN HMI CABANG YOGYAKARTA

Pelantikan Pengurus HMI Cabang Yogyakarta Periode 2017-2018 di Taman Budaya Yogyakarta (19/8/2017).

Konstelasi politik HMI Cabang Yogyakarta akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Soal demokrasi, kepemimpinan, wacana akademis, gerakan sosial dan seterusnya-terus menunjukkan penurunan. Tidak lain adalah tugas seorang pemimpin dan strukturalnya sebagai mediator dan stimulus untuk sedikit demi sedikit menyelesaikan soal tersebut.

Soal-soal yang terpampang jelas dimata kita di atas, sengaja dibiarkan berlarut bagai kristal garam hanyut dalam air panas, sehingga apabila manusia meminumnya tak dapat lagi ia membedakan mana air putih dan mana air garam. Sekali tegukan barulah ia merasa yang diminumnya adalah air garam dan rasanya tidak enak.

Tentu beberapa individu sadar soal ini, namun terhenti pikirannya karena merasa tak punya kepentingan dengan soal tersebut. Juga ini menjadi soal tambahan yang mesti kita jawab karena beberapa individu yang demikian lama-lama menjadi penyakit dilingkup organisasi, ia hanya menjawab apabila soal tersebut mendatangkan untung baginya.

Politik Gerbong
Memilih pengurus yang hanya karena hutang suara dan gerbong daripada menyeleksi karena kualitas individu adalah seburuk-buruknya pikiran dari seorang pemimpin. Untuk gaya kepemimpinan yang demikian, penulis sarankan untuk kembali keabad XX atau abad pertengahan sekaligus. Sebab disanalah sikap-sikap feodal dan nepotis berkembang pesat.

Fakta lapangan yang terjadi adalah HMI Cabang Yogyakarta terpecah menjadi beberapa gerbong komisariat dalam sikap politiknya. Ada yang konsisten juga ada yang oportunis. Beberapa komisariat yang oportunis mendapat tempat yang layak dalam struktural cabang hari ini, namun tak pernah menunjukkan hasil kerja yang maksimal apalagi memuaskan. Tidak salah dengan tesis penulis sebelumnya “bahwa sebab mereka diangkat karena atas dasar hutang suara sehingga nurani dan akal sehatnya hilang pada saat itu juga.”

Hutang-piutang suara menjadi landasan utama dalam menyusun struktur cabang. Mereka yang duduk dibidang-bidang yang seksi justru melarikan diri hingga pleno diundur-undur. Sebuah struktur yang nampak seksi dari gerbong yang merasa dirinya produktif namun tak pernah adaptif dan selalu kompromis dengan kedunguan pikirannya.

Perjalanan panjang struktrur kepengurusan periode ini hanya menyisakan beberapa pengurus yang dapat aktif untuk mengawal kepengurusan, tapi juga ada yang kerjaannya hanya mengkritik saudari Elfi Suharni melalui status WhatsApp dan Instagram, kalau ketemu langsung barang mungkin gagap dan gugup atau juga sampai planga plongo.  Artinya, dengan adanya pengurus cabang yang hanya berani mengkritik ketua umumnya via WhatsApp dan Instagram saja, maka saudari Elfi Suharni telah memilih beberapa pengurusnya yang sudah dungu sejak dalam pikiran.

Namun, dinamika tersebut juga tidak saja terjadi pada hari ini, juga pada kepemimpinan Syarifuddin El-Azizy. Akibatnya sebagian besar pengurusnya memilih untuk tidak melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan cabang karena menilai kepemimpinan Aziz hanya dekat dengan pengurus dari gerbongnya sendiri dan tak mau merangkul yang lain. Sehingga tugasnya sebagai seorang pemimpin terhenti pada perihal sebatas pemenuhan ambisi gerbong dan meninggalkan konflik gerbong.

Soal yang paling mengkhawatirkan dari terpilihnya dua pemimpin HMI Cabang Yogyakarta terakhir adalah berdasarkan aklamasi. Penulis menganggap aklamasi merupakan tanda dalam kepengurusan terkait tidak pernah memfungsikan akal sehatnya dengan baik sehingga opini dalam dinamika dan struktural cabang terdengar dangkal dan terlihat sesat.

Bahwa dengan aklamasi, pengurus terkait tidak benar-benar bekerja dengan akalnya sebagai upaya merangsang kader agar terangsang juga menjadi seorang pemimpin. Bahkan jika ditinjau selama beberapa tahun terakhir program-program yang mengasah kepekaan kognisi, sosial dan kepemimpinan kader tak terpikirkan, hingga tak pernah dibahas dalam rapat-rapat elite HMI Cabang Yogyakarta.

Menyegerakan Pleno sekaligus Konferensi Cabang
Nasi yang sudah busuk dalam panci masak sudah tak patut disimpan lagi meski nasi tersebut dari benih beras berkualitas. Artinya ia harus dibuang atau diberikan pada ternak. Konteksnya demikian juga dengan kepengurusan HMI Cabang Yogyakarta. Bulan agustus adalah bulan yang tepat untuk mengganti ketua umum cabang beserta gerbongnya sebab terhitung sejak agustus 2017 mereka memegang kendali dan tak menghasilkan apa-apa.

Pertimbangan yang cukup masuk akal untuk segera melaksanakan pleno sekaligus konferensi cabang, karena kepengurusan sudah terlampau tidak sehat untuk dipertahankan lagi. Kerena keindahan konstitusi yang mengharuskan pleno dalam waktu enam bulan sejak dilantik tidak diindahkan dalam kepengurusan ini. Segera bukakan ruang untuk mengganti kepengurusan cabang agar berjalan damai dan khidmat. Yakinlah, kami sudah cukup bosan dengan diam yang tak bermakna ini.

Penulis sangat mengapresiasi keterbukaan pikiran Ketua Umum Elfi Suharni yang mau membuka dirinya untuk dikritik oleh kader HMI Cabang Yogyakarta dan masih tetap konsisten. Tidak seperti beberapa ketua umum yang meninggalkan organisasi karena menikah dan berkeluarga. Barangkali, konsistensi seperti Elfi Suharni lah yang harus dipelajari oleh ketua umum baik ditingkatan cabang maupun komisariat.

FETHULLAH GULEN
Kader HMI Cabang Yogyakarta, Sekarang aktif sebagai Penggiat Media-Literasi, dan Kritikus Sastra. 

Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: